Faktor Apakah yang Membuat Pendidikan dan Pengajaran Jadi Rumit?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Menjadi guru sama sulitnya seperti menjadi orang tua. Ini terutama terkait urusan mendidik dan mengajar anak. Jika di dalam kelas ada 25 anak, anak-anak itu adalah anak yang individual.

Sebagai anak yang individual, tidak ada satupun anak dari 25 anak itu sama dengan anak yang lain di kelas tersebut. Belum lagi anak-anak lain di sekolah itu.

Mereka semua unik. Dalam hal kecerdasan, kecerdasan mereka pasti berbeda-beda. Ada yang memiliki kecerdasan linguistik, logika matematis, visual dan spasial, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis.

Selain kecerdasan, karakter mereka pun berbeda-beda, tergantung tipe kepribadian mereka. Ada yang sanguinis, ada yang melankolis, ada yang koleris, dan ada yang plegmatis.

Anak dengan jenis kecerdasan dan kepribadian yang berbeda tersebut harus mendapatkan perlakuan yang tepat dari gurunya, agar ia, karena perlakuan yang tepat tersebut, tergerak untuk bekerja sama dengan gurunya untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Perlakuan yang tepat tersebut adalah perlakuan yang individual.

Baca Juga : Kecerdasan Majemuk Dan Dilema Implementasinya

Guru menyesuaikan pendekatan pengajarannya dengan jenis kecerdasan anak saja bukan hal sederhana. Paling tidak guru harus memberi perlakuan metodologis secara berbeda, bagi anak dengan kecerdasan linguistik, dengan anak lain yang memiliki kecerdasan logis matematis.

Selain itu, gurupun harus memberi perlakuan yang tepat bagi masing-masing anak berdasarkan tipe kepribadiannya. Anak yang sangunis harus memperoleh perlakuan dengan sentuhan didaktis yang berbeda dengan anak dengan tipe kepribadian melankolis.

Selain perbedaan jenis kecerdasan dan kepribadian, pengalaman hidup dan latar belakang keluarga juga ikut membantu anak dan mempengaruhi perilaku anak di sekolah. Perlakuan guru terhadap anak pun diharuskan mempertimbangkan hal ini.

Uraian di atas lebih bicara tentang kerumitan pendekatan individual terutama dalam suasana pendidikan dan pengajaran.Padahal pada sekolah yang baik, tidak hanya ada pengajaran, tetapi juga diperlukan kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan ekstrakurikuler jika dikelola dengan baik akan menjadi sarana untuk mewadahi anak dengan kecerdasan yang berbeda-beda tersebut.

Biasanya pengajaran dengan format di sekolah kita yang cenderung akademis, lebih menjadi wadah untuk mengembangkan anak dengan kecerdasan logis matematis, kecerdasan lingustik dan kecerdasan visual dan spasial.

Sedangkan anak-anak dengan kecerdasan musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis, lebih membutuhkan kegiatan di luar pengajaran yakni kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan intrakurikuler.

Oleh karena itu kegiatan ekstrakurikuler harus dikelola dengan baik, mendapat anggaran secara memadai, dan alokasi waktu yang baik. Karena jika tidak dikelola dengan baik, anak-anak yang mempunyai kecerdasan di luar kecerdasan akademik, tidak berkembang dengan baik.

Sebetulnya pengajaran pun, jika diselenggarakan dengan pendekatan cocok, dapat menjadi sarana perkembangan bagi anak-anak berbakat non akademis. Pendekatan yang cocok dimaksud adalah pendekatan proyek dan lintas bidang studi. Oleh karena itu, guru harus dilatih sejak di lembaga pendidikan guru, untuk mengunakan pendekatan proyek dan bekerja dalam tim.

Pendekatan proyek adalah pendekatan yang dibangun dari satu proyek yang melibatkan bidang-bidang studi terkait secara tematik. Pendekatan ini memerlukan perencanaan yang baik.

Baca Juga : Akan Datang Saatnya, Guru Dapat Mengajar Murid Tanpa Menggunakan Suara

Dalam konsep merdeka belajar yang digagas oleh Nadiem Makarim, yang sangat mengutamakan pertumbuhan murid sebagai fokusnya, tampaknya pengembangan individualitas inilah yang disasar.

Rumit sekali bukan, pendidikan dan pengajaran itu? Oleh karena itu, mereka yang menjadi guru harusnya memang mereka yang disiapkan secara khusus dan dengan cermat. Harusnya hanya orang berbakat mendidik dan terpanggil menjadi guru-lah yang boleh menjadi guru.

Namun  bagi mereka yang tidak demikian, terutama yang telah terlanjur menjadi guru, hanya dengan kemauan yang keras untuk belajar dan kesediaan berubahlah, yang membuat kehadiran guru tersebut jadi tetap bermakna. Karena ilmu pendidikan dan pengajaran adalah ilmu yang dapat dipelajari.

Tanpa upaya belajar tersebut, sebaiknya guru yang demikian berhenti menjadi guru, karena di samping gurunya pasti tidak bahagia, kehadiran guru demikian juga cenderung merusak para murid.

Foto : Aventislearning.com

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Faktor Apakah Yang Membuat Pendidikan Dan Pengajaran Jadi Rumit? […]