Bayi Tewas Kesedak Pisang: Salah Siapa?

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Setiap orang tua pasti mencintai dan berharap yang terbaik untuk anak-anak mereka. Akan tetapi, apakah setiap orang tua mempunyai cukup bekal pengetahuan yang tepat? Bagaimana memperlakukan buah hati mereka  hingga sang buah hati mendapatkan yang terbaik?

Akhir-akhir ini banyak berita yang cukup memperihatinkan tentang bagaimana orang tua memperlakukan buah hati mereka. Dengan dalih ketidaktahuan orang tua bahwa yang mereka lakukan adalah salah yang berujung menyakiti buah hati mereka bahkan berujung maut.

Pemandangan yang dilihat penulis pada Sabtu, 14 Desember 2019 di sebuah rumah sakit di Tangerang.  Sepasang orang tua bersama anak laki-lakinya yang masih balita sedang antri duduk menunggu panggilan dokter.

Si anak laki-laki yang aktif ini berlarian menghampiri sang ayah dan tanpa sengaja menabrak bangku ruang  tunggu yang terbuat dari besi.  Ini membuat suara keras hantaman yang mengagetkan banyak orang.  Sang ayah yang juga kaget secara spontan memukul anak tersebut dengan keras.

Anak kecil yang kesakitan ini berlari ke arah ibunya dan bersembunyi di balik si ibu dengan ketakutan.  Apakah ini adalah tindakan tepat yang dengan sadar dilakukan sang ayah sebagai konsekuensi dari perbuatan anak?

Baca Juga : Merayakan Hari Anak Nasional, Disaat Masih Banyak Anak Dibunuh Orang Tua Kandungnya.

Mengutip cnnindonesia.com (10/10/2019), seorang ibu di Jakarta Barat, lalai. Bayinya yang masih berusia 40 hari meregang nyawa. sang bayi meninggal akibat tersedak pisang yang diberikan ibunya.

Sangat menyedihkan ketika ibu tersebut mengatakan bahwa ia tidak tahu jika bayi usia 40 hari masih belum boleh diberi makan.

Berbagai kejadian ini menimbulkan tanda tanya.  Siapakah yang seharusnya bertanggung jawab? Siapa yang hendaknya membantu para orang tua atau para calon orang tua agar berpengetahuan cukup untuk mengasuh, mendidik dan memperlakukan buah hati mereka dengan tepat?

Laman pusatkemandiriananak.com (1/7/2018) mengutip  Encyclopedia of Psychology, bahwa pengasuhan memiliki tiga tujuan utama: Memastikan kesehatan dan keselamatan anak-anak, mempersiapkan anak-anak untuk hidup sebagai orang dewasa yang produktif, dan menurunkan nilai-nilai budaya.

Pengasuhan meliputi fisik, emosi dan sosial, agar anak  mampu berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Dimana keberhasilannya ditentukan oleh hubungan yang sehat dan  berkualitas antara orangtua dan anak.

Lantas siapa yang bertanggungjawab membantu para orang tua muda ini mengasuh dan mendidik anak-anak mereka dengan baik?

Pertama:  Pasangan calon orang tua atau orang tua muda  yang besangkutan sendiri.

Menikah dan menjadi orang tua adalah hal yang tidak terpisahkan. Sejatinya sepasang calon orang tua ini harus membekali diri dengan cukup dan dengan sadar mencari informasi tentang bagaimana seharusnya menjadi keluarga atau orang tua yang tepat.

Baca Juga: Menjadi Orang Tua, Siapkah?

Mengupdate diri dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Membaca buku, artikel tentang parenting, melalui media sosial yang teruji kebenerannya atau bahkan mendapat informasi dari orang-orang terdekat yang sudah berpengalaman maupun para professional dalam bidang pengasuhan anak.

Kedua:  Orang tua dan orang terdekat dari para ‘orang tua muda’ tersebut. Tentu saja peran orang tua dan orang terdekat yang berada di sekitar pasangan muda ini sangat berpengaruh besar dalam memberikan pengetahuan atas apa yang harus mereka lakukan untuk menjadi orang tua yang baik.

Orang-orang di lingkaran calon orang tua ini juga harus mulai lebih peduli dan proaktif memberikan bimbingan dan masukan yang tepat terhadap mereka untuk bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Ketiga: Instansi Kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dan pendampingan psikologi sebelum pernikahan, pada saat kehamilan, paska melahirkan dan tumbuh kembang bayi, balita dan remaja bisa dilakukan instansi kesehatan untuk pendampingan para orang tua ini.

Namun ini kembali lagi pada peran proaktif pasangan muda ini bersangkutan untuk belajar bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik. Mendatang berbagai fasilitas kesehatan untuk memeriksa diri dan  belajar.

Baca Juga: Menjadi Orang Tua Sepenuhnya untuk Remaja Kita

Keempat: Lembaga Keagamaan dan Instansi Pemerintah. Benar bahwa sudah ada wacana tentang pendidikan bagi calon pengantin diwajibkan sebagai salah satu syarat untuk menikah. Ini adalah hal baik dan menggembirakan.

Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan bahwa yang terpenting bukan sertifikasinya melainkan ide dan gagasan dari hasil pelatihan (liputan6.com 16/11/ 2019).

Orang tua harus benar-benar mengetahui pola pengasuhan dan pendidikan anak yang sangat spesifik sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan mereka. Tanggung jawab orang tua adalah pendampingan yang berkesinambungan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak.

Untuk alasan inilah sebuah keluarga baru harus didampingi dan berusaha untuk belajar tanpa henti demi perkembangan terbaik buah hati mereka. (Disarikan dari berbagai media online / foto: hipwee.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of