Struktur Kepribadian Sigmund Freud; Id, Ego dan Superego

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Ada begitu banyak konsep kepribadian yang bertebaran dalam laman media online maupun dalam buku-buku literasi, seperti kepribadian introvert, ekstrovert, ambivert, melankolis, plegmatis, sanguinis, dan lain sebagainya.

Bahkan ada juga yang menganalisis kepribadiannya menggunakan zodiak-zodiak tertentu. Lebih sialnya lagi, zodiak-zodiak ini bahkan dihubung-hubungkan dengan pasangan atau jodoh maupun pekerjaan tertentu.

Begitu banyak cara yang dilakukan masing-masing orang untuk dapat mengetahui kecenderungan kepribadiannya. Tidak tanggung-tanggung, banyak yang bahkan mengikuti tes di lembaga biro psikolog.

Baca Juga: Tidak Hanya Bela Diri Fisik, Ternyata Ada Juga Bela Diri Psikis

Akan tetapi, siapa kita dan mau menjadi seperti apa, tentu hanya kitalah yang benar-benar memahaminya. Penilaian-penilaian lingkungan sekitar hanyalah stimulus untuk membantu kita dalam memahami diri lebih dalam.

Penilaian itu membantu, namun tidak mengambil seluruh kapasitas atau peran kita sebagai subjek pengerti atas diri kita sendiri. Tulisan ini akan membahas kepribadian berdasarkan kacamata Freudian, yang merupakan seorang tokoh psikoanalisa.

Berdasarkan pandangan psikoanalisis Freudian, struktur kepribadian kita terdiri dari tiga bagian, yakni Id, Ego dan Superego. Artinya, secara mental kita selalu dibentuk oleh tiga struktur tersebut.

Id

Id merupakan aspek biologis dalam diri. Id berisi instink, nafsu ataupun gairah seks. Segala macam “keinginan” merupakan bagian dari Id. Keinginan apapun itu yang mengarahkan kita pada rasa senang ataupun kenikmatan.

Orang dengan maunya sendiri dalam melakukan sesuatu tanpa memikirkan orang lain, biasanya dipengaruhi oleh Id. Sikap bodoh amat, yang penting senang dalam melakukan sesuatu biasanya didorong oleh Id.

Id biasanya tidak rasional, yang penting apa yang dilakukan membawa perasaan senang. Mengkonsumsi miras sampai mabuk-mabukkan tanpa memikirkan kesehatan merupakan kerja dari Id. Apapun yang dilakukan, asalkan happy.

Baca Juga: Pengelolaan Sampah Psikis

Keinginan nongkrong di cafe sampai larut malam dan mengabaikan tanggung jawab pribadi juga merupakan kerja dari Id. Yang penting happy. Bodoh amat dengan tugas-tugas yang di rumah, sekolah ataupun di tempat kerja.

Keinginan bermain game sampai larut malam dan mengabaikan segala macam kewajiban merupakan cara kerja dari Id. Yang penting happy. Yang penting saya senang. Bodoh amat dengan urusan-urusan yang lain.

Id ini penting dimiliki setiap orang. Karena Id merupakan sumber energi dasar. Id-lah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan sebuah tindakan. Tanpa adanya Id, manusia hanyalah tubuh yang mendiami suatu tempat tanpa adanya pergerakan, layaknya patung yang bernyawa. Namun, Id membutuhkan struktur kepribadian yang kedua yakni Ego untuk dapat disalurkan dengan tepat. Ego inilah yang berperan untuk mengelolah segala keinginan Id.

Ego

Ego merupakan aspek psikologis. Ego Ini bekerja berdasarkan prinsip realita atau rasional.

Ego merupakan penentu atau pengambil sebuah keputusan berdasarkan pertimbangan yang logis.

Membatasi diri bermain game agar tidak larut dalam kesenangan merupakan kerja dari Ego.

“Saya harus berhenti dulu bermain game, karena kalau tidak, tugas-tugas saya bisa terbengkalai”.

Membatasi diri untuk nongkrong di cafe agar tidak larut dalam kesenangan merupakan kerja dari Ego.

“Saya harus pulang lebih awal ketika nongkrong di cafe, karena ada tanggung jawab lain yang harus diselesaikan”.

Baca Juga: Diskusi Itu Asik Kalau Kita Rendah Hati

Membatasi diri untuk berhenti mengkonsumsi miras agar tidak larut dalam kesenangan merupakan kerja dari Ego.

“Saya harus berhenti mengkonsumsi miras sebelum mabuk, karena setelah ini saya akan mengendarai mobil”.

Ungkapan-ungkapan di atas merupakan contoh cara kerja dari Ego, yakni adanya pertimbangan-pertimbangan realistis tertentu yang diutamakan.

Akan tetapi, keputusan untuk tetap di cafe, tetap bermain game bersama teman-teman, tetap memilih mengkonsumsi miras terkadang dilakukan hanya karena ingin memenuhi hasrat orang lain.

Ingin pulang lebih awal ketika berada di cafe, namun merasa tidak tega dengan teman-teman. Ingin berhenti bermain game, akan tetapi merasa tidak tega dengan teman-teman.

Ingin berhenti mengkonsumsi miras, akan tetapi tidak enakan atau tidak tega dengan orang-orang yang sudah menyiapkannya. Hal ini merupakan cara kerja dari struktur kepribadian ketiga yakni superego.

Baca Juga: Menulis Menjadikanmu Abadi

Superego

Superego merupakan aspek sosiologis. Bekerja berdasarkan prinsip moralitas. Berisi benar dan salah, pantas dan tidak pantas berdasarkan nilai atau aturan moral yang ada di masyarakat. Biasanya akan selalu ada perasaan puas atau bangga ketika melakukan sesuatu berdasarkan aturan yang ada di masyarakat.

Begitupun sebaliknya. Akan ada perasaan bersalah atau rasa tidak enak hati ketika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan aturan yang di masyarakat. Dalam superego, akan selalu ada orang lain yang dipikirkan atau diutamakan.

Mengiyakan makan ketika ditawari makan, padahal perut sudah terisi penuh merupakan cara kerja dari superego. Ada perasaan tidak tega, ataupun perasaan tidak enak hati jika menolak makanan yang sudah ditawari. Secara moral, keputusan ini benar, yakni adanya nilai menghargai satu dengan yang lain, akan tetapi tindakan ini kurang realistis.

Rasanya sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan mengkonsumsi miras, akan tetapi memilih untuk tetap minum disebabkan  karena merasa tidak enak hati dengan orang-orang yang sudah menyiapkannya. Ada nila menghargai yang dihidupkan, akan tetapi tindakan ini  kurang realistis dan malah merugikan diri sendiri.

Sedang dalam keadaan sakit, akan tetapi ketika dimintai tolong, kemudian memilih untuk membantu. Ini merupakan cara kerja dari superego. Akan selalu ada orang lain yang diutamakan. Fokusnya kepada sesuatu di luar diri.

Memilih beramal dengan semua uang yang dimiliki itu baik. Ada kepuasan yang didapat secara psikis. Akan tetapi, orang juga butuh realistis. Masa iya, semua yang dimiliki ingin disumbangkan, nanti mau makan dari mana?

Peran Ego perlu diaktifkan sehingga diri sendiri tidak dirugikan. Orang yang kecenderungan kepribadian  didorong supergo biasanya ditandai dengan rasa tidak enakan atau tidak tega. Akan selalu ada orang lain yang dipikirkan atau diutamakan.

Baca Juga: Diam Dan Dengarkan; Dahsyatnya Pemahaman Dan Penerimaan Dalam Berkomunikasi

Dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga struktur kepribadian di atas akan mengalami tegangan atau pertentangan. Akan selalu ada pergolakan batin yang muncul.

Terkadang Id-lah yang memenangkan pertarungan tersebut. Orang menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar, yang penting keinginannya terpenuhi dan ada perasaan senang atau kenikmatan yang muncul.

Terkadang Superego yang menang. Orang lebih memilih untuk mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri. Hal ini terjadi karena masing-masing ingin terlihat baik di mata orang lain atau tidak ingin dipandang buruk oleh lingkungan.

Di samping itu, terkadang ego-lah yang memenangkan pertarungan dengan didasari keputusan yang logis. Sehingga diri tidak dirugikan.

Terlalu mengedepankan Id juga akan menjadikan kita sebagai pribadi yang acuh tak acuh. Terlalu mengutamakan ego juga akan memberikan kesan egois, dan terlalu mengutamakan superego juga kadang akan membawa pengaruh kurang baik bagi diri sendiri.

Orang akan selalu menggunakan banyak topeng hanya karena ingin menyenangkan orang lain, hingga kemudian menjadikan orang menyangkal dirinya sendiri karena kelekatan superego yang begitu kuat.

Ketiga struktur ini perlu berjalan seimbang dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada.

Oleh karena itu, coba dicek baik-baik. Kira-kira kecederungan kepribadian masing-masing kita lebih mengarah ke mana? Apakah Id, Ego ataupun Superego?

Foto: ilhamkons.wordpress.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of