Depoedu.com – Mengajar, dalam arti luas mendidik, kita selalu memiliki tegangang-tegangan yang muncul. Sebuah tegangan antara menyelesaikan materi ajar, yang berarti menjadikannya sebagai tujuan atau menggunakan materi ajar sebagai sarana untuk memperoleh tujuan yang lain.
Pilihan kedua ini tentu dengan resiko tidak selesainya pemberian materi ajar. Tapi, lepas dari itu semua, saya selalu digelitik oleh sebuah kalimat gaul: “so what gitu loh … “, “njuk ngapa?”, “trus ngapain?”. Jika kita memberikan materi-materi tersebut, lalu ngapain?.
Sebuah pertanyaan yang seolah-olah memandang sebelah mata profesi pendidik, namun sebenarnya punya kedalaman pertanyaan reflektif. Kita sekadar menjejalkan materi kepada peserta didik atau ada misi lain.
Baca Juga: Pembelajaran HOTS Sebagai Bekal Beradaptasi
Tentu kita tidak ingin, anak menjadi tempat menimbun materi yang tidak dibutuhkannya dalam hidup mereka selanjutnya. Mereka membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi di masa mendatang.
Maka pertanyaan sederhananya adalah sejauh mana materi ajar yang kita berikan memberikan kemampuan bertahan hidup bagi para murid? Kemampuan itulah yang disebut HOTS (Higher Order Thingking Skills).
Indikator HOTS
Salah satu dari tahap pembelajaran adalah pengukuran (measurement) dan penilaian (assessment). Asesmen HOTS menjadi hal penting dalam kerangka melatihkan berpikir adaptif secara utuh. Kuhn (2001) mengembangkan model asesmen kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam empat komponen utama, yaitu:
- Mengidentifikasi pertanyaan, asumsi, atau isu untuk melakukan investigasi (misalnya siswa harus dapat menjawab petanyaan, apa yang harus diverifikasi, diketahui, atau diselidiki?).
- Menerapkan beberapa kriteria dan alat untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan bukti dan atau data dari berbagai perspektif secara sistematis (misalnya siswa mampu menjawab pertanyaan, strategi manakah yang paling baik untuk melakukan investigasi?).
- Mengembangkan dan menghasilkan deskripsi koheren, kesimpulan, prediksi, penjelasan, evaluasi, atau argumen yang selaras dengan bukti. Bukti tersebut selalu mengedepankan pertimbangan logis dan kontekstual. Sebagai contoh siswa harus mampu menjawab pertanyaan, klaim pengetahuan manakah yang dapat digunakan sebagai bukti?).
- Melakukan upaya kognitif yang diperlukan untuk mendukung klaim pengetahuan menggunakan berbagai pendekatan dalam memecahkan masalah (misalnya siswa harus dapat menggali nilai apakah yang diperoleh dari berbagai pengetahuan yang digunakan?)
Secara lebih spesifik, Ennis (2015: 3-12) mengklasifikasikan indikator kemampuan HOTS seseorang adalah sebagai berikut:
1) Klarifikasi Dasar
- Fokus pada pertanyaan, contoh: mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan, mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk menilai jawaban, mengungkapkan situasi pikiran melalui pertanyaan.
- Mampu menganalisis argumen, contoh: mengidentifikasi kesimpulan, alasan atau premis, asumsi sederhana, hal yang tidak relevan, mendeterminasi struktur argumen menggunakan diagram, meringkas.
- Mampu mengajukan pertanyaan dan menjawab klarifikasi pertanyaan, contoh: mengajukan pertanyaan: mengapa?, apa hal utama yang dimaksud?, apa yang dimaksud dengan …, apa contohnya?, bagaimana aplikasi dalam kasus ini?, apa bedanya?, apa faktanya?, apa yang bisa dijelaskan dari hal ini?
- Mampu memahami dan menggunakan “grafik dan matematika”, contoh: membaca grafik, tabel, diagram, memahami aritmatika dan matematika dasar (misalnya persentase), memahami konsep korelasi, standar deviasi, dan signifikansi.
2) Dasar membuat keputusan
- Mampu menilai kredibilitas sumber informasi, contoh: menentukan kriteria keahlian, memastikan tidak ada konflik kepentingan, memahami sumber lain, reputasi, menggunakan prosedur yang mantap, mengetahui resiko, mampu memberi alasan, menerapkan prinsip kehati-hatian.
- Mampu mengobservasi dan menilai laporan observasi, contoh: membutuhkan waktu yang pendek antara observasi dengan membuat laporan, hasil yang disampaikan berdasarkan observasi (bukan hal yang lain), menyediakan catatan observasi secara lengkap, menyediakan bukti yang menguatkan, memungkinkan dilakukan pembuktian, kriteria yang disampaikan sangat kredibel.
- Mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki, contoh: menggunakan dasar pengetahuan yang dimiliki (termasuk materi dari internet) dalam setiap situasi, pengetahuan digunakan untuk membuat kesimpulan yang kuat.
3) Menyimpulkan dan menilai kesimpulan
- Mampu membuat keputusan, contoh: membuat kesimpulan dari premis dan argumen yang valid, interpretasi dilakukan secara logis, mampu membuat penalaran deduktif yang berkualitas.
- Mampu membuat dan menilai argumentasi dan kesimpulan secara induktif, contoh: membuat generalisasi secara tepat (berdasarkan tipe data, pengambilan sampling dan lain-lain), menjelaskan hipotesis dan kesimpulan, mendesain dan melakukan eksperimen (termasuk menentukan dan mengendalikan variabel), mengaplikasikan dengan melibatkan penilaian.
- Mampu membuat dan memutuskan berdasarkan pertimbangan nilai, contoh: menentukan latar belakang fakta, memahami konsekuensi ketika menerima atau menolak keputusan, selalu memiliki alternatif, melakukan langkah menyeimbangkan, menimbang, dan memutuskan.
4) Klarifikasi lanjutan
- Mampu mendefinisikan istilah dan definisi penilaian menggunakan kriteria yang tepat, contoh: menentukan bentuk sinonim, klasifikasi, jarak, kesetaraan, operasional, contoh dan bukan contoh, posisi dalam sebuah permasalahan.
- Mampu menanggapi pengelakan (dalih) secara tepat, contoh: mampu menangani pengelakan (dalih) yang disengaja maupun tidak disengaja, memahami dampak pengelakan atau dalih yang dibuat.
- Mampu berpikir menyelidik terhadap sebuah pemikiran, contoh: mampu memberikan pertimbangan dan penalaran terhadap premis, alasan, asumsi, posisi, dan proposisi lainnya.
- Mampu memperhatikan label-label kesalahan, contoh: mengenali label-label kesalahan dalam diskusi dan presentasi (tertulis dan terucap). Label kesalahan, misalnya penjelasan berputar-putar atau berbelit-belit, pernyataan atau kesimpulan yang tidak logis berdasarkan pernyataan sebelumnya, situasi masa lalu, berdalih, dan lain-lain.
- Mampu menyadari kualitas pemikiran diri sendiri (metakognisi), contoh: selalu dan terus-menerus memeriksa kualitas pemikiran diri sendiri.
Item Soal HOTS
Secara teknis, struktur suatu item tes dengan karakteristik HOTS terdiri atas sajian kasus, pertanyaan pilihan, dan permintaan alasan pemilihan (Bambang Subali & Pujiati Suyata, 2012: 3).
Bentuk tes tertulis dapat berupa tes pilihan (selected response test), baik berupa pilihan ganda, benar-salah, ataupun menjodohkan, serta bentuk mengisikan jawaban (supply response test), baik berupa isian singkat, uraian terstruktur atau uraian objektif, dan uraian terbuka (open ended supply response test) (Bambang Subali, 2012: 65).
Pada dasarnya, instrumen tes HOTS dibuat untuk menganalisis argumen yang dikonstruksi para siswa terhadap suatu permasalahan nyata (Ennis & Eric, 1985: 2; Ennis & Marguerite, 1993: 2; Ennis & Geoffrey, 2015: 1).
Penilaian kemampuan ini dapat dilakukan dengan tes tertulis menggunakan format pilihan ganda (multiple choice) atau pertanyaan terbuka (Stobaugh, 2013: 54, 62, 70, 77-79, 96-98; Ennis, 2007: 14; Stein, Ada, & Jenny, 2003: 11; Schraw & Daniel, 2011: 168-170; Odom, et al.., 2014: 216, 219).
Baca Juga: Antara Literasi, HOTS, Dan Assesment Kompetensi Minimum
Hasil akhir yang dapat dinilai secara otentik dapat berbentuk presentasi, produk berupa laman, proyek, atau karya tulis (Stobaugh 2013: 70; Schraw & Daniel, 2011: 375). Melalui presentasi, guru dapat menilai apa yang siswa pikirkan (Glencoe, ___ : 16).
Akhirnya melatihkan HOTS tidak sekadar menanyakan 1+2 = ?, tapi lebih pada menyusun argumen mengapa 1+2 = 5 merupakan jawaban yang tidak tepat?
Tidaklah pas jika pembelajaran dan asesmen kita seperti halnya “menyuapi siswa dengan makanan sebanyak-banyaknya, lalu mereka diminta memuntahkannya kembali. Siswa yang memuntahkan paling banyak akan memperoleh nilai paling tinggi.”
Foto: learnfromblogs.com
