The Great Showman, Inspirasi Menit Demi Menit

Hobby
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Diangkat dari kisah nyata perjuangan Phineas Taylor Barnum yang membawanya menuju kesuksesan, dari bisnis sirkus. Dari anak seorang tukang jahit, P.T. Barnum menjadi seorang pengusaha sukses, kemudian masuk dunia politik. Ia penah menjadi wali kota Bridgeport, negara bagian Connectiticut – USA, tahun 1875 hingga 1876.

Sutradara Michael Gracey, mengajak penonton untuk menyaksikannya dalam bentuk film musikal. Dibintangi oleh Hugh Jackman, The Greatest Showman menyajikan pertunjukan orang-orang aneh dengan lagu-lagu melodik. Selain akting Hugh sebagai Barnum yang patut diacungi jempol, baik dari lirik lagu maupun dialog para pemerannya menyajikan nilai-nilai kehidupan yang menginspirasi setiap penontonnya.

Dimulai dari menit pertama, film ini menyajikan kerasnya perjuangan seorang anak penjahit miskin, yang kemudian ditinggal mati sang ayah. Barnum remaja tidak berhenti berjuang. Walau harus mencuri roti dan menjadi penjual koran.

Menit ke 13: rasa syukur akan mengalahkan musibah.

Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, Barnum kehilangan sumber penghasilannya.

“Ini bukan hidup yang kujanjikan”
“ Tapi semua yang kuinginkan ada”
“Bagaimana dengan keajaiban?”
“Kau sebut apa dua gadis itu?”

Charity Barnum tahu bagaimana menanggapi keluhan suaminya. Mensyukuri keajaiban kecil pada kedua putri mereka yang akur periang bisa jadi penawar kegalauan seorang ayah yang baru dipecat.

Diawali dengan hadiah kecil untuk ulang tahun Caroline –pada menit ke 14-, “mesin penyimpan harapan itu akan menyimpan apapun harapanmu. Bahkan ketika dilupakan, harapan itu selalu ada”, Barnum tahu bahwa setiap harapan baik akan direkam alam. The Law of Attraction – Hukum Daya Tarik – bahwa energi positif yang keluar melalui harapan baik akan menarik apapun di sekeliling Anda yang selaras dengan harapan itu. Barnum mengajarkan anaknya dan kita untuk tetap berharap pada apapun yang kita cita-citakan.

Menit ke 20 kita belajar untuk mendengarkan juga anak-anak. Kepolosan anak-anak bisa jadi adalah inspirasi murni yang bisa merubah banyak hal. Caroline dan Helen tahu bahwa museum patung lilin tidak cukup menarik pengunjung. Ayah mereka butuh sesuatu yang “hidup”. Putri Duyung dan/atau Unicorn. Barnum kemudian mengumpulkan sekelompok “orang unik”. Bisnis sirkusnya dimulai.

Sebagai orang tua, pada menit ke 35, Barnum menginspirasi untuk tetap menudukung anak-anak kita bahkan ketika mereka menyerah. Pada saat yang sama Charity Barnum menginspirasi kita untuk tidak mengukur anak berdasarkan apa yang orang tua alami. “Dia akan belajar mengabaikan mereka, seperti aku”. Charity mengukur daya tahan Caroline dengan dirinya saat menghadapi bullying.

Popularitas adalah harga mati bagi seorang pesohor. Begitu juga dengan Jenny Lind – seorang penyayi opera – pesohor sedaratan Eropa. Bagi Phillip sangat keterlaluan ketika Barnum tidak mengenal Lind. Apalagi saat menawarkan kerjasama bisnis. “Pernah dengar aku menyanyi?” pertanyaan Jenny Lind ini mewakili seluruh integritas dan harga dirinya. Untuk sebuah kerjasama bisnis bisa saja Barnum memberi kesan yang menegaskan keinginan yang tersirat dari pertanyaan Lind. Popularitas yang diakui adalah pemulus jalan kerjasama mereka. Namun jawaban singkat Barnum yang membuat Phillip juga tercekat. “Belum”. Singkat dan padat. Menit ke 46, Barnum menginspirasi kita untuk memulai segala sesuatu dengan sikap jujur, terbuka dan apa adanya.

Kita bisa melihat ekspresi ayah mertua Barnum memberi apresiasi tulus pada menantunya. “Kau melakukannya dengan baik”. Sayangnya keangkuhan Barnum menghapus momen indah itu. Siapapun atau apapun keburukan yang pernah dilakukan di masa lalu, tidak cukup menjadi alasan untuk mempermalukan seseorang; apalagi di hadapan khalayak ramai. Menit ke 54 menginspirasi kita tentang itu.

Menit ke 67 memberi inspirasi bahwa kita tidak boleh menghidupkan kembali masa lalu kita. Masa lalu adalah milik sejarah. “Ayahku memperlakukanku seperti kotoran. Aku diperlakukan seperti kotoran.” Masa lalu harus menjadi pijakan agar berusaha lebih keras untuk masa depan. “Anak-anakku tak akan seperti itu”, aku Barnum pada Charity istrinya.

Popularitas dalam diri Jenny Lind dan bertambahnya kekayaan dari setiap tour adalah godaan yang luar biasa bagi Barnum. “Dunia di bawah kaki kita.” Nona Lind menawarkan kekuasaan sekaligus dirinya. Barnum menginspirasi kita akan keteguhan hati seorang kepala keluarga pada menit ke 72 ini. “Aku harus pergi.” Ia menolak godaan.

Pada menit ke 82, Charity Barnum menginspirasi kita bahwa saling percaya dalam kehidupan rumah tangga sangat penting. “Aku akan bilang ia”, luapan kekecewaan Charity ketika mengetahui keputusan Barnum suaminya meminjam uang demi tuor Jenny Lind. Apalagi ketika itu mengakibatkan rumah mereka disita.

Ungkapan terima kasih dari para pekerja sirkusnya menjadi titik balik bagi Barnum. Menit ke 73 ketika “Ibu kami sendiri malu dengan kami”, kemudian “mungkin kamu seorang penipu”, lalu “tapi kamu member kami keluarga sejati”. Dunia kerja bisa saja bukan semata-mata hubungan majikan dengan para pekerja. Bagi sebagian orang hubungan kekeluargaan, persahabatan, yang timbul dalam dunia kerja adalah hal yang penting. “Sirkus ini adalah rumah kami. Dan kami menginginkan rumah kami kembali” seolah memberi semangat baru bagi Barnum untuk bangkit dari keterpurukannya.

Rekonsiliasi yang ditawarkan Barnum pada Charity istrinya menit ke 89 sungguh menginspirasi. Ia tidak mengucapkan maaf. “Aku ingin menjadi lebih dari diriku yang dulu,” Barnum menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekedar permintaan maaf. “Aku hanya menginginkan pria yang kucintai”, oleh Charity melebihi sekedar ucapan ‘aku memaafkanmu’.

Bagian terakhir film ini menginspirasi kita bahwa pemimpin besar adalah mereka yang menyiapkan generasi kepemimpinan sesudahnya. “Ini untukmu”; Barnum menyerahkan kepemimpinan sirkus kepada Phillip dengan memberikan topi dan tongkatnya. Barnum tahu kapan ia harus pensiun karena yakin akan pemimpin baru yang sudah ia persiapkan. Suksesnya kepemimpinan diukur juga dari pilihan yang diambil seorang pemimpin saat purna tugas. Apakah mencoba karir lain akibat dorongan “post power syndrome?” “Aku akan pulang ke keluargaku.” Barnum sudah selesai dengan dirinya. (Oleh: Senuken / Foto: starrymag.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of