Depoedu.com-Pengertian Pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.
Di masa pandemic covid-19 penyampaian pendidikan karakter dalam dunia pendidikan menghadapi tantangan yang cukup membuat khawatir akan terjadinya “Character Lost” pada diri anak didik.
Kebijakan pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilaksanakan secara daring, cukup membuat kalangan pendidik merasa kebingungan bagaimana cara memberikan pendidikan karakter secara daring.
Akankah efektif dan akankah sampai pada tujuan yang diinginkan bersama? Walau terasa sulit, namun tetap harus dicari solusinya untuk pendidikan karakter ini.
Baca Juga : Urgensi Literasi, Numerasi Dan Pendidikan Karakter Dalam Mendidik Siswa
Sudah hampir setahun anak-anak tidak berinteraksi secara tatap muka dengan guru di sekolah. Selama itu pula anak-nak dibimbing orangtuanya dalam proses pembelajaran jarak jauh. Bagaimana karakter anak-anak saat pandemic ini? Membaikkah atau sebaliknya?
Sementara dalam kondisi tidak pandemipun karakter anak belum begitu bagus, terbukti dengan masih adanya tawuran, siswa yang melawan ke guru, dan sebagainya. Jika pendidikan karakter di masa pandemic ini hanya tersentuh ala kadarnya dan cenderung terabaikan, maka dikhawatirkan akan terjadi yang namanya “Character Lost” pada anak.
Sejatinya penggunaan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh memberi manfaat, namun ada juga sisi berbeda yang tidak bisa di gantikan oleh teknologi. Teknologi tidak dapat menyentuh salah satu inti dari pendidikan, yaitu pendidikan karakter.
Ketika pendidikan harus menerapkan pembalajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa? Pada titik ini salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “ Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.”
Mengintegrasikan ajaran beliau dengan tujuan kurikulum 2013, maka setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran. Pertama bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
Baca Juga : Bad Influencers: Antitesis Pendidikan Karakter
Kedua bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak – anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan. Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter peserta didik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.
Pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik itu tidak selalu harus mengandalkan ruang – ruang kelas melalui guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dari orang tua dan orang dewasa yang ada di rumah dan di sekitarnya (community based education).
Pendidikan berbasis karakter akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang sadar diri sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan pria atau wanita. Kesadaran itu dijadikan ukuran martabat dirinya sehingga berpikir obyektif, terbuka, dan kritis.
Juga memiliki harga diri yang tidak mudah memperjualbelikan. Sosok dirinya tampak memiliki integritas, kejujuran, kreativitas, dan perbuatannya menunjukkan produktivitas.
Baca Juga : Pendidikan Karakter: Menumbuhkan Kualitas Positif
Kurangnya pendidikan karakter akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif di masyarakat, misalnya pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pencurian, kekerasan terhadap anak, dan lain sebagainya.
Dari hal ini kita menyadari bahwa pendidikan karakter sangat penting bagi setiap orang. Dengan begitu, maka para guru, dosen, dan orang tua, sudah seharusnya senantiasa menanamkan nilai-nilai karakter yang baik kepada anak dalam berbagai situasi.
Pendidikan karakter merupakan kebutuhan utama bagi bangsa yang ingin maju dan berkembang. Tak terkecuali Negara kita.
Ketika pendidkan harus menerapkan pembelajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, pendidikan karakter tetaplah harus disampaikan kepada peserta didik, karena hal ini dilakukan guna menghindari adanya “character lost” pada diri peserta didik.
Sebagai solusi pendidikan karakter di masa pandemic ini, dapat dilakukan dengan kerjasama yang baik dengan sekolah, guru dan orang tua. Jika berjalan baik generasi muda akan bertumbuh menjadi pribadi yang bermutu.
Foto:beritamagelang.id

[…] Baca Juga: Tantangan Pendidikan Karakter Di Masa Pandemic Covid-19 […]