Memahami Imposter Syndrome: Apa Itu, Mengapa Terjadi dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Banyak orang, bahkan mereka yang tampak sukses dan berprestasi, diam-diam merasa bahwa mereka sebenarnya tidak cukup mampu. Mereka merasa pencapaian yang diraihnya hanyalah keberuntungan semata dan suatu hari nanti orang lain akan menyadari bahwa mereka sebenarnya “tidak sebaik yang dikira.”

Perasaan inilah yang dikenal sebagai imposter syndrome. Bukan gangguan jiwa, melainkan pola pikir yang dapat mengganggu kepercayaan diri dan perkembangan diri seseorang. Tulisan singkat ini hendak membahas syndrome tersebut, mengapa bisa terjadi dan bagaimana syndrome tersebut dapat diatasi. Berikut uraiannya. 

Apa itu imposter syndrome?  

Imposter syndrome adalah perasaan tidak pantas atas keberhasilan yang dimiliki, meskipun bukti kemampuan dan pencapaian itu jelas ada. Orang yang mengalaminya cenderung meremehkan kemampuan dirinya sendiri, menganggap kemampuan tersebut bukan karena usaha atau bakat, melainkan karena keberuntungan. 

Orang yang mengalami syndrome ini hidup dalam kekhawatiran, bahwa suatu saat identitas aslinya akan terbongkar dan dianggap sebagai penipu. 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978 setelah meneliti sekelompok perempuan berprestasi yang merasa tidak pantas atas keberhasilan mereka. 

Fenomena ini ternyata dialami oleh banyak orang dengan berbagai latar belakang mulai dari pelajar, pekerja, pemimpin, maupun seniman tanpa memandang latar belakang atau tingkat pendidikan mereka.

Mengapa imposter syndrome bisa terjadi? 

Ada kurang lebih empat faktor yang dapat memunculkan syndrome ini:

  • Pola asuh dan lingkungan tumbuh

Anak yang tumbuh di lingkungan dengan standar yang sangat tinggi atau sering dibandingkan dengan orang lain, cenderung mengembangkan pola pikir bahwa nilai diri hanya dilihat dari keberhasilan. 

Baca juga : Ekspansi Muhammadiyah Di Bidang Pendidikan: Dari Langgar Kauman, Menjadi Jaringan Pendidikan Islam Modern Terbesar di Dunia

Sebaliknya jika anak meraih prestasi, selalu dianggap hal yang wajar, tanpa dihargai, membuat anak merasa capaiannya tidak berarti apa-apa bukan hanya baginya, melainkan bagi orang-orang penting di sekitarnya. 

  • Standar diri yang terlalu tinggi

Orang yang memiliki perfeksionisme tinggi sering kali menetapkan standar yang mustahil dipenuhi. Ketika tidak mencapainya, mereka merasa gagal, padahal pencapaiannya sebenarnya luar biasa. 

  • Perubahan dan transisi kehidupan

Memasuki lingkungan baru seperti sekolah baru, universitas baru, pekerjaan baru, bisa memicu keraguan diri. Ketika berada di antara orang-orang yang lebih pintar atau berpengalaman, orang dengan syndrome ini  mudah sekali merasa tidak layak berada di titik ini. 

  • Budaya dan lingkungan sosial

Dalam lingkungan yang menonjolkan kerendahan hati sebagai nilai utama, pencapaian seringkali tidak diakui secara terbuka. Hal ini bisa membuat seorang meragukan keberhasilan yang sudah diraih, bahkan dengan susah payah. 

Dampak imposter syndrome

Jika dibiarkan, imposter syndrome dapat menghambat perkembangan diri. Seorang dengan imposter syndrome bisa menjadi terlalu takut mengambil resiko, menghindari tantangan, atau bekerja berlebihan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. 

Secara emosional hal semacam ini dapat menimbulkan kecemasan, stres yang berlebihan, dan pada akhirnya mengalami kelelahan mental. 

Bagaimana cara mengatasi imposter syndrome? 

Langkah pertama yang paling penting adalah menyadari bahwa perasaan itu ada dan itu adalah hal yang wajar. Lakukan hal berikut untuk mengatasi imposter syndrome:

  • Kenali dan catat perasaan

Saat keraguan diri muncul, tuliskan apa yang dirasakan. Menyadarinya membantu kita memisahkan perasaan dari kenyataan. Ingatkan diri sendiri: “Ini perasaan saya, bukan fakta.”

Baca juga : Pemikiran Cendekiawan Indonesia Soedjatmoko tentang Pendidikan: Pembangunan adalah Proses Belajar

  • Bedakan kerendahan hati dan perasaan meragukan diri sendiri

Merendah itu baik, tetapi bukan berarti menolak mengakui usaha dan kemampuan diri sendiri. Katakan pada diri  anda: “Saya berusaha keras dan saya berhak mendapatkan ini.” 

  • Bicarakan dengan orang yang dipercaya

Berbagi perasaan dengan teman, keluarga, atau mentor seringkali membuat kita menyadari bahwa kita tidak sendiri. Banyak orang lain juga merasakan hal yang sama, dan mendengar perspektif orang lain dapat membantu kita melihat kenyataan dengan lebih jernih. 

  • Catat pencapaian dan umpan balik positif

Buatlah catatan tentang hal-hal positif yang sudah berhasil dilakukan, serta pujian dan umpan balik positif yang diterima. Saat keraguan datang, bacalah kembali sebagai bukti nyata kemampuan diri sendiri. 

  • Ubah cara pandang terhadap kegagalan

Kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti ketidakmampuan. Setiap orang pernah gagal dan gagal adalah hal yang biasa dalam pengalaman semua orang sukses. Itu adalah salah satu tanda bahwa kita sedang berkembang. 

  • Cari dukungan profesional jika diperlukan

Jika imposter syndrome terasa sangat berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak untuk memahami dan mengelola perasaan tersebut dengan lebih baik. 

Itulah pembahasan singkat mengenai imposter syndrome. Imposter syndrome adalah pengalaman yang sangat umum dan banyak terjadi namun seringkali dirahasiakan karena takut dianggap lemah atau tidak tahu berterima kasih.

Memahami bahwa hal ini adalah pola pikir yang wajar dan bukan cermin kemampuan yang sebenarnya adalah langkah awal yang paling penting. Dengan dukungan yang tepat, kesadaran diri dan perubahan cara berpikir, kita dapat melepaskan diri dari rasa tidak pantas, dan menikmati perjalanan hidup serta capaian baru kita dengan lebih tenang. 

Foto: Alodokter

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments