Apa Kabar Implementasi Pembelajaran Mendalam: Antara Teori dan Praktik di Lapangan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjadikan Pembelajaran Mendalam menjadi salah satu solusi strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia sejalan dengan penerapan lanjutan Kurikulum Merdeka. 

Secara teori pendekatan ini menuntut siswa memahami konsep yang dipelajari secara utuh, melakukan analisis, berpikir kritis, serta menerapkannya dalam kehidupan nyata dan bukan hanya sekedar menghafal demi memperoleh nilai ujian yang baik di akhir pelajaran. 

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong implementasi pendekatan ini karena berdasarkan hasil PISA 2022, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai kompetensi minimum. Ini menandakan perlu dilakukan pergeseran dari praktik belajar ‘tradisional’ ke arah pembelajaran yang lebih bermakna. 

Namun apakah yang tertulis secara kebijakan dan teori yang dipelajari dalam rangka implementasi pendekatan Pembelajaran Mendalam dapat berjalan mulus di lapangan? Kami mencoba melacak praktik implementasi pendekatan ini di lapangan dalam beberapa praktik baik dan melaporkan dalam tulisan ini. 

Makna Pembelajaran Mendalam

Secara konseptual Pembelajaran Mendalam memiliki tiga pilar utama; berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan. Prosesnya meliputi memahami, menganalisis, mengevaluasi, mengaplikasikan hingga menciptakan sesuatu yang baru. 

Tujuannya, melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, mandiri, kolaboratif, serta siap menghadapi tantangan masa depan. Dalam panduan resmi Kemendikdasmen, ditegaskan bahwa pendekatan ini selaras dengan Profil Pelajar Pancasila dan keterampilan abad ke 21. 

Praktik baik sudah dimulai di berbagai sekolah

Dari data yang kami himpun, praktik baik sudah mulai dilakukan di banyak sekolah dan sudah menunjukkan kemajuan nyata ke arah capaian tujuan, seperti terpantau di beberapa sekolah berikut:

  • SMPN 5 Bandung

Di sekolah ini siswa membuat proyek e-book budaya Indonesia dan belajar menggunakan media interaktif, melatih kolaborasi antar siswa, serta pemecahan masalah. Proyek ini merupakan salah satu proyek yang pamerannya dikunjungi oleh wakil menteri  pendidikan. Kita berharap penerapan Pembelajaran Mendalam terjadi di banyak kelas di sekolah ini. 

  • SD Negeri Kalibening

Praktik baik di sekolah ini didahului dengan pelatihan untuk membantu guru memahami konsep dan praktik Pembelajaran Mendalam terlebih dahulu, karena banyak guru mengalami kesulitan dalam memahami konsep dan praktik Pembelajaran Mendalam. 

Baca juga : Perjuangan Manusia Sesungguhnya Adalah Perjuangan Mengalahkan Diri Sendiri

Lepas dari pelatihan tersebut, guru-guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek sederhana tanpa alat-alat yang mahal. Mereka cukup memanfaatkan benda-benda di sekitar mereka. Respon siswa terhadap proyek tersebut sangat antusias dan menyenangkan. 

  • SMA Masehi 2 PSAK

Di sekolah ini para guru merancang proyek lintas bidang studi yang melibatkan mata pelajaran seni, bahasa, dan ekonomi dalam satu kegiatan pentas kolaboratif, dengan hasil yang sangat baik. Ini membuktikan bahwa dalam keterbatasan, pendekatan ini bisa berjalan. 

  • YPKP Sentani Jayapura

Dimulai dengan pelatihan kompetensi guru yang memperkenalkan pendekatan Pembelajaran Mendalam. Pelatihan tersebut didorong oleh kenyataan bahwa siswa di sekolah tersebut, berdasarkan tes PISA 2022 siswa di sekolah ini kemampuan berpikir tingkat tingginya sangat rendah. 

Pelatihan tersebut mampu meningkatkan kompetensi guru hingga 89,13 persen. Itu terpantau dari dampak pengajaran guru di kelas. Pasca pelatihan, guru-guru tersebut lebih mampu menciptakan suasana belajar aktif, relevan, dan anak-anak jadi lebih senang belajar. 

  • SD Santo Carolus Surabaya

Di sekolah ini praktik baik implementasi pembelajaran mendalam terjadi hampir tiap hari. Misalnya belum lama ini melalui pelajaran IPA siswa kelas V melakukan kampanye organ pencernaan sehat. Siswa kelas V melakukan kampanye ke kelas I hingga kelas IV mengenai organ pencernaan sehat. 

Siswa kelas V membuat poster berkelompok, dan mengunjungi kelas I hingga kelas IV dengan membawa poster karya mereka dan melakukan edukasi tentang bagaimana caranya agar memiliki organ pencernaan yang sehat. Para siswa sangat antusias dan senang melakukan kegiatan ini. 

Data ini menunjukkan bahwa sekolah mulai konsisten mengajar dengan pendekatan ini. Selain itu, sekolah yang konsisten menerapkan pendekatan ini, melaporkan bahwa partisipasi dalam proses belajar mengajar naik rata-rata 30-40 persen. Selain itu juga dilaporkan bahwa pemahaman konsep melalui pendekatan ini juga  bertahan lebih lama. 

Namun yang mengkhawatirkan adalah ketika pendekatan ini sudah dikuasai dan sudah diterapkan dalam proses belajar mengajar, kebijakannya malah berubah karena bongkar pasang birokrasi pendidikan karena pergantian Menteri Pendidikan. Ini salah satu penyakit birokrasi yang perlu menjadi perhatian. 

Kesenjangan: teori vs realitas lapangan

Meskipun menunjukkan kemajuan seperti tampak dari praktik baik di atas, namun kesenjangan masih cukup lebar. Sebuah penelitian yang dilakukan di Jember menunjukkan bahwa meskipun 75 persen guru sudah mulai memahami praktik Pembelajaran Mendalam, namun mereka belum menguasai landasan teorinya secara sistematis.  

Baca juga : Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 2026 yang Ramah: Langkah Awal Menuju Sekolah yang Nyaman dan Berkarakter

Misalnya banyak guru masih salah mengartikan Pembelajaran Mendalam identik dengan teknologi dengan Artificial Intelligence (AI). 

Selain masalah pemahaman landasan teori, masalah lain yang harus dipecahkan adalah beban ganda guru. Beban administrasi ganda sering menyita waktu guru untuk merancang pembelajaran yang bermakna yang implementasinya juga membutuhkan waktu banyak pula. 

Masalah berikut yang dapat menimbulkan kesenjangan di lapangan adalah adanya ketimpangan fasilitas. Sekolah di kota pada umumnya lebih siap dibandingkan dengan di daerah 3T yang sering kekurangan listrik, internet, dan alat peraga. 

Memang dalam situasi yang terbatas pun Pembelajaran Mendalam dapat berjalan, namun dengan pengandaian daerah tersebut memiliki guru yang kompeten dan kreatif. 

Masalah berikut adalah sistem penilaian. Hingga kini budaya penilaian berbasis angka akhir membuat guru cenderung kembali ke metode cepat dengan menghafal demi mengejar target nilai ujian bagus. Maka secara keseluruhan sangat diperlukan keselarasan antara teori dan realitas di lapangan. 

Mengapa keselarasan penting? 

Teori memberikan arah, namun keberhasilan sesungguhnya ada pada adaptasi di lapangan oleh guru-guru. Pembelajaran Mendalam tidak membutuhkan biaya mahal, melainkan perubahan pola pikir dari guru sebagai satu-satunya sumber informasi menjadi guru sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan maknanya sendiri. 

Jika kesenjangan-kesenjangan di atas terus dibiarkan, perbaikan mutu pendidikan hanya akan selalu berhenti di atas kertas. Oleh karena itu pemerintah perlu fokus menangani kesenjangan dalam implementasi pendekatan Pembelajaran Mendalam. 

Itulah uraian mengenai implementasi Pembelajaran Mendalam. Meskipun sudah mulai berjalan baik di sejumlah sekolah, namun belum merata dan belum sepenuhnya optimal. Diperlukan dukungan berkelanjutan; pelatihan rutin, penyederhanaan administrasi, pemerataan fasilitas, serta perubahan sistem penilaian yang lebih menghargai proses. 

Dengan sinergi antara teori yang jelas dan praktik yang fleksibel, Pembelajaran Mendalam bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih bermutu dan berkeadilan bagi seluruh anak Indonesia. Dan jangan sampai pendekatan Pembelajaran Mendalam kemudian diganti lagi dengan pendekatan pembelajaran yang lain, karena menterinya diganti. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments