Depoedu.com-Hidup bahagia menjadi tujuan hidup semua orang. Banyak orang berpikir bahwa berhasil dalam karir dengan jabatan yang mentereng dengan gaji yang besar, membuat mereka dapat memperoleh banyak hal yang mereka mau.
Bisa memiliki rumah mewah, mobil bagus, anak mereka bisa sekolah di sekolah bagus, tapi sering sakit-sakitan. Ternyata jabatan dan gaji besar tidak otomatis mendatangkan kebahagiaan.
Sementara ada orang lain yang di tempat kerjanya tidak memiliki jabatan tinggi, oleh karena itu, memiliki gaji yang tidak besar. Tiap bulan penghasilan tersebut dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Dalam keterbatasan, mereka ternyata dapat menikmati hidup bahagia.
Situasi ini kerap menjadi pertanyaan banyak orang. Faktor atau resep apa sih yang dapat menyebabkan orang bisa hidup bahagia? Pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan yang memicu sebuah tim riset dari Harvard University.
Harvard University kemudian membentuk tim penelitian untuk menjawab pertanyaan penting ini. Tim ini melakukan penelitian longitudinal sejak tahun 1938. Jauh setelah itu, yakni 85 tahun kemudian, tim tersebut mengeluarkan hasil risetnya, yang menjawab pertanyaan penting tersebut.
Baca juga : Mengenal Lima Negara, Tujuan Belajar Terbaik Di Dunia
Pada awalnya tim ini melakukan penelitian dengan 268 responden. Mereka adalah mahasiswa Harvard University tahun kedua. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan secara longitudinal terhadap 1.300 keturunan mereka yang saat ini berusia antara 50-60-an tahun.
Sebagaian dari responden generasi kedua ini, kini menjadi pengusaha sukses, dokter, pengacara. Sebagian lainnya kini menjadi penderita skizofrenia, langganan konsultan psokologi/psikiater. Bahkan menjadi pencandu alcohol.
Para peserta secara periodik 10 tahunan, diminta menjawab pertanyaan mendetail tentang kehidupan mereka dalam interval dua tahun terakhir.
Penelitian longitudinal tersebut berupaya mengungkap petunjuk ke arah faktor penyebab hidup yang sehat dan bahagia, termasuk bagaimana pengalaman awal hubungan sosial dalam kehidupan mereka, mempengaruhi penuaan dan kesehatan mereka.
Hubungan Sosial Yang Positif
Setelah bekerja secara konsisten dalam jangka waktu yang lama, para peneliti menyimpulkan bahwa hubungan sosial yang positf membuat manusia hidup lebih bahagia, lebih sehat secara fisik dan mental, dan dapat mencapai umur panjang.
Baca juga : Enam Kebiasaan Buruk Yang Dapat Merusak Otak
Robert Waldinger, salah seorang tim peneliti ini, mengatakan, ada kaitan yang sangat erat antara hubungan sosial yang positif dengan hidup bahagia dan umur panjang. Oleh karena itu, penting merawat tubuh anda, tetapi sama pentingnya merawat hubungan sosial anda dengan orang lain agar tetap dalam hubungan yang positif.
Kata Waldinger, cakupan hubungan sosial yang positif tersebut adalah hubungan dengan pasangan, hubungan dengan anak, hubugan dengan teman, termasuk di lingkungan kerja, hingga hubungan sosial dengan komunitas.
Orang dengan hubungan sosial inti yang positif dengan pasangan dan anak, akan hidup lebih bahagia, lebih sehat, oleh karena itu umur lebih panjang. Kata Waldinger, hidup dalam kesendirian di usia tua itu membunuh, sama kuatnya dengan merokok atau menjadi alcoholic.
Bahkan mereka akan terhindar dari kebiasaan merokok dan alkohol. Para peneliti juga menemukan bahwa orang dengan hubungan sosial yang positif akan mengalami dukungan sosial yang lebih kuat, oleh karena itu mengalami penurunan mental yang lebih sedikit, lebih lambat pada saat mereka menua.
Menurut Eduers, bagaimana pendapat Eduers tentang temuan peneliti Harvard ini? Bagaimana hubungan sosialmu dengan orang terdekatmu? Perbaikilah jika perlu, karena hubungan sosialmu menentukan kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu ternyata tidak ditentukan oleh hartamu.
Foto:Hop Church

[…] Baca juga : Penelitian Harvard University Selama 80 Tahun Mengungkap Resep Hidup Bahagia […]