Depoedu.com-Dalam laporan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2023 dinyatakan bahwa teknologi membawa peluang besar jika digunakan dengan baik dan tepat.
Berisiko mengganggu bahkan merusak fokus jika tanpa pendampingan yang baik. Menyoroti bagaimana dalam penggunaan teknologi di pendidikan dan masyarakat umumnya.
Kondisi masa sekarang, menghadapi generasi Z (gen Z) dan Alpha, mereka lebih fasih dengan gadget. Banyak anak sekarang berliterasi digital, dan juga kegemaran main game online yang banyak disediakan dalam gawai mereka.
Roblox, Mobile Legend, FIFA, Clash of Clans, Free Fire melekat dalam keseharian. Bahkan pada beberapa kasus terjadi ketergantungan terhadap game online ini, terutama pada anak remaja atau usia sekolah, yang secara tidak langsung mempengaruhi turunnya daya kritis dalam pola pikir mereka.
Berbeda dengan permainan masa anak–anak zaman dulu (mungkin sekarang ada jadi guru senior), misalnya main gundu (kelereng). Kita sudah harus mengatur posisi di garis–garis dalam segitiga atau sejenisnya. Untuk bisa menang, perlu perhitungkan tenaga, arah pantulan kelereng kita, supaya tidak mati.
Pada permainan Gobak Sodor, satu tim harus berpikir bagaimana supaya bisa melewati tim lawan yang berjaga, sedangkan tim yang berjaga berpikir strategi untuk menangkap lawan. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa dari permainan sederhana bisa menumbuhkan dan melatih anak berpikir.
Guru sekarang ini sering menghadapi permasalahan dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada diri anak–anak didiknya. Anak sekarang akan menjawab “Kenapa harus susah berpikir, tinggal chatbot, chat gpt, ai, chat gemini sudah ketemu jawabannya”.
Saat ini banyak kecerdasaan buatan secara instan bisa menemukan jawaban atas segala pertanyaan atau materi pembelajaran. Pemanfaatan yang tidak tepat dan tanpa pendampingan membelenggu pola pikir yang kritis anak. Penggunaan gadget atau gawai ini sering menjadi distraksi.
Baca juga : Belajar, Bertumbuh, dan Bekolaborasi melalui Pramuka Blok SMA Tarakanita Magelang
Seperti yang diungkapkan Caecilia Petra Gading, guru SMA Tarakanita 2 Jakarta dalam kegiatan Hari Study Guru, Sabtu 13 Juni 2026. Salah satu kelemahan anak sekarang dalam literasi adalah tidak mampu menangkap esensi dan isi materi yang dibaca. Salah satu penyebabnya karena kebiasaan membaca digital cenderung dangkal dengan informasi yang instan, ringkas, dan menghibur.
Kegiatan literasi siswa harus sampai temukan point penting dan bermakna bagi mereka. Perlu dibuat pertanyaan terbuka terhadap materi literasi, mengapa hal itu bisa terjadi, bagaimana menurut anda, bagaimana pengaruh bagi kehidupan sekarang. Perlu juga pertanyaan tersebut dijawab oleh temannya sendiri.
Role Playing bisa jadi alternatif lain untuk menumbuhkan partisipasi aktif siswa dan tentu saja pola pikir kritis. Mulai sejak menentukan materi, peran dan apa yang mau disampaikan dalam laporan, siswa diberikan kebebasan dengan arahan guru.
Problem Based Learning bisa diterapkan, para siswa melalui proses pengamatan, pemahaman, menganalisis merumuskan permasalahan terhadap suatu materi tertentu.
Mereka pun harus menyelesaikan permasalahan melalui diskusi-diskusi mencari solusi dan kajian pustaka yang sesuai. Membuat laporan yang sistematis dan analitis harus didampingi guru sehingga benar–benar sesuai alur pembelajaran.
Hasil mereka pun perlu dipresentasikan supaya mendapat umpan balik dari siswa lain maupun guru.
Ulangan harian, diskusi–diskusi, tugas individual, serta evaluasi akhir semester dirumuskan dalam bentuk yang memotivasi siswa untuk berpikir kritis. Misalnya dengan lebih memperbanyak pertanyaan–pertanyaan terbuka dengan logika maupun analisa.
Siswa akan menjawabnya pun menggunakan logika, pola pikir kritis, dan analisis. Sudah saatnya mengurangi atau menghilangkan pertanyaan yang mengarah ke jawaban tunggal hafalan.
Baca juga : Kegiatan Tutup Tahun SD Santo Carolus Surabaya : Bertumbuh dalam Kasih, Bersinar dalam Talenta
Misalnya teori evolusi dikemukakan oleh siapa. Atau isi teori kepemimpinan menurut John C.Maxwell adalah..(?) dan sejenisnya, yang merupakan pertanyaan tertutup.
Peran guru sebagai pendidik bukan lagi hanya sekedar menyampaikan materi di kelas sesuai kurikulum. Guru harus mampu serta mau membimbing, mendampingi siswa menemukan tujuan belajarnya.
Untuk bisa mencapai tujuan belajar, mau tidak mau guru harus memberikan kesempatan yang lebih besar kepada siswa selama proses pembelajaran. Siswa menjadi subjek pembelajaran.
Sudah waktunya guru mampu hidup berdampingan dengan teknologi dan memanfaatkan dengan tepat. Menggunakan teknologi dalam pembelajaran secara kreatif dan interaktif dengan tetap mempertahankan nilai–nilai kejujuran.
Nilai lain yang dipertahankan adalah kerja keras, tanggung jawab, empati dan simpati serta nilai–nilai keutamaan sekolah. Esensi Pendidikan terletak pada penanaman nilai–nilai kemanusiaan di tengah kecanggihan teknologi global.
Seorang anak, siswa tidak bisa memiliki pola kritis secara instan, spontan, melainkan harus melalui suatu proses pembelajaran. Proses yang harus sistematis dan konsisten dalam setiap pembelajaran yang dialami oleh siswa.
Siswa perlu menemukan sendiri dengan bimbingan guru, mengapa mereka perlu belajar dan bermanfaat dalam kehidupannya nanti.
Menumbuhkan karakter dari proses pembelajaran dan pendidikan sehingga siswa memiliki makna bukan sekedar fakta belajar. Guru harus berani mengubah pola pembelajarannya supaya siswanya juga mengubah pola pikirnya, sehingga siap menghadapi tantangan sesuai zamannya.
