Depoedu.com-Pendidikan tidak semata-mata mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati dan jiwa peserta didik. Demikianlah salah misi Yayasan Tarakanita yang merupakan lembaga pendidikan Katolik yang berlandaskan semangat Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus (CB).
Salah satu misi utamanya adalah mengambil bagian dalam misi pendidikan Gereja Katolik, yaitu membentuk pribadi yang cerdas, utuh, berintegritas, dan berbela rasa.
Misi ini tidak hanya diwujudkan melalui proses pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui berbagai pembiasaan yang menumbuhkan kehidupan iman peserta didik. Salah satu pembiasaan yang memiliki peran penting adalah mengikuti Perayaan Ekaristi.
Bagi Gereja Katolik, Ekaristi merupakan pusat dan puncak kehidupan iman umat Katolik, menjadi sarana istimewa untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak usia dini.
Melalui perayaan Ekaristi yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat pertama dan pada momen-momen tertentu, seperti awal dan akhir tahun ajaran, pesta pelindung sekolah, atau masa-masa liturgi seperti Adven dan Prapaskah, peserta didik tidak sekadar diajak menghafal doa atau tata cara liturgi.
Melalui ekaristi peserta didik juga dibimbing untuk mengalami kehadiran Allah secara nyata dalam hidup mereka. Inilah yang membedakan pendekatan “pembiasaan” dari sekadar pengajaran teori: nilai iman ditanamkan melalui pengulangan, keteladanan, dan pengalaman langsung, bukan hanya melalui penjelasan di kelas.
Baca juga : 75 Tahun Kosayu: Dari Ruang Kelas Sederhana, hingga Mengelola Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan
Pembiasaan ini menjadi sarana pendidikan iman yang membentuk karakter peserta didik secara utuh. Peserta didik diajak untuk belajar menghargai kehadiran Allah dalam hidup mereka.
Sikap datang tepat waktu, berpakaian sopan, mengikuti perayaan dengan khidmat, serta berpartisipasi aktif dalam doa, nyanyian, dan pelayanan liturgi merupakan bentuk latihan kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap nilai-nilai iman.
Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut perlahan membentuk karakter yang akan tercermin dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pada salah satu kesempatan Perayaan Ekaristi di sekolah, Rm. Yetva Softiming Letsoin, SVD, dalam homilinya membagikan tiga kunci sukses kepada anak-anak. Beliau mengajak peserta didik untuk memahami bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kualitas hidup yang berakar pada iman.
Tiga kunci tersebut adalah menyangkal diri, yaitu belajar mengendalikan keinginan pribadi demi melakukan yang baik; memikul salib, yakni berani melakukan yang benar meskipun sulit, tidak populer, atau membutuhkan pengorbanan.
Serta mengikuti Yesus, dengan menjadikan Yesus sebagai teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak, sehingga senantiasa terdorong untuk berbuat baik kepada siapapun.
Baca juga : Murid Kelas 6 SD Santo Carolus Tarakanita Surabaya, Belajar Lebih Hidup Lewat Proyek STEM
Pesan tersebut menjadi salah satu penguat bahwa pendidikan di Tarakanita tidak hanya bertujuan menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademis tetapi lebih kepada pribadi yang berintegritas dan memiliki keberanian untuk hidup sesuai ajaran Yesus.
Nilai-nilai itu sangat relevan dengan kehidupan peserta didik, misalnya bersedia meletakan gawainya ketika orangtua membutuhkan bantuan, berani berkata jujur saat mengerjakan tugas atau ujian, membantu teman yang mengalami kesulitan, menghargai guru dan orang tua, serta tetap memilih berbuat baik meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Perayaan Ekaristi juga menjadi sarana membangun semangat persaudaraan di lingkungan sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik berkumpul sebagai satu komunitas yang saling mendukung dalam iman.
Pengalaman kebersamaan ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah, memperkuat persatuan, serta menciptakan budaya sekolah yang penuh kasih, damai, dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam hidup bermasyarakat.
Dengan demikian, misi mengambil bagian dalam misi pendidikan Gereja Katolik tidak hanya membentuk generasi muda Tarakanita yang cerdas, berintegritas, berbelarasa, serta siap menjadi pembawa kasih dan harapan di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Mereka juga memegang erat dan meneguhkan setiap insan pendidik untuk menjadi teladan iman dan karakter, menghidupi nilai-nilai Injil serta semangat CC5+, sehingga setiap proses pendidikan sungguh menjadi karya pelayanan yang memanusiakan manusia dan menghadirkan kasih Kristus bagi sesama.
