Kisah Guru Menangis Karena Juara I Lomba Group Band

Tokoh
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Ini benar-benar suatu kisah unik meskipun kisah ini berlangsung sejak puluhan tahun silam. Seorang guru menangis karena kelompok group musik yang ia dampingi meraih juara satu menyisihkan peserta lainnya dalam sebuah lomba di Waiwerang.

Kisah tersebut diceritrakan oleh Yos Ola Beda, dalam acara talk show dalam rangka memperigati memperingati 50 tahun Karang Taruna (KT) Kadiare pada 27 Juni 2024, di pelataran desa Tuwagoetobi. Yos Ola Beda adalah salah seorang pendamping KT Kadiare kala itu.

Hadir dalam kesempatan tersebut mantan ketua KT Kadiare seperti Rmanus Roman, Hironimus Ola dan Gabriel Guna Hala. Hadir pula Tokoh muda Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur, dan Veronika Lamahoda, seorang pengiat LSM Flores Timur.

Yos Ola mengisahkan, tahun 1984 ada beberapa kelompok band musik berkembang di Adonara, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari sekian kelompok musik tersebut, nama Sinar Remaja Band (SRB) sangat populer. Eksistensi kelompok musik di Desa Tuwagoetobi/Honihama ini sungguh menjadi patron bagi blantika musik di Adonara ketika itu.

Yoseph Ola Beda, sosok guru yang menjadi pembina musik Sinar Remaja Band (SRB) itu mengaku menangis setelah diumumkan menjadi Juara I. Tahun 1989 ia mendampingi kelompok ini untuk berlomba di Kecamatan Adonara Timur, Waiwerang.

Baca juga : Pendaftaran Beasiswa Unggulan Tahun 2024 Bagi Masyarakat Berprestasi Dibuka Kembali

Oleh karena ketekunan, keuletan dalam latihan, ketika membawakan lagu wajib dan pilihan, biduan dari Honihama ini sungguh menorehkan prestasi menjadi juara I saat merayakan Hari Sumpah Pemuda.

“Ada suatu hal yang paling diingat, saat memulai lomba, peserta dari Honihama yang tampil sebelum menyanyi, ia terlebih dahulu mencium bendera Merah Putih lalu setelah itu baru menyanyi,” kisah Yosef Ola.

“Dan selesai menyanyikan lagu wajib dan pilihan itu sungguh–sunguh memukau dan membawa kelompok band ini meraih juara satu,’’  lanjut Yosef Ola di hadapan ratusan warga Desa Tuwagoetobi, menyaksikan kilas balik sejarah organisasi Karang Taruna Kadiare, Kamis, 27 Juni 2024.

Lebih lanjut ia menceritakan ketika diumumkan di Waiwerang, personel SRB tidak langsung kembali ke kampung, dan baru kembali setelah keesokan harinya ke Honihama.

Suasana di kampung sudah bisa ditebak, telah disiapkan, ketika mendengar bahwa SRB juara I maka sebelum masuk ke gerbang desa, kelompok ini diterima dengan tarian hedung, menari (khas Adonara) di gerbang sub Desa Riangduli.

“Waktu kami dijemput, saya melihat ada dua tokoh kampung yang setia menunggu. Bapak Ola Begu dan Hamid Lewo Rua. Dua tokoh adat ini, setia menunggu kedatangan kami. Saat itu saya betul-betul, terharu dan menangis,’’ kisah Yos Ola.

Tahun 1974, kata Yos Ola,  memang “gemohing’ ini berkembang biasa-biasa saja tapi kemudian mengalami perkembangan pesat, dengan hadirnya alat musik yang merupakan kontribusi semua anggota, termasuk para perantau khususnya di Malaysia sebagai Gerakan Cinta Lewotana.

Setelah pembelian alat musik, berbagai kegiatan pementasan drama bahkan di beberapa tempat seperti Boleng, Witihama, bahkan tampil mengiringi lagu-lagu dalam acara pernikahan di Sagu dan Lembata (Lewoleba).

Hadirnya Karang Taruna ini menjadi perhatian pemerintah kala itu, yakni Dinas Penerangan Kabupaten, yang kemudian mengubah Karang Taruna menjadi Klompencapir (Kelompok Pembaca Pendengar dan Pemirsa).

Kelompok ini, aktif melakukan berbagai kegiatan seperti membaca, mendengar dan menonton TV untuk mendapatkan pengetahuan bermakna demi kemajuan organisasi, bahkan kelompok ini diberikan unit TV.

Baca juga : Rata-Rata IQ Orang Indonesia Berada Di Peringkat 129 Dunia, Di ASEAN Paling Rendah. Ini Penyebabnya

Yoseph Ola yang cukup lama mengabdi di SDK Honihama ini berpesan bagi generasi muda sekarang agar bisa mengulang keberhasilan Sinar Remaja Band seperti tahun-tahun silam. “Kalau bisa keberhasilan ini diulang kembali,’’ kata Yoseph penuh harap.

Turut menceritakan kisah kesuksesan dan perkembangan Kadiare adalah Romanus Roman, Hirominus Ola, Gabriel Guna Hala. Mereka adalah tokoh yang pernah menjabat menjadi Ketua Kadiare kala itu, yang ikut mengalami suka duka dan pasang surutnya Kadiare.

Veronika Lamahoda, pegiat LSM Perempuan ikut hadir, memberikan apresiasi kelompok KT Kadiare karena ini berawal dari kelompok masyarakat bawah dan perlu dilakukan dokumentasi dalam bentuk buku sehingga berguna bagi generasi mendatang.

Ikut memberikan masukan Ketua PGRI Flores Timur, Maksimus Masan Kian, S.Pd. Ia mengapresiasi Kadiare yang memasuki usia 50 tahun. Capaian ini merupakan suatu kebanggaan bersama. Ia berharap ke depan, Kadiare akan lebih maju.

Keterangan foto 1: Yoseph Ola Beda

4.5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments