Bayang-bayang, antara Dulu, “Kini” dan Kelak

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Individu yang sekarang adalah hasil dari masa lalu, dan apa yang dilakukan sekarang akan menentukan siapa individu itu di kehidupan selanjutnya. Hasil pemikiran terkait masa lalu dan masa depan terkadang akan memunculkan bayang-bayang.

Hidup selalu dipenuhi bayang-bayang. Bayang-bayang masa lalu dan bayang-bayang-bayang masa depan. Bayang-bayang inilah yang terkadang membuat orang menjadi menderita. Siapa saja yang tidak menerima masa lalu, ia akan merasa hidupnya kurang bermakna.

Baca Juga : Hidup Serba Katanya

Bayang-bayang juga memunculkan kebalikan dari kehidupan. Ketika masih kecil, banyak orang ingin agar cepat tumbuh dewasa, dan ketika sudah dewasa banyak orang juga ingin kembali ke masa kecil. Semua itu terjadi karena orang kurang menemukan kenyamanan di kehidupan yang sekarang.

Banyak orang cenderung menganggap sesuatu di luar diri sebagai tolok ukur kebahagiaan. Banyak orang lupa, bahwa menjadi anak kecil pun tidak selamanya menyenangkan, begitupun menjadi dewasa.

Seperti yang diungkapkan oleh Viktor Frankl dalam konsep logotherapy untuk memahami keberadaan manusia, bahwa manusia akan menderita ketika ia kurang memaknai apa yang telah terjadi dalam kehidupannya.

Sekecil apapun kejadian yang pernah dialami jika dimaknai dengan baik, maka akan ada esensi di balik peristiwa itu. Akan tetapi dalam kenyataannya, banyak orang  sulit untuk menerima masa lalu.

Orang yang cenderung menyalahkan masa lalu, biasanya ditandai dengan penyesalan dan rasa kecewa bahkan marah terhadap diri sendiri. Lalu muncullah berbagai pertanyaan.

”Kenapa sih saya se-bego itu? Saya kok mau-maunya ditipu olehnya. Coba saja dulu saya melakukan seperti ini, mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini.”

“Kenapa sih dia tidak meminta maaf terlebih dahulu? padahal jelas bahwa dia yang salah.”, “Kenapa sih saya harus lahir dalam keadaan yang seperti ini?”

Ketika orang tidak menerima apa yang telah terjadi, bisa jadi akan menimbulkan lingkaran setan yang sangat mengerikan. Dari yang menyalahkan diri sendiri, kemudian masuk pada tahap menyalahkan orang lain, hingga bisa jadi melahirkan sebuah perilaku yang tidak sepantasnya dilakukan.

Baca Juga : Belajar Kebebasan Dari Sokrates

Tidak hanya bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang masa depan pun terkadang bisa membuat orang menderita. Pikiran yang berlebihan terkait hari esok atau masa depan akan menimbulkan rasa cemas.

Orang-orang terus sibuk dengan apa yang terjadi di hari berikutnya. Kesibukan ini baik. Akan menjadi kurang baik ketika dalam mempersiapkan amunisi di hari berikutnya, orang terus memaksakan untuk menjadi sempurna.

Ketika yang diharapkan itu tidak terpenuhi, bisa jadi akan memunculkan kekhawatiran. Orang akan menjadi bermasalah dengan dirinya sendiri.

Besok saya harus bagaimana ya? Minggu depan saya bisa nggak mendapatkan ini dan itu? Tahun depan saya bisa nggak lulus tepat waktu? Kira-kira saya keterima bekerja nggak? Pertanyaan seperti ini baik, akan tetapi jika terus dipikirkan secara berlebihan akan melahirkan kecemasan.

Akibatnya, orang tidak bisa menikmati masa sekarang. Eksistensinya ada saat ini, akan tetapi jiwanya pergi ke mana-mana. Seperti yang diungkapkan Perls bahwa manusia yang sehat adalah manusia yang hidupnya di sini dan sekarang (here and now) atau hidup dengan kesadaran penuh (full awareness).

Baca Juga : Faktor Apakah Yang Membuat Pendidikan Dan Pengajaran Jadi Rumit?

Hidup di masa lalu dan di masa depan menjadikan kita tidak sepenuhnya sadar dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Banyak orang cenderung mengabaikan dan tidak menikmati aktivitas saat ini.

Bisa jadi saat ini Anda sedang membaca tulisan ini, akan tetapi pikiran Anda bisa saja ke mana-mana karena ada kepentingan yang lain.

Dalam keadaan tertentu, seperti saat sedang makan, banyak orang tidak benar-benar menikmati makanannya. Bagaimana rasa nasi, lauk, dan minuman yang ada. Banyak orang sementara makan akan tetapi pikiran berfantasi ke mana-mana. Banyak orang tidak benar-benar menikmati apa yang sedang dilakukan.

Tulisan ini mencoba mengajak pembaca untuk terus hidup dan bergerak dalam kesadaran penuh. Kata orang Jawa saiki, neng kene, yo ngene yang artinya sekarang, di sini ya begini.

Pikiran boleh pergi ke mana-mana, asalkan segera kembali pada titik fokus saat ini. Hiduplah yang realistis. Yang berlalu berlalu. Terimalah itu!

Mau dipikirkan sampai kapasitas memori otak menyusut pun tidak akan mengubah apapun. Sadarlah! Hiduplah secara penuh di masa sekarang.

Nikmatilah itu dan bersiap-siaplah, untuk menyambut yang akan datang tanpa adanya penolakan.

Foto : sains.kompas.com

Sumber Pustaka

http://www.journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jpkk43b5ca41cbfull.pdf. -http://prosiding.unipma.ac.id/index.php/SNBK/article/view/489/464

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of