“Lebaran” Penuh Makna Religius Dan Tradisi Budaya Masyarakat Indonesia

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Dirayakan pertama kali pada tahun 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah,  bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Idul fitri dicetuskan oleh Nabi Muhammad SAW. 

Perayaan ini dimulai di Madinah setelah  peristiwa migrasi Nabi Muhammad SAW dari Makkah. 

Kemenangan diraih umat Islam, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan, dan kemenangan dalam perang badar.

Sabtu dan Minggu, 21 – 22 Maret 2026 umat Islam di Indonesia setelah berpuasa satu bulan penuh. Walaupun penetapan ada perbedaan dalam masyarakat tetapi tidak mengurangi makna dan esensi pokok dari Idul Fitri. 

Baca Juga: Melampaui Selebrasi: Merayakan Idul Fitri yang Transformatif

Hal ini justru menunjukkan toleransi yang tinggi dalam masyarakat Indonesia.

Idul Fitri diawali dengan Sholat Ied di Masjid atau lapangan, tempat – tempat yang sudah ditentukan oleh masyarakat. Sebuah perilaku religi sebagai ungkapan syukur atas selesainya puasa dan kembali ke fitri, saling memaafkan antar umat Islam. 

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana memperkuat keimanan, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat menghargai, toleransi dalam kemurnian hati di tengah masyarakat.

Idul Fitri dalam masyarakat Indonesia sering dikenal dengan istilah “lebaran” menjadi suatu tradisi setiap tahun yang dilakukan oleh umat Islam dan masyarakat Indonesia pada umumnya.  

Lebaran dari bahasa Jawa “lebar” artinya selesai, umat Islam sudah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan, dan juga “lebar” berarti “lapang” sebagai bentuk harus lapang dada dalam memberi dan menerima maaf dari dan kepada sesama.

Idul fitri dirayakan dalam masyarakat Indonesia, mereka yang merantau ke kota – kota besar akan mudik untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. 

Momentum untuk silaturahmi dan saling memaafkan (lahir dan batin), memperbaiki hubungan kekerabatan dalam masyarakat dan mempererat tali persaudaraan dengan tetangga dan warga masyarakat.

Toleransi beragama masih tertanam erat dalam masyarakat, ini terbukti dalam perayaan bukan hanya umat Islam akan tetapi non-muslim pun juga silaturahmi ke keluarga yang dituakan. Masyarakat non-muslim silaturahmi ke warga umat muslim.

Baca Juga: Menghidupkan Perpustakaan Sekolah: Menyelamatkan Masa Depan Lembata

Kembali ke fitri setelah “laku” sebulan penuh dalam puasa, terbebas dari segala dosa, Idul Fitri merupakan kegembiraan dan kenikmatan atas segala anugerah Tuhan sehabis melakukan kewajiban, ketaatan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Idul Fitri menjadi ritual keagamaan, religius dan sekaligus menjadi tradisi budaya masyarakat, khususnya masyarakat beragama Islam. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, momentum kembali kepada fitrah, memperbaiki diri, dan menebar kebaikan bagi sesama. 

Akan tetapi bagaimana masyarakat mampu menjaga budaya dan tradisi yang terbentuk dalam proses perjalanan panjang sejarah masyarakat Indonesia.

Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin.Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir batin.

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments