Apa Kata Para Ahli tentang Keputusan Pemerintah Menyelenggarakan Tatap Muka Terbatas?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kementerian Pendidikan terus mendorong sekolah untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, pada tahun ajaran 2021/2022 karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah sangat tidak efektif.

Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbudristek Iwan Syahril, selepas peluncuran Program Guru Belajar dan Berbagi pada Jumat 18 Juni 2021, seperti dikutip medcom.id.

“Tujuan kita adalah mengupayakan kelanjutan pembelajaran anak-anak kita, meskipun masih dalam kondisi yang penuh tantangan dan keterbatasan”, tegas Iwan Syahril.

Ia juga menegaskan, sekolah di daerah-daerah yang sudah mulai melaksanakan PTM terbatas, diharapkan terus melakukannya, karena PTM terbatas memang sudah diperbolehkan, sejak bulan Januari lalu.

Baca Juga : Apa Saja Tantangan Yang Menghadang Direktur Jendral Guru Dan Tenaga Kependidikan Dr. Iwan Syahril, Ph.D?

Sementara itu, pakar Epidemiologi UNAIR, Dr. Windhu Purnomo justru mengatakan hal yang sebaliknya. Menurutnya, kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sebaiknya ditinjau ulang.

Menurut Windhu, peninjauan ulang tersebut diperlukan karena sampai saat ini angka konfirmasi positif covid-19, terus melonjak di berbagai daerah terutama di Jawa dan Sumatra.

Hingga Jumat 18 Juni 2021, konfirmasi kasus positif di Indonesia kembali naik dengan 12.624 kasus harian, sehingga angka kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1,95 juta orang.

Di samping itu, yang sangat menguatirkan adalah temuan kasus baru di Indonesia yang berasal dari varian Delta. Varian ini oleh WHO, dikategorikan sebagai varian yang menguatirkan dan perlu diwaspadai.

Baca Juga : Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman

Mengapa menguatirkan dan perlu diwaspadai? Ini terutama karena virus corona varian Delta, yang berasal dari India ini, lebih mudah menular dan dapat mengelabui sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan juga mencatat bahwa varian ini juga dapat berpengaruh menurunkan efektivitas vaksin Covid-19.

Para Ilmuwan tersebut mencatat bahwa pada kasus pasien terpapar Covid-19, terutama pasien yang sudah divaksin, efektivitas vaksin berkurang 15-20%, jika mereka terpapar Covid-19 varian Delta.

Hal senada disampaikan oleh dr. Aman Pulungan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya, keputusan pemerintah untuk menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas itu menguatirkan.

“Penyelenggaraan tatap muka meskipun terbatas, menguatirkankan karena tingkat positivity rate Indonesia masih berada di kisaran 37%. Ini masih jauh dari angka positivity rate yang dipersyaratkan oleh WHO”, kata dr. Aman Pulungan.

WHO mensyaratkan sebuah negara boleh menyelenggarakan sekolah tatap muka jika positivity rate sudah berada di bawah 5%. Dengan persyaratan ini berarti Indonesia masih jauh dari persyaratan WHO.

Baca Juga : Kabar Dari Sekolah, Catatan Pendidikan Pada Hari Pendidikan Nasional, Tahun 2021

Dokter Aman juga menambahkan bahwa kasus anak usia 1-18 tahun yang terpapar Covid-19 terus bertambah. Dari data kasus positif Covid-19 terakhir yang dilansir oleh pemerintah, tercatat bahwa 1 dari 8 kasus terkonfirmasi positif adalah kasus anak-anak atau 12,5% dari jumlah kasus Covid-19 harian nasional.

Sementara itu, dengan tatap muka berarti anak usia sekolah harus melakukan mobilitas dari rumah ke sekolah. Di antaranya dengan menggunakan kendaraan umum.

Ini berbahaya karena dari data yang ada, anak usia sekolah ternyata tidak memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dari orang dewasa. Angka anak usia sekolah yang terpapar ternyata cukup tinggi.

Mudah-mudahan kondisi ini dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mengambil keputusan terbaik. Keselamatan anak sekolah harusnya menjadi pertimbangan utama terkait keputusan pemerintah menyelenggarakan tatap muka terbatas.

Foto:ayosemarang.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of