Apa Kata Jack Ma Tentang Pentingnya Ujian Nasional dan Pengembangan Soft Skill di Sekolah?

Tokoh
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Sudah banyak diketahui, Jack Ma adalah founder Ali Baba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Ia merupakan warga China daratan pertama yang muncul di Majalah Forbes dan terdaftar sebagai biliuner dunia.

Setelah cukup lama menjabat sebagai Chairman eksekutif Ali Baba Group, tahun ini ia memutuskan pensiun dari perusahaan yang didirikannya itu. Hari-hari pensiunnya ia isi dengan aktivitas terkait dunia pendidikan. Di banyak forum ia bicara tentang pendidikan. Padahal, selama bersekolah, ia memiliki banyak pengalaman buruk.

Misalnya, di sekolah dasar, ia dua kali gagal lulus ujian akhir karenanilai akademiknya buruk. Ketika masuk SMP, ia tiga kali gagal dalam tes masuk. Dengan skor pas-pasan yang diperoleh dari SMA, ia hanya bisa diterima di Sekolah Tinggi Pendidikan Guru Bahasa Inggris.

Ia sempat menjadi guru Bahasa Inggris setelah lulus kuliah. Namun ia kemudian memutuskan migrasi ke Amerika Serikat dengan mimpi belajar Ilmu Hukum di Harvard University.

Di  universitas terbaik di Amerika Serikat ini, Jack Ma sembilan kali mengikuti tes masuk dan gagal. Hingga sekarang mimpinya menjadi mahasiswa ilmu hukum tidak kesampaian.

Perspektif Baru tentang Pendidikan

Pengalaman pahit gagal di sekolah dan jatuh bangun merintis Ali Baba hingga sukses, membuatnya melihat “benang merah” yang khas, tentang pendidikan.

Di banyak forum tentang pendidikan, ia menyampaikan gagasan tentang pendidikan, yang tidak hanya berbeda dari arus utama, melainkan juga merupakan terobosan yang dibutuhkan perkembangan dunia saat ini.

Seperti baru-baru ini, ketika berbicara di Konferensi Organization forEconomic Co-operation Development (OECD), Jack Ma menyampaikan pokok pikiran yang sangat menarik.

 “Jika ingin para murid sukses kelak, maka fokus pendidikan bukan lagi pada target pencapaian konten kurikulum dan akuntabilitas, melainkan pada pengembangan kapasitas murid dalam mencintai”, kata Jack Ma, seperti dikutip detiknet.

“Jika ingin sukses, murid harus belajar bergaul dengan orang lain. Itu artinya, yang harus dikembangkan adalah EQ. Murid harus punya daya juang agar tidak cepat kalah”, tegasnya.

Baca Juga: Pesan Jack Ma Bagi Anak Muda Tentang Bagaimana Meraih Sukses

“Namun, jika ingin menjadi pribadi yang berharga, ingin dihargai, murid harus memiliki Love Quotient (LQ) yang tinggi. Itu adalah hasil pendidikan yang hingga saat ini tak tergantikan. Sementara otak telah dapat digantikan mesin. Hati tak dapat digantikan dengan mesin, mesin belum dapat mencintai”, lanjut Jack Ma.

Jack Ma kemudian menegaskan bahwa jika sistem pendidikan hanya fokus pada konten dan standarisasi, semua akan dapat dengan mudah digantikan oleh mesin.

Menurutnya, banyak pendidik memperdebatkan pendapat ini dengan alasan pengetahuan tidak boleh diabaikan, dan bahwa sekolah harus fokus pada kedisiplinan, juga ekspektasi akademik yang tinggi.

Lima Gagasan Penting

Pada kesempatan tersebut, ia kemudian meyampaikan lima pokok pikiran untuk memperbaiki kondisi pendidikan, dan membuat pendidikan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pertama, orang tua dan guru harus menginvestasikan waktu lebih banyak saat anak usia dini. Ini adalah syarat peletakan dasar bagi pengembangan kepribadian dan nilai-nilai dasar.

Menurutnya, keluarga, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar, memiliki pengaruh yang luar biasa. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih kuat memberi dukungan pada orang tua dan guru.

Kedua, Selain dukungan pada guru, ia secara khusus menegaskan bahwa orang tua dan pemerintah harus menghormati guru. Menghormati guru berarti menghargai pengetahuan sekaligus menghargai masa depan.

Dalam rangka itu, ia mendorong komitmen pemerintah untuk menaikkan gaji guru.

Baca Juga : Skill Mana yang Paling Dicari Pemberi Kerja Saat Merekrut Karyawan?

Ketiga, ia juga melihat pemerintah perlu membantu kepala sekolah dengan pelatihan kepemimpinan. Menurutnya, 60% guru meninggalkan profesinya karena tidak menyukai kepala sekolahnya.

Keempat, dunia pendidikan perlu mengubah indikator performa yang biasanya diukur lewat ujian, termasuk ujian nasional. Selama ini terbentuk opini bahwa nilai yang bagus dapat membuat murid berpeluang lebih besar mengakses pendidilan bermutu dan meraih pekerjaan.

Jack Ma menegaskan bahwa saat ini sudah tidak lagi seperti itu. Ia menegaskan bahwa  universitas tidak lagi menjamin pekerjaan untuk para lulusan perguruan tinggi seperti dulu.

Ali Baba Group  mempekerjakan lulusan MIT dan Harvard, bukan karena nilai bagus yang mereka peroleh. Juga bukan karena nama besar kampusnya, melainkan karena orang-orang yang diterima tersebut, siap belajar seumur hidup.

Baca Juga : IPK Bukanlah Segalanya dalam Dunia Kerja

Ia menegaskan bahwa saat ini, gelar sarjana tidak lebih dari sekedar kuitansi sebagai bukti pembayaran uang sekolah. Oleh karena itu, upaya memupuk minat baca sejak dini, untuk memastikan semangan belajar sepanjang hayat sangat diperlukan.

Kelima, pendidikan harus membekali murid dengan soft skills seperti daya juang dan kemampuan bekerja dalam tim. Menurutnya, daya juang sangat diperlukan. Karena ketika bekerja atau merintis usaha, mereka bisa bangkit kembali setelah ditolak, atau ketika gagal, yang selalu akan terjadi.

Tentang kerja tim, Jack Ma menyarankan agar lebih memberi perhatian pada pelajaran seni dan olah raga tim.

China menurutnya sangat buruk dalam hal ini. Ini terlihat dari keberhasilan China di olah raga individu, bukan olah raga tim seperti sepak bola. (Foto: bisniskokoh.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of