Kesabaran itu  Ilusi yang Membungkus Perasaan Negatif

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com– Selasa 02 Februari 2021, untuk kesekian kalinya dalam memulai sebuah tulisan. Saya selalu memulainya dengan berbagai pertanyaan. Bagi yang acap kali membaca tulisan yang saya bagikan, tentu tidak asing dengan majas yang saya sajikan, yakni pertanyaan seputar realita kehidupan.

Pernahkah Anda bertemu dengan orang-orang yang cenderung diam? Sulit terlihat ekspresif dalam menyalurkan emosi atau perasaan yang dimilikinya. Marah pun bahkan tidak pernah terlihat dari raut wajah.

Sedih, kecewa, benci, iri hati dan perasaan negatif lainnya melebur menjadi satu, yang dibungkus dalam raut wajah yang polos, alias baik-baik saja. Bahkan sesekali terkesan misterius.

Hingga akhirnya kita pun bertanya-tanya. Apakah orang tersebut tidak bisa marah? Apakah hatinya seluas itu? Apakah ia tidak mengenal kecewa dan bahkan sakit hati? Ia terlihat begitu sabar ketika dihantam badai kehidupan dan berbagai  masalah yang kian beranak pinang.

Dari  berbagai pertanyaan tersebut, lahirlah statement sebagai bentuk dari konfrontasi. “Eh, biasanya orang yang paling sabar itu kalau sekali marah serem lo, bisa meledak-ledak dan bahkan terlihat sangat mengerikan”.

Baca juga: Mengubah Perasaan Negatif Dengan Overthinking

Kita pun mungkin menemui keadaan, yang mana orang yang kita anggap paling sabar, akhirnya bisa meluapkan kemarahannya. Betul, sangat mengerikan dan bahkan untuk mengingatnya kembali saja, trauma itu seakan muncul kembali.

Hingga lahirlah pertanyaan-pertanyaan. “Ko bisa ya dia marah seperti itu? Padahal dia terkenal sebagai seorang yang sangat sabar.”

Kembali dalam tulisan ini saya mau menegaskan bahwa, sebagai manusia normal, tentu kita akan mengalami berbagai dinamika perasaan. Baik itu perasaan positif maupun negatif, yakni marah.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa tidak ada orang yang tidak bisa merasakan marah. Semua tentu pernah merasakan sebuah perasaan yang dinamai dengan marah.  Ini menjadi jelas  penyadang predikat sebagai manusia normal.

Lantas mengapa orang yang terlihat sangat sabar dalam situasi tertentu bisa sebegitu ekspresif? Melampiaskan perasaan marah dengan intonasi suara yang tinggi, sorot mata yang tajam, dan bahkan ada yang sampai membanting barang.

Perilaku semacam ini sebabkan karena adanya represi. Represi adalah proses menekan atau menyembunyikan perasaan-perasaan negatif ke dalam alam bawa sadar. Orang-orang yang ketika marah dan memilih diam, sesungguhnya ia sedang menekan rasa marah ke dalam alam bawah sadar.

Baca juga: Sisi Gelap Dan Topeng Yang Membalutinya; Maka Buka Dulu Topengmu

Rasa marah yang kemudian disebabkan dari berbagai kejadian yang berbeda, berulang-ulang terjadi, dan terus disembunyikan dalam bentuk diam atau  terlihat baik-baik saja, akan masuk ke dalam alam bawah sadar.

Rasa marah tersebut akan terakumulasi menjadi energi di alam bawah sadar. Ia akan tertumpuk-tumpuk dan ketika mengalami kepenuhan, ia akan tumpah ruah ke dalam bentuk perilaku.

Sehingga janganlah kaget, bahwa sesabar apapun seseorang, iya pasti pernah marah dan dalam situasi tertentu rasa marah itu akan dilampiaskan dalam bentuk perilaku yang kurang adaptif.

Lalu sebaiknya seperti apa agar rasa marah itu tidak bisa masuk dalam alam bawah sadar, yang tertumpuk-tumpuk dan kemudian meluap. Tentu solusinya adalah antonim dari kata menyebabkannya.

Rasa marah tersebut masuk ke dalam alam bawah sadar karena kita berusaha untuk diam. Oleh karena itu, perasaan itu perlu dikomunikasikan. Perlu diungkapkan. Entah itu dengan orang yang menstimulus perasaan tersebut atau dengan siapapun.

Baca juga: Seni Mencintai Diri Di Tengah Pandemi Covid-19

Jika mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan negatif terhadap orang lain, bisa dilakukan dengan berbicara terhadap diri sendiri, dan dalam keadaan ini bisa lakukan sambil direkam melalui  gawai pribadi. Ini merupakan teknik dalam proses healing self, yakni self talk.

Oleh karena itu, kesabaran itu hanyalah ilusi. Ia hanyalah topeng yang membungkus perasaan negatif. Sesungguhnya tidak ada orang yang tidak pernah merasakan marah. Jikalauh iya seseorang terlihat sangat sabar, sesungguhnya rasa sabar itu hanyalah ilusi yang membungkus perasaan-perasaan itu.

Maka, komunikasikanlah perasaan itu. Bahkan sesekali kita perlu menunjukkan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena terlihat lemah, tapi setidaknya kita sudah berusaha jujur dengan diri sendiri dan itu yang akan menjadikan kita semakin kuat.

Sumber foto: telagawera-banjarnegara.desa.id

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
2 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
MonFebby Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Febby
Guest
Febby

Menurut saya, knapa orang yang terlihat “tidak pernah marah” akan terlihat menyeramkan ketika marah bisa jadi karna Kita sebagai “lawan” memiliki sugesti bahwa orang itu tidak berbahaya, jadi Kita gak pnya self defense sma org tsb.
Ktika kta menghadapi orang yg sering “marah” sama Kita, lama2 akan timbul “antibodi” yg bkin kebal sma marahnya org tsb. Sedangkan ktika kita kena marah pertama kli oleh orang yg jrng marah maka akan timbul shock untuk kita. Pdahal mungkin klo secara skala tingkat “kemarahan” akan sama saja dngan orang yang sering marah, tapi itu menjadi 100x lipat lbih menyeramkan krna kta blom terbiasa

Mon
Guest
Mon

Yaa, mungkin ini juga berkaitan dengan teori persepsi. Semakin sering seseorang hidup dalam lingkungan itu, maka ia akan merasa biasa2 saja. Akan tetapi semakin tidak sering orang mengalami atau melihat sebuah peristiwa, maka orang itu akan mengalami intensitas perasaan yg sangat berbeda. Sebagai contoh, orang yang hidup di bawah kolong jembatan asalnya mungkin akan merasa kurang nyaman, akan tetapi ketika peristiwa ini sering terjadi. Lama kalamaan hidup di bawah kolong jembatan akan menjadi sesuatu yg biasa-biasa saja.

Febby
Guest
Febby

Agree 👍