Depoedu.com-Suatu pagi, seorang guru meminta murid-muridnya menjelaskan mengapa sebuah jawaban matematika dianggap benar. Hampir seluruh tangan terangkat, tetapi seorang siswa justru membuka tablet dan mengetikkan pertanyaan kepada AI. Dalam beberapa detik, jawaban yang rapi muncul di layar.
Persoalannya bukan apakah jawaban itu benar atau salah. Persoalan yang lebih penting adalah: apakah anak tersebut masih mengalami proses berpikir yang seharusnya terjadi sebelum jawaban ditemukan?
Pertanyaan itu semakin relevan ketika kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) bergerak cepat masuk ke dunia pendidikan. Anak-anak kini dapat meminta AI menjelaskan konsep, menerjemahkan teks, membuat rangkuman, menghasilkan ide, bahkan membantu menyelesaikan soal.
Di satu sisi, kemampuan ini membuka peluang luar biasa bagi pembelajaran yang lebih personal dan akses pengetahuan yang lebih luas. Di sisi lain, kemudahan yang sama dapat mengurangi kesempatan anak untuk mengalami kebingungan, mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, dan akhirnya menemukan jawaban dengan pikirannya sendiri.
Inilah paradoks pendidikan di era AI. Kita sedang hidup dalam masa ketika manusia memiliki akses terhadap jawaban lebih cepat daripada sebelumnya, tetapi justru harus semakin serius mengajarkan bagaimana berpikir. Jika dahulu sekolah berjuang membawa pengetahuan kepada siswa, kini pengetahuan datang ke tangan siswa hampir tanpa batas.
Tantangan pendidikan kemudian bergeser: bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak memperoleh informasi, tetapi bagaimana memastikan informasi dan teknologi tidak mengambil alih proses belajar.
Sebuah artikel The Educator pada September 2026 memperlihatkan persoalan lain yang tidak kalah penting. Survei terhadap 694 guru di Amerika Serikat menemukan bahwa 54 persen responden belum menerima pelatihan mengenai penggunaan atau pengelolaan AI di sekolah.(Henebery,2026)
Sementara hampir separuh memperkirakan AI akan semakin digunakan untuk penilaian, perencanaan pembelajaran, dan pekerjaan administratif dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang (Henebery, 2026).
AI dan Hilangnya “Perjuangan” dalam Belajar
Dalam psikologi pendidikan terdapat gagasan productive struggle, yaitu kondisi ketika peserta didik menghadapi tantangan yang masih dapat dijangkau, tetapi membutuhkan usaha, kesabaran, percobaan, dan revisi untuk menyelesaikannya. Kesulitan semacam ini bukan tanda bahwa pembelajaran gagal. Justru melalui proses itulah anak membangun pemahaman yang lebih kuat dan kemampuan untuk menghadapi persoalan berikutnya.
American Psychological Association dalam ulasannya mengenai AI dan perkembangan otak anak mencatat bahwa kemudahan memperoleh jawaban dari AI dapat mengurangi pemrosesan aktif terhadap materi.
Salah satu penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa siswa matematika yang menggunakan ChatGPT memperoleh nilai lebih tinggi ketika alat tersebut tersedia, tetapi ketika ChatGPT tidak lagi tersedia, performa mereka justru lebih rendah dibandingkan kelompok yang sejak awal tidak menggunakan alat tersebut (American Psychological Association, 2026).
Temuan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati dan tidak berarti AI harus dijauhkan dari pendidikan. Yang perlu dipertanyakan adalah kapan bantuan diberikan. Jika seorang anak sedang berusaha menyelesaikan soal dan AI langsung memberikan langkah lengkap, masalah memang selesai, tetapi proses berpikir anak juga dapat berhenti.
Baca juga : Pendidikan Gratis untuk Perguruan Tinggi Negeri dan Proteksi bagi Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia
Sebaliknya, AI dapat dirancang sebagai teman bertanya yang memberikan petunjuk, mengajukan pertanyaan balik, atau meminta siswa menjelaskan alasan sebelum memberikan solusi.
Guru karena itu perlu mengubah pertanyaan dari “Bagaimana agar anak mendapatkan jawaban?” menjadi “Bagaimana agar anak mampu menemukan, menguji, dan mempertanggungjawabkan jawabannya?”
Jangan Larang Teknologi, Ajarkan Literasinya
Respons sekolah terhadap AI di berbagai tempat menunjukkan bahwa belum ada satu pendekatan tunggal. Di Massachusetts, misalnya, sejumlah distrik sekolah telah mengembangkan kebijakan masing-masing.
Boston mengizinkan penggunaan AI untuk kebutuhan tertentu seperti penerjemahan, sementara Lexington memperbolehkan penggunaan AI sebagai tutor personal dengan batasan tertentu. Medfield juga memberikan ruang penggunaan AI secara hati-hati, termasuk untuk merangkum materi yang kompleks.
Menariknya, pendekatan tersebut muncul karena sekolah menyadari bahwa larangan saja tidak menyelesaikan persoalan. Data yang dikutip WBUR menunjukkan hampir satu dari lima anak usia 9–17 tahun di Amerika Serikat menggunakan AI untuk kebutuhan sekolah setiap hari, sementara sekitar separuh responden mengatakan sekolah atau guru mereka belum mengajarkan bagaimana memeriksa akurasi informasi yang diberikan AI (Lee, 2026).
Di sinilah konsep AI literacy menjadi penting. Anak perlu mengetahui bahwa jawaban AI bukan kebenaran otomatis. Mereka perlu belajar memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali bias, mempertanyakan logika, memahami privasi, dan menyadari bahwa teknologi dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi keliru.
Dengan demikian, sekolah tidak harus memilih antara “AI sepenuhnya dilarang” dan “AI digunakan sebebas-bebasnya”. Pilihan yang lebih mendidik adalah membangun aturan penggunaan berdasarkan tujuan pembelajaran.
Siswa boleh menggunakan AI untuk memperoleh umpan balik atau mengeksplorasi perspektif, tetapi pada aktivitas tertentu mereka tetap harus menunjukkan kemampuan berpikir tanpa bantuan mesin.
Guru Harus Lebih Pintar Merancang Pembelajaran
Masuknya AI juga memaksa kita melihat kembali profesi guru. Jika AI dapat menghasilkan materi ajar dalam hitungan detik, maka nilai seorang guru tidak lagi terutama terletak pada kemampuan menjadi satu-satunya sumber informasi.
Guru semakin penting sebagai perancang pengalaman belajar. Ia menentukan pertanyaan apa yang layak diberikan, kapan siswa perlu bekerja sendiri, kapan bantuan diperlukan, bagaimana diskusi dibangun, bagaimana kesalahan digunakan sebagai bahan belajar, dan bukti apa yang menunjukkan bahwa siswa sungguh memahami materi.
Sayangnya, kesiapan guru belum selalu mengikuti perkembangan teknologinya. Survei American College of Education yang dikutip The Educator menunjukkan kesenjangan tersebut dengan cukup jelas: 54 persen guru yang disurvei belum memperoleh pelatihan AI, sementara 49 persen memperkirakan AI akan semakin berperan dalam pekerjaan seperti penilaian dan perencanaan pembelajaran (Henebery, 2026).
Baca juga : Menuju HUT ke-50, SMP Tarakanita 4 dan ALTAR 4 Bangun Kolaborasi Lintas Sektor bersama Pemprov DKI Jakarta
Artinya, persoalan AI di sekolah bukan hanya persoalan perangkat. Ia adalah persoalan kapasitas manusia. Sekolah yang membeli banyak perangkat tetapi tidak membangun kompetensi gurunya berisiko memiliki teknologi yang canggih dengan praktik pembelajaran yang tetap lama.
Assessment Harus Mencari Jejak Pikiran
Perubahan terbesar mungkin justru harus terjadi dalam penilaian. Jika siswa dapat menghasilkan esai, presentasi, rangkuman, bahkan kode dengan bantuan AI, maka produk akhir tidak selalu cukup untuk menunjukkan apakah proses belajar benar-benar terjadi.
Ghana Education Service bahkan menetapkan 25 September 2026 sebagai National Continuous Professional Development Day dengan tema “Assessment in the Age of Artificial Intelligence (AI), Empowering Teachers to Assess Learning” (Ghana Education Service, 2026). Tema tersebut menunjukkan bahwa AI telah mendorong guru untuk memikirkan kembali bagaimana pembelajaran dibuktikan melalui assessment.
Guru dapat mulai menggunakan assessment yang meminta siswa menjelaskan proses, mempertanggungjawabkan pilihan, melakukan demonstrasi, menjawab pertanyaan lisan, merefleksikan kesalahan, atau menerapkan konsep pada situasi baru. Dalam model seperti ini, AI boleh menjadi alat bantu pada bagian tertentu, tetapi pemahaman tetap harus terlihat pada diri siswa.
Pertanyaan sederhana yang perlu muncul setelah sebuah tugas adalah: Apakah saya sedang menilai apa yang mampu dilakukan AI, atau apa yang telah dipelajari anak?
Teknologi Harus Memperbesar Kemampuan Manusia
Persoalan AI pada akhirnya bukan persoalan menerima atau menolak teknologi. Persoalannya adalah bagaimana kita memastikan teknologi berada pada posisi yang tepat dalam ekosistem pendidikan.
AI dapat menjadi tutor, pemberi umpan balik, penerjemah, partner brainstorming, atau alat bantu guru. Namun ada wilayah yang harus tetap menjadi ruang manusia: rasa ingin tahu, pertimbangan moral, empati, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan berjuang ketika jawaban tidak segera ditemukan.
Sekolah Indonesia menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena kondisi antar sekolah sangat beragam. Ada sekolah yang sudah berbicara tentang prompt engineering dan AI generatif, sementara sekolah lain masih berjuang dengan keterbatasan perangkat dan konektivitas.
Karena itu, transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Apakah sekolah sudah menggunakan AI?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Apakah penggunaan AI membuat kualitas belajar anak menjadi lebih dalam?”
Barangkali inilah paradoks terbesar pendidikan masa depan. Semakin pintar mesin memberikan jawaban, semakin besar tanggung jawab sekolah untuk mengajarkan manusia berpikir.
Anak tidak membutuhkan sekolah yang selalu menghilangkan kesulitan dari hadapan mereka. Mereka membutuhkan guru yang tahu kapan harus membantu, kapan harus memberi petunjuk, dan kapan harus berkata, “Coba pikirkan sekali lagi.”
Sebab jika setiap kebingungan langsung diselesaikan oleh mesin, setiap kesalahan segera diperbaiki oleh algoritma, dan setiap pertanyaan dijawab sebelum anak sempat memikirkannya, kita mungkin sedang menciptakan generasi yang sangat terampil menggunakan teknologi tetapi semakin bergantung kepadanya untuk berpikir. Jangan biarkan AI membuat anak berhenti berpikir. Gunakan AI untuk memperkuat pikiran manusia—bukan menggantikannya.
Foto : Timedoor Academy
Penulis adalah Praktisi Pendidikan
