Menciptakan Manusia yang Humanis dan Kritis, “Tantangan” dalam Dunia Pendidikan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pada masa sekarang ini bukan pekerjaan mudah bagi seorang pendidik (guru), tantangan dan kesulitan dalam mengkondisikan kelas, memahami karakter individu anak, dan merancang strategi dan metode, model  belajar yang tepat dalam setiap kelas.  

Bagaimana menguasai materi bahan ajar dan juga tentu saja menghadapi satu ruang kelas yang isinya rata–rata tiga puluh murid dengan karakter yang berbeda–beda. Bahkan banyak juga yang mengampu banyak jam pelajaran, banyak kelas.

Para guru dituntut bagaimana bisa memberikan dan “mentransfer” ilmu sesuai dengan bidang ilmu masing–masing, akan tetapi juga harus bisa memberikan pendidikan yang humanis dalam setiap pembelajaran di kelas, maupun luar kelas. 

Pendidikan bukan seperti “penjara” bagi para murid yang hanya menunggu lulus, hanya menunggu komando, perintah dan ‘membeo’ saja. Mendengarkan guru memberikan materi, mengerjakan tugas dan dapat nilai. 

Seorang murid harus menjadi manusia yang “bebas” dari segala bentuk tekanan, beban yang yang menjadi penghambat proses pembelajaran perkembangan mereka sebagai manusia yang utuh.

Ki Hajar Dewantara dalam pandangan tentang pendidikan selalu menekankan bahwa dalam pendidikan harus ditujukan untuk membebaskan individu manusia dari segala bentuk penindasan. 

Baca juga : Orang Tua, Waspadai Tanda-tanda Buruknya Hubungan dengan Anak-Anakmu Berikut Ini

Driyarkara pun melihat bahwa pendidikan merupakan suatu proses hominisasi dan humanisasi. Secara sadar dan aktif memanusiakan dirinya, membentuk karakter, nilai moral dan budi pekerti yang jadi tanggung jawab seorang pendidik (guru) dan sekolah. 

Tentu saja masing masing sekolah punya “value” sendiri sebagai ciri khasnya yang akan mendarah daging dalam setiap kepribadian para muridnya.

Konsep “memanusiakan manusia” atau memanusiakan manusia muda mengutamakan perkembangan seluruh aspek kehidupan murid dalam pendidikan.  Diharapkan perkembangan sebagai manusia yang utuh baik secara fisik, emosional, dan spiritual agar dapat menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Proses pendidikan harus dapat membantu para murid mampu menjadi agen perubahan “agent of change” yang kritis dan kreatif serta sadar akan realitas baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat. 

Proses pembelajaran harus menyediakan tempat bagi para siswa untuk belajar berpikir kritis, mengembangkan logika. Kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menafsirkan informasi secara sistematis dan rasional.

Pendidikan harus melibatkan aspek kognitif, motivasi, dan emosi, yang membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan.  Pembelajaran perlu membangun motivasi pada murid untuk sungguh hadir dalam pembelajaran/ pendidikan. Seluruh murid harus terlibat aktif dalam setiap proses pembelajaran. 

Baca juga : Keteladanan di Era Digital: Menjadi Penabur Benih dan Pelabuhan Karakter

Guru  selama proses  pembelajaran juga harus memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana yang membahagiakan, bebas dari tekanan (penindasan menurut Ki Hajar Dewantara). Motivasi dan suasana menyenangkan bagi setiap murid dalam proses pembelajaran harus diciptakan oleh pendidik. 

Pengembangan holistik melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga, membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Seluruh kegiatan dan aktivitasnya selalu berorientasi pada nilai–nilai kemanusiaan (humanisme), mengembalikan dan menempatkan manusia pada kodratnya menjadi pelaku dan subyek bukan obyek. 

Memberikan kekuatan dan motivasi bagi semua murid sadar akan kebebasan sebagai manusia untuk menghadapi tantangan, kenyataan kehidupan. Bukan sekedar menyampaikan pernyataan-pernyataan di ruang kelas dan si murid menerima, mengiyakan, dan menghafal.

Masa sekarang bukan sekedar transfer ilmu, menghafal, tahu dan selesainya suatu materi. Jauh dari itu bagaimana berproses dengan anak, memotivasi serta menumbuhkembangkan kesadaran akan belajar. Hal yang pokok adalah bagaimana sisi–sisi manusiawinya dan sikap kritisnya tersentuh selama berproses. 

Bahwa pendidikan dan proses memanusiakan manusia muda bisa terjadi di mana pun juga, setiap perjumpaan dengan orang lain adalah suatu proses pendidikan dan pembelajaran. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments