Belajar Tentang Pendidikan Vokasi dari Swiss

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan tinggi di Indonesia memiliki tiga jenis klasifikasi, yaitu: a. Pendidikan akademik, yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. Cakupannya adalah sarjana (S1), magister (S2), dan doktoral (S3).

  1. Pendidikan vokasi, yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Cakupannya adalah pendidikan Diploma (diploma 1/Ahli Pratama, diploma 2/Ahli Muda, diploma 3/Ahli Madya, dan diploma 4/Sarjana Terapan).
  2. Pendidikan profesi/spesialis, yang berlangsung setelah pendidikan pendidikan sarjana dengan tujuan mempersiapkan peserta didik untuk dapat memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

Dari ketiga jenis pendidikan diatas, pendidikan vokasi adalah yang biasa disebut sebagai pendidikan diploma memiliki visi untuk menjadikan peserta didiknya siap dengan kemampuan tenaga ahli profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan teknologi sekaligus mengusahakan penggunaannya secara optimal di tengah-tengah masyarakat.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendibud Ristek Wikan Sakarinto beberapa waktu yang lalu menegaskan Institusi pendidikan vokasi di negarai Indonesia juga harus memberikan perhatian pada soft skill dan karakter.

Wikan juga mengingatkan institusi pendidikan vokasi harus bisa menghasilkan insan vokasi yang memiliki karakter kuat, soft skill kuat, dan hard skill yang kuat.

Baca Juga: Tragedi Susur Sungai Terulang Kembali, Kali Ini Terjadi Di Ciamis, Korban Tewas 11 Murid

Pada dasarnya, soft skill sendiri tidak jauh berbeda dengan bakat, namun dalam bentuk yang berbeda satu sama lain. Atau dalam kata lain soft skill merupakan kemampuan non teknis pada diri seseorang yang terlahir secara alami dan sangat penting dimiliki untuk menjajaki dunia kerja.

Karena soft skill terlahir secara alami, maka soft skill sendiri tidak bisa dipelajari di bangku sekolah, pelatihan, atau kuliah seperti ilmu pasti. Contoh Soft Skill misalnya  pikiran Serta Perkataan yang Positif,  Kemampuan mendengar yang Baik, mempunyai Kemampuan dalam Memimpin  dan lainnya.

Selanjutnya hard skill adalah kemampuan yang dapat dipelajari yang diperoleh dan ditingkatkan melalui latihan, pengulangan, dan pendidikan. Hard skill penting karena dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi karyawan juga meningkatkan kepuasan karyawan.

Hard skill adalah bagian dari rangkaian keterampilan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan. Hard skill merupakan suatu keahlian yang diperlukan bagi seorang individu untuk berhasil melakukan pekerjaan.

Baca Juga: Urgensi Pendidikan Vokasi Dalam Dunia Kerja

Hard skill bisa diperoleh melalui program pendidikan dan pelatihan formal, termasuk kuliah, magang, kelas pelatihan jangka pendek, kursus online, dan program sertifikasi, serta pelatihan di tempat kerja. Hard skill dan soft skill sangat berkontribusi pada dunia kerja.

Presiden EURO-PRO (European Association of Higher Education Professionals) Urs Keller dalam pemaparannya dalam seminar “Stadium Generale – Chapter 1: Switzerland” bertajuk “Strengthening International Partnership of Indonesia Vocational Higher Education.”

Ia menyampaikan bahwa kesuksesan sistem pendidikan vokasi Swiss tercipta berkat kerja sama baik antara institusi pendidikan, pemerintah pusat dan daerah, serta asosiasi industry.

Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi vokasi bahkan menjadi yang terendah dibandingkan lulusan sekolah lain di Swiss, termasuk universitas, yaitu 45 persen. Itu artinya lulusan vokasi di Swiss sangat mudah terserap oleh industri.

Baca Juga: Mengenal Bedanya Pendidikan Akademik, Pendidikan Profesi Dan Pendidikan Vokasi

Pendidikan Vokasi agar bisa berkembang seperti negara Swiss maka harus diperluas aksesnya, diberikan kesempatan yang besar kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan akses keterampilan melalui pendidikan vokasi.

SDM di Indonesia harus dibentuk dengan karakter yang baik, ucapan yang santun, perilaku yang mencerminkan umat yang beragama, dan berkeahlian profesional.

Alumnus pendidikan Vokasi yang bermutu terwujud apabila dosen, lembaga, dan proses pendidikan vokasi dilakukan secara bermutu pula. Dari mulai input penerimaan mahasiswa baru, proses pada pembelajaran, magang, dan lainnya, akan menghasilkan output yang baik juga.

Kondisi demikian memberikan kesejajaran antara pendidikan vokasi dengan pendidikan akademik, sehingga masyarakat memilih sesuai kebermanfaatan.

Foto: ekonomi.bisnis.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments