Urgensi Outdoor Learning dalam Pembelajaran Tatap Muka

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Pada kondisi pandemi Covid-19, tujuan pembelajaran perlu disesuaikan dan diarahkan agar dapat membangun budaya kritis siswa dalam merencanakan dan merancang masa depan menghadapi dunia yang penuh dengan ketidakpastian

Pembelajaran Jarak Jauh yang telah berjalan, memunculkan dampak negatif seperti terjadinya learning loss, tekanan psikososial, kekerasan yang tidak terdeteksi oleh sekolah, serta menurunnya kedisiplinan dan minat belajar siswa.

Selain itu, dengan masih rendahnnya kemandirian siswa memungkinkan siswa terdistraksi untuk bermain game dan melakukan aktivitas lain pada saat berlangsungnya pembelajaran daring.

Sekolah perlu menyusun strategi pembelajaran untuk menjawab permasalahan yang muncul akibat dampak dari pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh, memberi ruang kepada guru untuk menstimulasi abstraksi dan cara berpikir kritis siswa sehingga mampu menyelesaikan segala macam persoalan dalam merancang masa depan.

Sampai saat ini Disdikbud Provinsi Jawa Tengah belum memutuskan  kapan sekolah tatap muka pada semester genap akan dibuka, seperti tertuang dalam Surat Edaran nomor : 443.2/12966 tertanggal 30 Desember 2020.

Oleh karena itu, satuan pendidikan sampai dengan 17 Januari 2021 diminta mengoptimalkan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan sebagai proses pembelajaran yang kaya makna.

Keputusan tersebut akan terus dievaluasi dan diperbaharui sesuai perkembangan status kedaruratan yang diakibatkan oleh penyebaran Covid-19. Penulis mencoba mencerna apa yang dimaksud dengan proses pembelajaran yang kaya makna yang diminta pemerintah dengan memaknai hakikat dari kata belajar itu sendiri.

Baca Juga: Empat Kriteria Bagi Proses Pembelajaran Tatap Muka

Dalam hal ini guru diharapkan dapat menciptakan pengalaman bermakna bagi siswa melalui aktivitas pembelajaran yang dilakukan bersama siswa. Untuk itu, guru perlu terus berinovasi menciptakan ekosistem belajar yang adaptif.

Adaptasi dapat dimulai dari penyusunan struktur kurikulum yang fleksibel meliputi revisi target pencapaian tujuan pembelajaran, penentuan materi esensial sesuai alokasi jam efektif di masa pandemi, karakteristik dan kebermanfaatan dari materi tersebut. Berikutnya pada tahap pelaksanaan  perlunya menggunakan metode pembelajaran yang fleksibel.

Melalui flexible learning memungkinkan siswa dan guru belajar dapat menggunakan multi metode, kadang belajar tatap muka, belajar dari rumah, belajar di luar kelas atau alam, serta bentuk kegiatan pembelajaran lainnya.

Setelah mengemuka terjadinya tekanan psikososial pada siswa, mendorong percepatan beberapa daerah untuk mencoba menggunakan  metode blended learning.

Metode ini merupakan kombinasi pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka dimana jumlah siswa peserta diatur sesuai kondisi sekolah dan protokol kesehatan. Salah satu bentuk dari blended learning diantaranya  flipped classroom.

Flipped classroom merupakan  pembelajaran kombinasi pembelajaran daring dan tatap muka yang menggabungkan pembelajaran sinkron  real time di kelas dengan pembelajaran asinkron saat siswa belajar mandiri di rumah.

Baca Juga: Mengajarkan Siswa Berpikir Kritis

Pada pelaksanaannya flipped classroom dibagi dalam tiga tahap yaitu (1) Pre class : sebelum dilakukan pembelajaran tatap muka di kelas, siswa sudah mempelajari materi pelajaran di rumah. Materi dapat diakses secara daring melalui beberapa bentuk media pada platform digital. Kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa adalah mengingat (remembering) dan mengerti (understanding) materi.

(2) In class :  siswa berinteraksi, berdiskusi langsung dengan guru dan siswa lainnya terkait materi yang belum dikuasai siswa. Kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa yaitu mengaplikasikan (applying) dan menganalisis (analyzing).

(3) Out of class : siswa mengakhiri pembelajaran dengan evaluasi (evaluating) dan mengerjakan tugas yang berbasis project (creating).

Sesuai flexible learning dimana memungkinan guru menggunakan multi metode dalam pembelajaran, untuk mendukung pelaksanaan blended learning  dalam memberi solusi akibat dampak negatif  dari pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh yaitu dengan metode outdoor learning.

Baca Juga: Urgensi Pendidikan Hybrid Learning, Bagi Pembentukan Siswa

Mengapa outdoor learning?

Kita sering mendengar ungkapan every place is a school, maka pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap area dapat menjadi tempat untuk belajar.

Karena kondisi pandemi, outdoor learning yang dimaksud dalam tulisan ini terbatas pada aktivitas pembelajaran  di luar ruang kelas tetapi masih di dalam lingkungan sekolah.

Outdoor learning memberikan alternatif cara pembelajaran membangun makna dengan melibatkan lebih banyak indera (indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman) pada siswa dan memberikan pengalaman lebih berkesan, karena siswa mengalami sendiri tentang materi pelajaran.

Selain itu, outdoor learning mempengaruhi kesuksesan belajar dan kecerdasan siswa, menumbuhkan kesadaran lingkungan, membantu menjaga kesehatan karena siswa dapat menikmati udara segar dan aktif bergerak.

Setelah lebih dari sembilan bulan siswa belajar di dalam ruang, outdoor learning akan dapat melepaskan kepenatan siswa, menghilangkan kejenuhan  siswa dari pembelajaran melalui layar digital dan menumbuhkan minat siswa tertarik pada ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Blended Learning Dalam Masa Pembelajaran Jarak Jauh

Lingkungan sekolah sebagai sumber belajar

Agar pelaksanaan outdoor learning efektif, perlu perencanaan yang baik yaitu 1). Tahap persiapan, meliputi : (a) Identifikasi spot-spot  di dalam lingkungan sekolah yang memenuhi syarat untuk area outdoor learning yaitu aman dari gangguan serangga dan binatang lainnya, bersih, tenang, teduh, dan area cukup untuk sekitar 15 siswa dengan jarak aman sesuai protokol kesehatan.

(b) Secara bertahap sekolah dapat memperbanyak spot-spot outdoor learning yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi sekolah seperti taman sekolah, gasebo, green house, laboratorium alam, aviari, lahan untuk berkebun, didukung pengadaan  alat bantu kegiatan pembelajaran seperti pengeras suara atau properti lainnya.

(c) Sekolah menentukan porsi jumlah jam outdoor learning bagi setiap mata pelajaran dengan mencantumkannya pada jadwal pelajaran.

(d) Guru menyusun lesson plan yang memuat pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dengan konsep fun learning.

(e) Guru mempersiapkan tempat dan media yang digunakan.

2). Tahap pelaksanaan meliputi : (a) Guru mempersilahkan siswa menuju tempat outdoor learning dengan tertib

(b) Guru membuat kesepakatan bersama siswa terkait tata tertib selama outdoor learning berlangsung

Baca Juga: Depoedu.Com Portal Pilihan Untuk Kemajuan Pendidikan

(c) Guru dan siswa terlibat dalam proses pembelajaran interaktif sesuai lesson plan yang telah disusun dan guru melakukan improvisasi sesuai kondisi di lapangan.

(d) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

3). Tahap evaluasi : kesempatan yang diberikan guru kepada siswa untuk memperlihatkan kemajuan belajar siswa. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dari guru dalam pelaksanaan outdoor learning adalah;

(a) Konsentrasi siswa yang mudah terpecah karena banyaknya objek di luar yang menarik perhatian siswa

(b) Guru harus terus berinovasi dan fokus dalam pengelolaan pembelajaran agar tetap kondusif dan kepatuhan siswa terhadap kesepakatan tetap terjaga.

Inovasi harus kita jemput, setiap metode pembelajaran baik saat berdiri sendiri (tunggal)  maupun  saat dikombinasi dengan metode lain (blended),  mempunyai kelebihan dan kelemahan. Langkah kita adalah memaksimalkan apa yang menjadi kelebihan dan meminimalisir apa yang menjadi kelemahannya.

*Penulis adalah Kepala SMA Karangturi Semarang, Doktor Ilmu Lingkungan Undip Semarang*      

Foto: karangturi.sch.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of