Sekolah Selayang Pandang di Masa Pandemi

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kemampuan beradaptasi merupakan salah satu kelebihan manusia. Pandemi covid-19 mengkondisikan manusia, khususnya di Indonesia, untuk beradaptasi di setiap dimensi kehidupan, antara lain di dunia pendidikan dasar.

Proses pembelajaran yang lazimnya berlangsung tatap muka di sekolah, kini diadaptasikan melalui daring. Mulanya, berbagai protes muncul menyusul tantangan dan kesulitan seiring dengan kepanikan juga ungkapan berbagai bentuk kewaspadaan.

Salah satu pertanyaan bernada protes, bagaimana para guru memastikan setiap peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik sesuai harapan – yang bukan sekedar melihat hasil baik dan tampak sempurna?

Pada satu sisi, kewaspadaan pihak sekolah dan persiapan guru untuk menyiapkan metode dan pendekatan pembelajaran yang sekiranya sesuai merupakan bentuk tanggapan dan tindak lanjut dari protes itu. Di sisi lain, situasi dan kondisi ini menguji karakter anak, orang tua, orang sekitar peserta didik.

Pada saat yang sama, kejelian, kepekaan serta ketegasan guru dapat dilihat. Misalnya, ketika pembelajaran melalui daring berlangsung, pada layar gawai (gadget) atau laptop, tampak peserta didik mengikuti pembelajaran dengan sempurna, jawab pertanyaan dengan baik dan mengerjakan setiap tugas dengan lancar.

Namun di balik itu, kenyataan yang ada di luar bingkai layar daring (zoom meeting atau google meet) adalah peran orang – orang sekitar si peserta didik yang membantu mengerjakan setiap tugas, membisikkan jawaban atas pertanyaan guru.

Guru yang peka dan tegas, akan segera menegur peserta didik dan pendampingnya agar memberikan kesempatan pada peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajarannya secara mandiri.

Baca Juga : Berbagi Hati: Menjadi Pendamping Di Masa Pandemi

Orang tua dan orang sekitar peserta didik mau tidak mau perlu tegar melihat proses perjuangan sang anak. Namun, ini tidaklah serta merta berlangsung otomatis. Perlu adaptasi. Sekolah dan guru perlu menyiapkan segala perangkat dan metode pembelajaran.

Orang tua sangat perlu siapkan mental, dan suasana belajar yang kondusif di rumah. Pembentukan karakter peserta didik yang diprogramkan untuk diterapkan pada jam pembelajaran secara tatap muka di sekolah justru didistribusikan ke rumah. Realitas ini tak dapat ditolak.

Guru dan peserta didik, orang tua peserta didik berperan penuh. Semua terlibat dalam aksi bersama (joint action). Tindakan bersama ini berlangsung dalam suatu kolaborasi, tentu antara guru dari pihak sekolah dan peserta didik serta orang tua.

Dengan mengidentifikasikan tindakan bersama, setiap partisipan dimungkinkan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi. Pertanyaannya, bagaimana mengkonstruksikan adaptasi ini?

Pihak sekolah menyiapkan konsep pembelajaran sejak awal pandemi covid-19 di Indonesia. Pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan. Pembelajaran secara daring dinyatakan secara resmi oleh pemerintah dan diterapkan oleh pihak sekolah. Pada tahap ini, penyesuaian dan adaptasi ke dinamika hidup normal baru dalam dunia pendidikan dikonstruksikan.

Pembelajaran secara daring pun berproses dengan segala dinamikanya. Bertolak dari pengalaman pribadi sebagai orang tua peserta didik pada salah satu sekolah di provinsi Banten, paling kurang iramanya demikian.

Para guru mendistribusikan bahan dan materi pembelajaran di awal bulan dengan waktu serta cara yang sudah ditetapkan dan diinformasikan kepada orang tua peserta didik.

Baca Juga : Aplikasi ZOOM Dan Perannya Di Dunia Pendidikan

Ketika orang tua peserta didik datang ke sekolah untuk mengambil materi pembelajaran, para guru yang sudah siaga dengan paket materi untuk masing – masing peserta didik menyambangi setiap orang tua di depan sekolah.

Sejumlah materi dan lembaran kerja peserta didik langsung disampaikan kepada masing – masing orang tua. Setelah menerimanya, orang tua pun langsung meninggalkan sekolah.

Selama hari – hari aktif pembelajaran – Senin – Jumat – guru dan peserta didik berinteraksi melalui aplikasi zoom dengan tautan yang sudah disiapkan oleh para guru. Atmosfir belajar diupayakan sedemikian rupa sehingga menyerupai kondisi seperti tatap muka langsung.

Antara lain, mengawali setiap pembelajaran dengan doa bersama, penyampaian materi dan interaksi, istirahat hingga diakhiri dengan doa bersama pula. Pada saat interaksi melalui zoom, guru memandu dan memfasilitasi setiap aktivitas pembelajaran sesuai jadwal dan materi.

Tugas – tugas yang perlu dikerjakan oleh peserta didik ditegaskan lagi oleh para guru setiap hari.  Distribusi tugas disampaikan oleh para guru melalui aplikasi google classroom.  Lalu, peserta didik menyelesaikan tugas di rumah.

Orang tua sebagai pendamping mengarahkan dan mendampingi peserta didik dalam setiap proses ini, bukan mengambil alih. Lalu, tugas yang didokumentasikan – baik dalam bentuk foto maupun video – dapat dikumpulkan, biasanya tiap hari Sabtu, melalui aplikasi atau tautan yang sama.

Proses pembelajaran daring seperti ini terus dirawat agar efektif. Inilah tahap pemeliharaan dalam konstruksi hidup normal baru dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar.

Baca Juga : Gandeng IGI Flores Timur, SMAN 1 Lewolema Gelar Bimtek Pembelajaran Daring

Pemeliharaan konstruksi bukan berarti proses pembelajaran berlangsung lancar – sempurna tanpa kendala. Jaringan internet yang sewaktu – waktu terputus merupakan salah satu kendala teknis.

Sementara itu, kondisi psikologis peserta didik yang tidak selalu prima dalam mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan lancar adalah bagian dari kendala non teknis. Orang tua peserta didik pun berusaha lebih keras dari sebelumnya untuk memahami instruksi tugas.

Setelah itu, orang tua peserta didik mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan tugas sesuai dengan pemahaman atas instruksi dari guru. Ini membutuhkan daya sabar tersendiri.

Tantangan berikutnya, tidak semua bentuk pendekatan yang diterapkan orang tua dalam proses pendampingan pembelajaran di rumah dapat diterima begitu saja oleh peserta didik.

Kadang, semakin orang tua menjelaskan pemahamannya mengenai instruksi pembelajaran dalam lembaran kerja dan aplikasi google classroom, sang peserta didik malah sulit memahami. Rasa frustrasi pun mewarnai.

Lain lagi, ketika pembelajaran melalui aplikasi zoom sedang berlangsung, cameranya tidak diaktifkan oleh si peserta didik. Dari “layar seberang”, guru tak dapat memantau aktivitas peserta didik secara maksimal, entah masih mengikuti proses pembelajaran atau malah sang anak sibuk sendiri di luar konteks pembelajaran.

Tidak jauh dari posisi sang anak ketika mendampingi anak dalam proses pembelajaran, orang tua peserta didik asik dengan aktivitas lain juga – misalnya menonton acara televisi atau berselancar dengan gadget/gawainya sendiri.

Baca Juga: Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah?

Giliran mengerjakan tugas, ada kemungkinan sang peserta didik kurang mengerti. Jalan pintasnya, orang tua peserta didik atau pendamping mengambil alih pengerjaan tugas – tugas. Hasil kerjanya tampak bagus, memuaskan, namun semu.

Sadar atau tidak, ruang ketidakdisiplinan dan ketidakbajikan tercipta secara perlahan. Padahal, untuk menanamkan dan menumbuhkan kedisiplinan, kemandirian dan kebajikan sejak dini pada peserta didik, perlu pembiasaan dan keteladanan.

Sebagai orang yang mumpuni di bidangnya, guru tentu paham dan dapat memilah tugas yang dikerjakan peserta didik secara mandiri dan hasil campur tangan orang tua atau pendamping. Ketika evaluasi yang juga melalui daring, kondisi ini disampaikan oleh guru kepada orang tua peserta didik secara terbuka.

Artinya, kelemahan perlu diakui dengan pikiran dan hati yang terbuka untuk diperbaiki. Kemajuan dan pencapaian pun diapresiasi. Interaksi yang baik sambil beradaptasi dengan kondisi masing – masing pun dilakukan. Para guru juga menyapa peserta didik dan orang tua secara pribadi melalui video call.

Guru dan orang tua peserta didik menyampaikan sudut pandang dan pengalaman masing – masing terkait kebutuhan, harapan dan keinginan dalam proses pendidikan ini. Jadi jelas, proses ini merupakan perubahan yang teratur, berturut – turut dari suatu gejala serta transisinya ke dalam gejala lainnya.

Meskipun secara daring, interaksi antarpersonal juga sosial untuk samakan persepsi masih terus berjalan, belum final.  Inilah tahap perbaikan dalam konstruksi pembelajaran dengan barbagai tantangannya.

Masa pandemi hingga titik ini masih jauh dari tanda – tanda akan berakhir. Proses konstruksi suatu model pembelajaran yang adaptif – membangun ide – ide dan menterjemahkannya menjadi konkrit, memelihara, memperbaiki, hingga merubah –   masih terus berlangsung. Sambil terus memandang dinamika yang masih terjadi di dunia pendidikan, sebaiknya tulisan ini saya batasi sementara di sini.

Penulis adalah Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia

Foto:cnbcindonesia.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments