Merayakan Kelulusan dengan Coret-Coret Baju Seragam, Kenapa Tidak?

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com -Tentang kelulusan semasa SMA, kebanyakan dari kita yang  pernah mengenyam pendidikan hingga tingkatan itu, pasti sangat menunggu moment di mana pengumuman kelulusan. Banyak dari kita telah merencanakan perayaan-perayaan apa saja yang nanti dilakukan setelah pengumuman kelulusan.

Saya pun demikian.  Saat itu adalah sebuah momen yang penuh dengan rasa bahagia. Terbebas dari yang namanya tugas-tugas atau kegiatan sekolahan. Pun terbebas dari guru yang tidak disukai dan masih banyak hal lainnya.

Aksi coret-coret baju seragam, tidak hanya baju, juga wajah. Konvoi keliling kampung dengan motor, ugal-ugalan di jalan, adalah sesuatu yang lumrah. Itu adalah bentuk ekspresi dari  kebahagiaan.

Baca Juga: Mengapa Mereka Merayakan Kelulusan Dengan Gambar Tidak Senonoh?

Pada saat itu, saya pun berpikir demikian. Wajar, merayakan kelulusan SMA dengan cara demikian.

Jika dipikir-pikir sekarang, bagaimana jika mengalami kecelakaan motor dan sesuatu tidak terduga terjadi? Haruskah mengekspresikan kebahagiaan itu dengan mencoret baju seragam?

Seorang guru SMA saya, bertanya dalam status facebook-nya “Apakah spidol dan piloks yang digunakan untuk mencoret baju merupakan pemberian dari para guru? Atau malah uang pemberian dari orang tua? Apakah motor yang dipakai untuk ugal-ugalan itu kepunyaan guru atau orang tua?”

Ia sepertinya tidak setuju, ketika sekolah dan guru dianggap lalai mengajari kami, hanya karena aksi coret baju seragam dan konvoi motor ugal-ugalan dalam merayakan kelulusan.

Pernyataan dari pak guru Philipus “Papi” Taran Baran ini tentu ingin menampilkan pesan implisit bahwa sekolah tidak mendukung adanya aksi coret baju yang dilakukan oleh para siswa.

Baca Juga: Syarat Kelulusan Siswa Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19

Menanggapi postingan tersebut akun Dominic Yusuf Antonio Daud mengatakan “Setiap siswa/i melakukan kesalahan pasti guru yang disalahkan, tetapi sebaliknya jika ketika siswa/i berprestasi pasti yang ditanyakan orang tuannya siapa”

Selain itu Dominic juga menegaskan bahwa fenomena piloks seragam ini juga merupakan kesalahan guru dan sekolah, jika saja sekolah memberikan sanksi yang tegas maka lama kelamaan akan ada efek jerahnya. Oleh karena itu pihak sekolah, orang tua maupun aparat keamanan harus siap untuk menindak secara tegas.

Saya memahami jalan pikiran adik-adik kelas saya yang barusan tamat. Sama seperti ketika kami melakukannya, tidak berpikir lebih jauh. Selain menganggap itu sebagai sebuah ungkapan kebahagiaan yang wajar.

Baca Juga: Korelasi Indeks Prestasi Dan Kesiapan Kerja

Saat ini, menanggapi hal itu, kadang muncul pertanyaan apakah dengan mencoret-coret baju,  kita akan mendapat sebuah penghargaan? Apakah ekspresi kebahagiaan itu harus dengan coret-coret baju seragam serta konvoi motor secara ugal-ugalan?

Saya jadi malu sendiri. Saya akhirnya tahu kalau coret baju dan aksi ugal-ugalan mengendarai motor tentu menimbulkan keresahan tersendiri pada sebagian masyarakat. Jujur saya tidak suka melihat adik-adik angkatan saya melakukannya.

Kadang muncul pertanyaan mengapa perilaku anak-anak yang terdidik malah menunjukkan perilaku yang sebaliknya. Apakah dengan mencoret baju dibarengi aksi ugal-ugalan merupakan output dari sebuah pendidikan?

Saya berpikir, apa yang harusnya dilakukan semua pihak agar adik-adik saya nanti tidak harus melakukannya lagi? Apa yang harus dilakukan sekolah bersama dengan orang tua?

Baca Juga: Siswa Kelas XII SMA Plus Pembangunan Jaya Gelar Sidang Karya Tulis

Salah satunya adalah dengan menyumbangkan baju seragam buat adik-adik kelas.  Bukankah dengan kita menyumbangkan seragam kita ke orang yang lebih membutuhkan adalah sesuatu yang lebih bermanfaat?

Butuh kerja sama antara orang tua dan sekolah. Buat peraturan tegas untuk melarang ekspresi kegembiraan seperti itu. Misalnya ijazah tidak diberikan jika ada aksi coret-coret baju seragam atau konvoi motor ugal-ugalan.

Saya yakin sekolah dan orang tua pasti tau peraturan apa yang paling baik agar itu tidak terulang lagi. Saya menulis ini karena saat saya melakukannya saya menganggap itu wajar. Saya belum tahu kalau itu mengganggu.

Jika saat itu saya paham betul kalau itu mengganggu, mungkin saya tidak akan melakukan demikian. Apalagi jika mengingat perkataan seseorang “apa yang kamu ambil atau putuskan hari ini, itulah yang akan menentukan masa depanmu”.

Tulisan ini sebelumnya tayang di eposdigi.com. Tayang kembali atas izin penulis

Foto: facebook

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments