Belajar dari Kearifan Lokal Suku Baduy, Sebuah Pembelajaran Leadership di SMA Candle Tree

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Sebagai sekolah dengan entitas School of Leadership, SMA Candle Tree terus berusaha secara konsisten menunjukkan nilai-nilai kepemimpinan dalam setiap proses kegiatannya dalam rangka membentuk jiwa kepemimpinan dalam diri setiap siswanya.

Oleh karena itulah, pada hari Senin 9 Desember 2019 sebagai bagian dari permanen program di SMA Candle Tree,  kegiatan Pasca PAS I TA 2019/2010 diisi salah satunya dengan melakukan kunjungan/ field trip ke Suku Baduy.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk membentuk jiwa kepemimpinan dalam diri siswa-siswa SMA Candle Tree. Khususnya bagi siswa-siswi kelas XI IPS, yang menjadi peserta kegiatan ini.

Dalam kegiatan tersebut banyak sekali pembelajaran tentang nilai-nilai kepemimpinan yang bisa dipelajari dan ditanamkan dalam diri siswa-siswi SMA Candle Tree. Dari sejak proses perencanaan, pelaksanaan sampai dengan akhir kegiatan.

Baca Juga: Membangun Karakter Berbasis Budaya Lokal

Sebelum  hari H, siswa-siswa sudah disiapkan dengan dibagi dalam 5 kelompok kecil dengan guru pendampingnya. Setiap kelompok harus menyiapkan kelompok mereka untuk membuat sebuah film documenter selama mereka berkunjung ke suku Baduy.

Pembagian tugas meliputi siapa yang mengambil gambar dengan kamera, siapa yang menjadi reporter dan pewawancara, wajib mereka siapkan.

Pada hari  pelaksanaan, siswa-siswi berangkat dari sekolah pukul 05.30 tepat. Semua siswa bisa datang tepat waktu.  Dengan didampingi 5 guru pendamping, rombongan berangkat menggunakan 2 bus kecil. Perjalanan ke terminal Ciboleger sebagai titik awal keberangkatan ditempuh selama kurang lebih 3,5 jam.

Ketika tiba di terminal Ciboleger pada pukul 09.15 rombongan disambut oleh Pak Sanip, seorang suku Baduy luar yang selama ini membantu dalam proses persiapan kunjungan ke Suku Baduy. Ia didampingi 5 temannya yang akan memandu para siswa sepanjang perjalanan ke kampong Suku Baduy.

Pada pukul 09.30 setiap kelompok dengan 1 guru pendamping dan 1 pemandu dari Suku Baduy memulai perjalanannya untuk masuk ke Kampong Baduy. Setiap kelompok berjalan dengan diberi jeda waktu dan tidak boleh terpisah dengan teman-teman kelompoknya.

Mereka harus saling bekerja sama dan saling menjaga satu sama lain kerena medan perjalanan yang ditempuh cukup sulit, dengan jalanan setapak berbatu, naik-turun dan sedikit licin.

Sepanjang perjalanan semua siswa kelihatan sangat bersemangat dan menikmati perjalanan. Mereka bisa menikmati suasana alam dengan rindangnya pepohonan, suasana pegunungan dan udara segar, serta pemandangan alam pegunungan. Rasa lelah selama perjalanan kurang lebih 3 km terbayar.

Ada beberapa peserta yang benar-benar berjuang untuk bisa mencapai tujuan. Akan tetapi dengan dukungan dari teman-teman kelompoknya ia tetap bisa bertahan untuk sampai tujuan.

Baca Juga: Bajakah Karya Ilmiah dari Hutan Kalimantan

Setelah perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam, Pada pk 11.00 sampailah setiap kelompok di rumah Pak Sanip yang menjadi base camp. Di rumah khas  Baduy di Kampong Balingbing ini, peserta mendapat kesempatan beristirahat.

Sementara itu, Pak Sanip telah menghadirkan Pak Mursyid dan Pak Sardi, dua orang dari Suku Baduy Dalam. Keduanya menjadi nara sumber yang akan di wawancarai para siswa tentang berbagai hal yang ingin diketahui terkait dengan suku Baduy.

Selama proses wawancara, para siswa bertanya dengan sangat antusias terkait beberapa hal seputar suku Baduy. Pertanyaan yang mereka ajukan antara lain mengenai alasan warga Suku Baduy tidak mau memakai teknologi.

Pertanyaan lainnya adalah perbedaan antara Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam, sampai pada pertanyaan apakah Suku Baduy ikut Pemilu, mengapa suku Baduy sangat menjaga alam, dan lain sebagainya.

Setelah selesai wawancara dan mendengarkan penjelasan dari nara sumber, para siswa kemudian mendokumentasikan beberapa hal terkait keunikan suku Baduy seperti rumah, aktivitas menenun yang menjadi kebisaaan masyarakatnya, serta suasana Kampong Balingbing.

Selanjutnya, seluruh peserta menikmati makan siang bersama, dengan makanan khas Baduy yakni sayur asem dengan lauk ayam, tahu, tempe dan sambal. Hidangan santap siang ini disiapkan oleh istri Pak Sanip. Rasa lapar sehabis perjalanan membuat semuanya makan dengan sangat lahap.

Setelah makan siang, para siswa diajak melanjutkan perjalanan sejauh kurang lebih 1 km ke jembatan bambu sungai Ciujung yang sangat terkenal, yang menjadi jembatan pembatas masuk ke Baduy Dalam dari Baduy Luar.

Sepanjang perjalanan ke jembatan para siswa melewati suasana perkampungan suku Baduy dan mereka bisa mendokumentasikan aktivitas-aktivitas masyarakatnya.

Sesampainya di jembatan bamboo, terlihat para siswa sangat kagum dengan indahnya jembatan bambu tersebut. Di situ mereka mendapat penjelasan dari Pak Sanip tentang sejarah jembatan bambu dan bagaimana proses pembuatannya dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat Baduy, dengan upacara adatnya.

Setelah puas mengekplorasi dan mendokumentasikan jembatan bambu dan lingkungan alam di sekitarnya termasuk lumbung-lumbung padi disekitar jembatan, Para siswa kembali ke base camp di rumah pak Sanip untuk berpamitan.

Pukul 14.15 para siswa memulai perjalanan kaki untuk kembali menuju Ciboleger. Perjalanan pulang terasa melelahkan tapi tidak sebanding dengan pengalaman yang kami peroleh selama kami mengunjungi Kampung Baduy.

Sampai di Ciboleger kurang lebih pukul 15.15, para siswa masuk bus dan kembali pulang ke Tangerang. Esok harinya mereka akan menyiapkan film documenter dan presentasi mereka tentang suku Baduy, sebagai akhir dari kegiatan Pasca PAS ini.

Ada banyak proses pembelajaran yang siswa siswi peroleh selama fieldtrip ke Baduy ini. Mereka belajar tentang perencanaan, kerja sama, kerja keras, focus terhadap tujuan, dan tidak mudah menyerah.

Mereka juga mempelajari nilai-nilai hidup seperti kepedulian, keberagaman, toleransi, melestarikan alam dan budaya, dan masih banyak lagi. Nilai-nilai ini yang sebenarnya sangat penting ditanamkan ke siswa-siswi sebagai calon pemimpin. Dan sebagai sekolah dengan entitas School of Leadership, SMA Candle Tree terus berusaha konsisten melakukannya.

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
3 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Frans Berek Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Frans Berek
Guest
Frans Berek

Mantap

trackback

[…] Baca Juga : Belajar dari Kearifan Lokal Suku Baduy, Sebuah Pembelajaran Leadership di SMA Candle Tree […]

trackback

[…] Baca Juga : Belajar Dari Kearifan Lokal Suku Baduy, Sebuah Pembelajaran Leadership Di SMA Candle Tree […]