Tega Adalah Bagian Dari Mendidik

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Hidup selalu dipenuhi dengan dorongan untuk melakukan kebaikan-kebaikan, pun juga keburukan. Dorongan inilah yang kemudian menentukan siapa kita dan bagaimana respons dari lingkungan sekitar. Namun di balik keburukan yang kita lakukan, akankah hal itu menjadi baik?

Dalam beberapa waktu yang lalu, saya beradu mulut dengan saudari saya. Peristiwa yang kami hadapi merupakan hal yang sangat sepele. Namun tidak baginya. Kami beradu mulut. Mempertengkarkan siapa yang akan membunuh.

Pikirku ini adalah hal yang sangat sepele, namun tidak baginya. Saya mengalah, dan membiarkan diri untuk menunaikan tugas dari pertengkaran itu. Saya melihat ekspresi wajah itu, dan ia bahkan tidak melihat ketika sayatan mata pisau yang tajam menembus leher dari ayam betina. Ia memalingkan wajahnya.

Dorongan rasa kesal sekaligus penasaran pun akhirnya membuat saya bertanya. “kira-kira apa si yang membuat dirimu tidak mau menyembelih ayam ini?” “saya tidak tega melihat darah ayam ini” Jawabnya demikian.

Dari peristiwa ini, bisa disimpulkan bahwa setiap manusia punya dorongan untuk menyakiti. Bahkan dorongan ini sangat penting untuk dimiliki. Jika dorongan untuk menyakiti tidak miliki, tentu sebagian dari proses kehidupan manusia akan terganggu keseimbangannya.

Jika di antara kami tidak ada satupun yang tega untuk menyembelih ayam tersebut, tentu lezatnya daging ayam tidak akan dinikmati bukan?

Baca Juga: Teknik Modifikasi Perilaku Ala Parents

Contoh lain bisa dijumpai dalam kehidupan para petani terkait rasa tega yang disalurkan dalam bentuk perilaku. Seorang petani tentu akan membabat habis setiap rumput yang tumbuh di ladangnya.

Jika rumput-rumput ini dibiarkan berkeliaran, maka kelangsungan hidup para petani pun juga mungkin akan terganggu keseimbangannya.

Dalam beberapa kasus ketika melakukan konseling dengan beberapa pasangan. Saya pun menjumpai banyak bentuk perilaku tega.

“saya menyayanginya, namun saya sering merasa sakit hati. Saya sering dimanfaatkan. Saya merasa hubungan kami sudah tidak sehat. Saya mencintainya, dan ia pun sangat mencintai saya. Bahkan ia sangat takut ketika saya meninggalkannya”. Ia sering memohon agar saya tetap bersamanya. Namun, saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami”.

Sama-sama saling mencintai, namun jika dibiarkan untuk terus bertahan, mungkin rasa sakit akan terus menjamur. Dalam keadaan ini, rasa tega untuk memutuskan hubungan perlu untuk dilakukan.

Baca Juga: Struktur Kepribadian Sigmund Freud; Id, Ego Dan Superego

Pada dasarnya, manusia mempunyai insting untuk merusak, yang oleh Freud dinamakan sebagai insting kematian. Dorongan untuk menyakiti ini perlu dimiliki oleh setiap orang.

Tidak hanya kasus penyembelihan ayam, pembabatan rumput dan pemutusan sebuah hubungan yang melibatkan perasaan tega, namun dalam hal mendidik, rasa tega ini perlu disalurkan dalam bentuk perilaku yang situasional.

Dalam beberapa kesempatan, saya menjumpai banyak orang tua yang bahkan sangat mudah disetir oleh anaknya. Tangisan anak seolah menjadi senjata yang sangat ampuh dalam meluluhkan hati mereka.

Setiap kali anak meminta sesuatu dan jika tidak turuti, maka anak akan menunjukkan perilaku menangis. Tangisan ini dilakukan karena anak merasa bahwa dengan menangis, maka segala permintaannya akan dituruti.

Jika pola pengasuhan seperti ini terus dilakukan, anak akan terus menunjukkan perilaku yang sama. Anak-anak meyakini, bahwa menangis adalah senjata yang paling ampuh untuk memenuhi segala keinginannya.

Hal ini tentu akan mematikan kreativitas anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dimiliki. Termasuk dalam usahanya untuk memenuhi segala keinginannya, karena menangis adalah satu-satunya cara yang dimiliki dan yakini keampuhannya.

Baca Juga: Diam Dan Dengarkan; Dahsyatnya Pemahaman Dan Penerimaan Dalam Berkomunikasi

Lewat insting kematian seperti yang diungkapkan oleh Freud, masing-masing kita perlu tega dalam situasi-situasi tertentu yang orientasinya adalah mendidik.

Orang tua terkadang perlu tega untuk tidak memenuhi segala keinginan anak-anaknya. Ketegaan yang dilakukan tentu bermuara pada pembentukan karakter. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang komunikatif, reflektif dan kritis dalam menyalurkan segala keinginannya.

Orang tua yang yang sering memberikan kemudahan dan kenikmatan pada anak, akan menciptakan generasi yang  buta dalam melakukan usaha untuk memenuhi segala keinginannya.

Anak-anak perlu belajar, bahwa tidak semua keinginannya harus dipenuhi. Anak-anak perlu belajar, bahwa tangisan tidak akan selalu membuat keinginannya terpenuhi. Anak-anak perlu belajar, bahwa rasa sakit sangat penting untuk dirasakan.

Prof. Rhenald Kasali juga mengatakan bahwa “Sebelum rasa sakit melebihi rasa takut yang kita miliki, maka kita tidak akan pernah berubah” Oleh karena itu, masing-masing kita perlu diperlakukan dengan tega dan mengalami rasa sakit itu sendiri. Karena rasa sakit adalah bagian dari komposisi semesta yang menjadikannya.

Foto: cewekbanget.grid.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of