Depoedu.com-Jika seseorang mulai menanjak sukses dalam bisnis atau kariernya, masyarakat mempunyai kebiasaan menelusuri latar belakang pendidikannya. Misalnya menelusuri orang sukses tersebut alumni dari sekolah mana? Lulusan dari universitas mana?
Kebiasaan tersebut muncul karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan berkualitas selain menjadi faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan akademisnya, juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan kariernya.
Padahal menurut psikolog anak dan pakar parenting Michele Borba, seperti dilansir pada laman CNBC Indonesia, kegigihan dan ketekunan adalah keterampilan terpenting yang dapat mendukung seorang di masa depan.
Dan kegigihan serta ketekunan ini adalah dua kualitas yang dikembangkan pada anak oleh orang tua. Menurut Michele, ini adalah tugas orang tua yang sangat penting, terutama melalui keteladanan, yang kelak sangat membantu anak untuk sukses.
Menurut Michele, anak yang gigih, anak yang tekun, tidak akan mudah menyerah, memiliki keyakinan bahwa usahanya akan berhasil. Ia akan terus termotivasi dan terus bekerja keras menghadapi berbagai tantangan.
Baca juga : Infeksi Amoeba Pemakan Otak Dapat Menjadi Pandemi Berikutnya Setelah Pandemi Covid-19?
“Saya menemukan bahwa kegigihan dan ketekunan adalah soft skill nomor 1 yang membedakan anak-anak yang memiliki motivasi tinggi dengan mereka yang mudah menyerah,” kata Michele, seperti dilansir pada laman CNBC Indonesia.
Oleh karena itu, faktor sukses yang utama seorang anak tidak terletak pada latar belakang pendidikan formalnya, melainkan pada bagaimana orang tuanya mengembangkan dua soft skills penting tersebut sedini mungkin, sebelum anak tersebut mengenyam pendidikan formalnya, hingga anak mandiri.
Menurut Michele Borba, lima hal berikut ini dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu mengembangkan kegigihan dan ketekunan, dua soft skills yang sangat penting, sebagai landasan sukses pada anak:
- Ajarkan anak untuk berorientasi pada tujuan
Orang yang gigih adalah orang yang tidak mudah menyerah. Ini sangat terkait pada orientasi kita dalam bekerja, terutama pada cara menempatkan tujuan kita dalam bekerja di satu sisi, dan di sisi lain bagaimana kita menempatkan masalah.
Orang yang gigih dan tekun biasanya berorientasi pada tujuan, bukan pada masalah. Mereka biasanya hanya mau berhenti berusaha ketika tujuan mereka sudah tercapai.
Mereka bukan berorientasi pada masalah. Orang yang berorientasi pada masalah, akan melihat besarnya masalah yang dihadapi dan biasanya mereka cenderung menyerah padahal tujuan mereka belum tercapai.
Oleh karena itu, sebelum anak melakukan segala sesuatu, ajak anak untuk merumuskan tujuannya, dan latih anak untuk berorientasi pada tujuan tersebut. Latih dia untuk terus berusaha mengatasi masalah, meskipun masalahnya tidak ringan.
Baca juga : Mengenal Gejala Anxiety Disorder Pada Anak, Orang Tua Wajib Paham
Dalam proses mencapai tujuan, latih anak untuk memotivasi diri sendiri, terus bekerja untuk mengatasi masalah yang dihadapi, hingga tujuan yang ia rumuskan di awal kegiatan tercapai. Sebelum tujuan tercapai, latih anak untuk terus bekerja. Tentu saja mulai dari hal-hal yang sederhana.
- Latih anak untuk mandiri
Banyak anak tidak mandiri, karena orang tua tidak tega melihat anaknya berada dalam kesulitan. Mereka cepat turun tangan mengambil alih tugas anak. Anak memang keluar dari kesulitannya, tetapi kemudian menjadi lebih bergantung pada orang tuanya.
Hal ini ditegaskan oleh penulis buku “Thrivers: The Surprising Reasons Why Some Kids Struggle and Others Shine” menyatakan bahwa setiap kali orang tua terlalu cepat mengambil alih kesulitan, anak menjadi lebih bergantung pada orang tua dan menjadi tidak mandiri.
- Apresiasi usaha anak
Untuk mempertahankan capaian anak, anak harus diberi apresiasi atas capaian tersebut oleh orang tua dan guru. Ini perlu dilakukan dengan segera dan dengan cara yang benar. Banyak orang tua melakukannya tetapi dengan cara yang tidak benar.
Carol Dweck, seorang psikolog dari Stanford University, menemukan bahwa capaian pada anak tidak bertahan lama jika fokus orang tua dan guru ketika mengapresiasi adalah pada capaiannya, bukan pada prosesnya.
Menurut Dweck, anak akan cepat puas jika fokus apresiasi guru dan orang tua adalah pada capaian tersebut bukan pada prosesnya. Ini tidak mendorong mereka untuk terus melakukan dengan lebih baik lagi.
Oleh karena itu menurut Dweck, lakukan apresiasi segera dengan fokus apresiasinya adalah pada proses kerja mereka.
Baca juga : Gerakan Body Positivity, Mengapa Remaja Membutuhkan Gerakan Ini?
- Klarifikasi perasaan anak
Dalam menghadapi masalah, anak selalu diliputi oleh aneka perasaan yang campur aduk. Ketepatan respon terhadap perasaan anak, oleh orang tua dan guru merupakan salah satu kunci yang penting.
Banyak anak tidak merasakan dukungan dari orang tua dan gurunya ketika perasaannya direspon secara salah oleh mereka. Kesalahan ini sering berakibat fatal karena anak bisa jadi memilih untuk menyerah alias berhenti berjuang.
Oleh karena itu, untuk merespon perasaan anak secara tepat, orang tua dan guru perlu memiliki keterampilan untuk klarifikasi perasaan anak terlebih dahulu. Ini diperlukan agar respon terhadap perasaan dapat dilakukan secara tepat, yang akan membantu anak untuk fokus menyelesaikan masalah.
- Beri waktu istirahat pada anak
Ketika anak fokus mengerjakan sesuatu, anak perlu konsentrasi. Konsentrasi akan dengan sendirinya menurun ketika anak sudah kelelahan. Ini menunjukkan bahwa anak perlu istirahat terlebih dahulu.
Anak harus belajar bahwa bekerja terus meskipun kelelahan tidak produktif bahkan akan berdampak tidak baik secara jangka panjang terhadap tujuan. Oleh karena itu anak dilatih untuk beristirahat sebelum melanjutkan kembali dengan konsentrasi yang lebih baik.
Itulah lima hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru untuk mengembangkan dua soft skills yang penting yang diperlukan oleh anak untuk sukses, baik secara akademis di sekolah maupun sukses dalam bisnis dan karier.
Banyak orang tua salah kaprah, menyerahkan pendidikan anak mereka pada sekolah yang mereka pilih dan tidak meletakkan dasar yang sangat penting melalui pembentukan kegigihan dan ketekunan, yang harus menjadi tugas orang tua.
Foto:Apple tree
