Refleksi Akhir Tahun 2020; Menetapkan Sasaran Fokus Perhatian

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Waktu secara umum dipahami sebagai konsep terkait berlangsungnya suatu peristiwa, sejak dimulai hingga diakhiri. Makna ini menegaskan keberadaan waktu sebagai suatu besaran yang pengukurannya ditetapkan secara ketat, dengan satuan yang berlaku universal.

Dengan demikian, dihasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, untuk berbagai kepentingan. Konsep durasi, frekuensi, kecepatan, dan percepatan misalnya, terkait dengan waktu dalam makna ini.

Namun dalam hidup nyata, waktu mempunyai dimensi sangat berbeda, yang membuat maknanya bisa menjadi sangat relatif. Ukuran lama atau sebentar, cepat atau lambat, bisa ditentukan oleh siapa yang mengalami atau oleh situasi apa yang dimasuki.

Mari lihat bersama. Bahwa waktu mengantar kita ke penghujung tahun ini, adalah fakta yang diterima segenap manusia di dunia. Namun untuk durasi waktu 366 hari yang sama, cepat atau lambatnya, lama atau sebentarnya bisa dialami secara sangat berbeda. Bagaimana dengan Anda?

Untuk setiap pernyataan yang muncul sebagai jawaban, masing-masing kita mempunyai penjelasan. Penjelasan ini akan sangat berkaitan dengan bagaimana tahun 2020 kita alami. Dan sebelum sepenuhnya diakhiri, kiranya akan baik bila kita ambil waktu untuk melihat kembali.

Dalam rumusan yang sedikit berbeda, pertanyaan serupa ini pernah diajukan oleh seorang perempuan muda, wakil wisudawan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, kepada rekan-rekannya. Saat itu, 12 Desember 2020, saya dan suami, mendampingi putra sulung kami dalam upacara wisuda yang menandai keberhasilannya menyelesaikan studi di sana.

Baca Juga : Menghadirkan Kembali Mujizat Natal

Perempuan muda itu, Veronica Acintya Putri, mengawali ungkapannya dalam sessi Pamit Alumni, dengan pertanyaan tentang bagaimana tahun 2020 dialami. “Apa yang segera muncul dalam pikiran kita saat mendengar kata 2020?” kurang lebih seperti itu dalam ingatan saya.

Untuk momen se-formal Wisuda dan prediksi dari memori orang tua seusia saya, pertanyaan ini sungguh tak terduga. Bukan sebatas ucapan terimakasih pada almamater dan pesan penyemangat untuk berdedikasi di masyarakat.

Tentu saja tanpa menunggu jawaban dari audiencenya ia melanjutkan dengan pernyataan empatik untuk setiap sad, sorrow, and grief moments yang mungkin muncul sebagai jawaban atas pertanyaannya. Tidak lama berada di sana, kami semua lalu diajaknya untuk berfokus pada fakta tak teringkari: lebih dari tiga ribu mahasiswa program diploma tiga, sarjana, dan pasca sarjana, mengakhiri masa studi dan di-wisuda di tahun 2020 ini.

Rangkaian ujian, tahap-tahap penelitian, proses penulisan (untuk tugas akhir, skipsi maupun thesis), dengan peluang terbuka pada kebuntuan bahkan kegagalan di sepanjang perjalanan, telah berakhir dengan keberhasilan. Ia bicara atas nama semua yang mengalaminya.

Sejujurnya, sebagai orang tua kami pernah bercita-cita menghadiri sebuah peristiwa megah yang mengukuhkan keberhasilan putra sulung kami di akhir masa studinya. Ia sungguh layak menerima apresiasi atas setiap bentuk perjuangan dalam berbagai keterbatasan di perantauan.

Lalu situasi membuat peristiwa impian itu hadir dalam wujud sangat berbeda. Kami berdua, berada di sisi kanan dan kirinya, menghadap layar laptop yang sama, mengikuti upacara, berjarak sekian jauh dari lokasi utama.

Baca Juga : Memaknai Perayaan Natal Dan Historinya

Akan tetapi, melampaui semua kekecewaan kami, bukankah semestinya ia dan semua rekannya, lebih punya alasan untuk kecewa? Mereka adalah para pelaku inti, pribadi-pribadi teruji, yang bertahan dalam kesulitan, dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Mereka adalah alasan bagi terlaksananya peristiwa wisuda ini. Selayaknyalah mereka alami momen pengukuhan yang sejak awal mereka idamkan. Tentunya bukan dalam versi virtual seperti yang akhirnya terjadi.

Namun justru mereka, diwakili oleh sosok ini, yang memilih untuk tidak tenggelam dalam kecewa. Berfokus pada fakta kelulusan, yang diraih melalui proses penuh tantangan, mereka punya bukti bahwa kondisi pandemi sama sekali tidak bisa menghentikan.

Berbagai bentuk adaptasi menyikapi perubahan berhasil mereka upayakan. Sehingga situasi yang berpotensi menghancurkan ini justru menambah kualifikasi mereka sebagai lulusan.

Dengan menetapkan pengalaman keberhasilan sebagai fokus perhatian, barulah kemudian ia menggaungkan kembali sesanti almamater tercinta: Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, berdasarkan Ketuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat.

Hingga seluruh kalimat usai tersampaikan, sama sekali tidak ada pernyataan seputar proses wisuda yang tidak sesuai harapan. Andai pilihan sikap wakil wisudawan ini juga menjadi pilihan sikap ribuan rekan yang ia wakili, maka tak ada ruang sama sekali untuk menempatkan keluhan, juga issue lain, yang tak semestinya jadi fokus perhatian.

Baca Juga : Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Maka saya mencoba mengambil pilihan serupa: menetapkan sasaran yang sepantasnya menjadi fokus perhatian. Segera saya jumpai fakta tak teringkari yang teramat saya syukuri. Sosok yang kami banggakan berada begitu dekat dalam jangkauan rengkuhan dan pelukan. Tanpa perlu mengandalkan proses lain manapun, apresiasi untuknya sangat bisa kami berikan.

Belum lagi fakta bahwa justru karena proses wisuda virtual ini, kami berkesempatan memindahkan untai tali pada penutup kepala bersegi lima yang bersama dengan toga menjadi kostum wisudanya. Sebuah kehormatan yang luar biasa bagi para orang tua. Hanya bisa terjadi pada wisuda istimewa yang sebelumnya sempat kami persoalkan.

Tampaknya, ke mana arah tulisan ini selanjutnya sudah semakin jelas terbaca. Ya, pengalaman teramat berkesan di paruh pertama bulan ini, saya alami sebagai kekayaan berharga yang bisa berlaku bagi siapa saja. Menetapkan sasaran fokus perhatian ternyata sungguh bisa mengubah makna secara keseluruhan.

Terlebih untuk saat ini, saat waktu akan dengan segera membawa kita berpindah dari tahun yang akan jadi lama, ke tahun yang baru. Apakah masih ada sisa kecewa yang hendak kita bawa? Masihkah periode waktu 366 hari ini terasa berat dan lama, karena beban yang kita pikul dari salah satu atau beberapa peristiwa di dalamnya?

Baca Juga : Pelajaran Penting Dari Angelina Jolie; Orang Tua Hanya Perlu Jujur

Sekian banyak fakta yang teramat sulit diterima tampaknya akan tetap berada dalam keadaannya. Sementara kita punya cukup kuasa untuk menentukan dengan bagaimana akan menyikapinya. Kita bisa memilih untuk menetapkan sasaran yang berbeda, yang sebelumnya luput dari perhatian kita.

Barangkali ia yang pergi akan menjadi perantara kita pada Sang Illahi dalam menjalani hidup yang masih kita miliki. Barangkali mata pencaharian yang hilang adalah wujud pengurbanan yang kita berikan untuk kehadiran sebuah peluang baru penghidupan yang sesaat lagi akan kita jelang.

Barangkali pilihan sikap baru menjadikan kita lebih terbuka pada sekian banyak kebaikan baru yang menanti kita di depan sana. Dengan menetapkan sasaran baru untuk menjadi fokus perhatian kita, mari menutup 2020 dalam syukur atas semua pembelajaran kehidupan.

Foto : editor.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of