Empat Tantangan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Tokoh
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Di luar dugaan publik, Nadiem Anwar Makarim ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menggantikan Muhadjir Effendi. Di bawah kepemimpinannya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kembali digabung dengan Kementrian Pendidikan Tinggi.

Joko Widodo memberikan pesan khusus kepada Nadiem Anwar Makarim agar segera melakukan terobosan untuk menyiapkan SDM-SDM yang siap bekerja. “Kita harus membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, yang me-link and match-kan pendidikan dengan industri, nanti menjadi wilayahnya Mas Nadiem”, pesan Joko Widodo seperti dikutip oleh detiknews.

Dalam sambutannya pada upacara serah terima jabatan, Nadiem Makarim menyampaikan alasannya menerima jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. “Saya menerima jabatan ini karena Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementrian yang strategis. Jika mau melakukan perubahan, mulainya dari pendidikan”.

Nadiem Makarim merupakan anggota kabinet paling muda, karena baru berusia 35 tahun. Ia adalah pendiri sekaligus CEO Gojek. Namun sejak dihubungi istana, ia telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang didirikannya.

Nadiem Anwar Makarim lahir di Singapura, 4 Juli 1984. Pendidikan dasar ditempuhnya di Jakarta, pendidikan menengah berlangsung di Jakarta dan Singapura, hingga lulus SMA di sana.

Selepas SMA tahun 2002, ia melanjutkan studi pada Jurusan Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat. Setelah memperoleh gelar sarjana, ia melanjutkan studi pasca sarjananya pada program Bussiness Administration di Harvard Bussiness School.

Tantangan yang Dihadapi

Sebagai anak muda, tantangan paling pertama yang harus dihadapi adalah bagaimana memimpin para pejabat senior di level inspektorat jendral dan direktorat jendral di lingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam pidatonya pada upacara serah terima jabatan, ia menyampaikan jawabannya terhadap pertanyaan wartawan terkait program 100 hari. “Saya tidak punya program 100 hari. Yang akan saya lakukan dalam periode 100 hari pertama adalah, saya akan duduk diam dan belajar dari Bapak dan Ibu para senior di level dirjen, agar kemudian tahu apa yang akan kita kerjakan bersama”, kata Nadiem.

Ini adalah jawaban bijak dari seorang anak muda yang membuat kita optimis bahwa ia akan mampu menghadapi tantangannya yang pertama. Ia minta para seniornya untuk bersabar. Ia berjanji, akan berusaha menjadi murid yang baik. Ia pun berjanji akan berusaha belajar dengan cepat.

Tantangan lain yang akan ia temui adalah bagaimana menghadapi tekanan politik. Sebagaimana kita ketahui selama ini secara tradisional Kementrian Pendidikan se lalu menjadi jatah  Muhammadyah. Dan kitapun mengetahui bahwa Nadiem Makarim adalah profesional murni.

Namun jika yang diperjuangkan Muhammadyah adalah kelangsungan lembaga pendidikannya, maka tantangan ini dapat dilampaui dengan memberi porsi yang adil bagi semua kelompok kepentingan, termasuk kelompok Muhammadyah.

Di samping itu, mudah-mudahan secara politik, kehadiran Muhadjir Effendi di kabinet ini, sebagai kader Muhammadyah dalam posisi sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, membuat Muhammadyah lebih menerima Nadiem Makarim, dan tidak menghambat agenda Nadiem secara politik.

Tantangan yang paling besar bagi Nadiem adalah bagaimana melakukan transformasi untuk mendorong kemajuan dan perkembangan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Terutama terkait bagaimana mengembangkan mutu guru, mutu pendidikan secara keseluruhan.

Di antaranya, bagaimana menyelenggarakan pengajaran bermutu, pengajaran yang mampu mengembangkan low order thinking skills, untuk menjadi landasan bagi pengembangan high order thinking skills. Ini sangat terkait agenda utama presiden dalam pengembangan SDM, agar lulusan sekolah siap bekerja. Bagaimana melakukan link and match antara lembaga pendidikan dengan dunia kerja. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah diselesaikan.

Tantangan terakhir yang ia hadapi adalah bagaimana membangun budaya positif; seperti sinergi,  efisiensi, dan kecepatan kerja pada semua lembaga terkait, di bawah kementrian pendidikan.

Ini merupakan tantangan yang masih dalam lingkup keahliannya. Menurutnya,  penggunaan teknologi untuk mendorong efisiensi, kecepatan kerja dan sinergi perlu diupayakan. Pemanfaatan teknologi itu dapat menjadi pintu masuk karena sesuai dengan keahlian dan kompetensi Nadiem Makarim. Namun, mengubah kebiasaan birokrat selalu merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

Mudah-mudahan keinginan Nadiem Makarim untuk mendorong kolaborasi dengan semua insan pendidikan seperti yang ia sampaikan dalam sambutan pada upacara serah terima jabatan, membantunya melampaui semua tantangan yang ia hadapi. (Foto: idntimes.com)

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
Frans Berek
Frans Berek
4 years ago

100 persen dukung!

trackback

[…] Baca Juga: Empat Tantangan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan […]

trackback

[…] Baca Juga: Empat Tantangan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan […]