Penetrasi Sosial dalam Kepanitiaan Event Olahraga

Hobby
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kepanitiaan event olahraga di Indonesia maupun  multi event  internasional olahraga  seperti   Asian Games dan Asian Para Games, pernah dilakukan  di Indonesia  pada  tahun 2018 lalu.  Pendaftaran  menjadi sukarelawan (volunteer) kepanitiaan event olahraga akbar ini,  membutuhkan 15.000 relawan yang terbagi menjadi dua kelompok. Dengan rincian sebagai berikut  yaitu 2000 untuk Pre-Event Asian Games dan 13.000 orang ditugaskan untuk acara utama di Jakarta dan Palembang. Calon sukarelawan harus mempunyai syarat salah satunya kemampuan komunikasi interpersonal.

Prosedur penerimaan juga beberapa tahap, yaitu ; pendaftaran online, penyeleksian, akreditasi, wawancara, dan psikotes, hingga terakhir menjadi sukarelawan. Dari seleksi tersebut sudah disaring individu yang dapat berkomunikasi dengan baik maupun individu yang  dapat bekerjasama. Penetrasi sosial dalam kepanitiaan event olahraga  sangat penting, di balik suksesnya event internasional sejenis Asian Games di Indonesia.  Karena  kesuksesan  tersebut tidak lepas dari sisi hubungan  komunikasi  interpersonal  atau antar individu  yang berjalan dengan baik dan terus menerus dari semua pihak yang berperan sehingga menghasilkan penetrasi sosial. Penetrasi sosial ada untuk mengungkap sejauh mana hubungan antar personal dari tiap–tiap individu, karena saat bertemu pertama kali, biasanya manusia hanya mengenal dari apa yang terlihat di depan muka atau sisi luarnya. Belum mengenal lebih jauh sikap dan pribadi sesungguhnya.

Kepanitiaan event olahrga yang melibatkan banyak orang, yang terdiri dari panitia dan sukarelawan atau volunteer. Yang terdiri dari lapisan masyarakat bahkan mereka belum mengenal satu dengan yang lain. Proses kerjasama dan kerja tim tidak terlepas dari penetrasi sosial,  di mana panitia dan sukarelawan saling berusaha  mengenal satu dengan yang lain.

Untuk  mengetahui perbedaan hubungan dan perubahan hubungan dapat ditinjau dari bidang  komunikasi. Karena melalui kaca mata komunikasi, kita dapat melihat bahwa komunikasi terbentuk dari pola-pola interaksi dan susunan perilaku responsif  sebelum dan sesudahnya dapat lebih dinamis. Bila hubungan jangka panjang berlangsung maka pola-pola tersebut dapat cukup stabil, kadang kala beberapa kejadian juga dapat menggerakkan hubungan ke arah yang baru dan tidak terduga.    Karena faktor kedekatan suatu hubungan antar individu tidak lepas dari penetrasi sosial. Penetrasi sosial hadir, untuk meneliti sejauh mana kedekatan individu dalam berkomunikasi.

Model teori penetrasi sosial menyediakan jalan yang lengkap untuk menggambarkan perkembangan hubungan interpersonal dan untuk mengembangkannya dengan pengalaman individu sebagai proses pengungkapan diri yang mendorong kemajuan hubungan. Sehingga, teori telah digunakan secara luas sebagai model dalam pengajaran mengenai hubungan interpersonal dan sebagai kerangka kerja dalam mempertimbangkan pengembangan hubungan. Kedua, teori penetrasi sosial juga menjelaskan bahwa dengan berkembangnya hubungan, keluasan dan kedalaman meningkat. Bila suatu hubungan menjadi rusak, keluasan dan kedalaman sering kali akan (tetapi tidak selalu) menurun, proses ini disebut depenetrasi. Ketiga, struktur personalitas digambarkan seperti Multi-lapis Bawang” sebagai berikut:

Gambar teori  lingkaran di dalam bawang merah:

Sumber gambar: ( www.slideshare.net )

Dalam sebuah hubungan ada yang intim, dan adanya peningkatan pengungkapan rasa hati maka itu adalah penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial menggerakkan tradisi penelitian lama, dalam mengembangkan suatu hubungan pada manusia. Pada motivasi individu dan pada perilakunya, sebagian besar dari peneliti yang mula–mula, ini adalah fokus  dari penetrasi sosial. Dan menanamkan karya ini dengan tradisi sosiopsikologis. Seseorang bila ingin melakukan penetrasi sosial harus melalui jalan yang kompleks, dengan  susunan kekuatan  untuk mengembangkan hubungan (Littlejohn & Foss, 2009).

Bayangkan teori penetrasi sosial dan hubungan interpersonal menurut  Altman dan Taylor membandingkan orang dengan bawang. Ini bukan percobaan mereka pada komentar dalam kapasitas manusia untuk mengganggu/menyakiti hati. Kupaslah kulit terluar bawang dan anda akan menemukan lapisan lainnya di bawahnya. Buang lapisan tersebut dan anda akan menyingkap lapisan ketiga dan seterusnya. Diibaratkan diri anda  seperti siung bawang merah.  Bila siung bawang merah dibelah, maka akan terlihat lingkaran – lingkaran di dalamnya. Pada lingkaran paling luar, diartikan bahwa keadaan diri yang diketahui seperti pengalaman, pengetahuan, gagasan, sikap, pemikiran, dan perbuatan kita. Sedangkan pada lingkaran paling dalam atau titik pada siung bawang merah itulah diri kita yang sebenarnya, sebagai  rahasia pribadi, tetapi ini  adalah bagian dalam dari diri kita, dalam hubungan antar personal  melalui penetrasi sosial.(Littlejohn & Foss, 2009)

Kita di ajak untuk lebih dalam mengenal orang melalui penetrasi sosial, seperti kita  mengenal  orang lain dari aspek yang sangat pribadi. Bagian lingkaran luar dari  siung bawang  adalah, informasi ini  lebih dari apa yang dapat dilihat oleh orang  dan kurang penting. Seperti cara kita berpakaian, tingkah laku kita sehari – hari, dan  apa yang kita lakukan agar dapat di lihat orang. (Littlejohn & Foss, 2009)

Altman dan Taylor mengungkapkan ada 4 tahap pengembangan hubungan yakni : satu, orientasi; dua, pertukaran afektif eksploratif; tiga, pertukaran afektif; empat, pertukaran yang seimbang. Tahap pertama, yaitu orientasi, pada tahap ini  yaitu orientasi terdiri atas komunikasi tidak dengan  orang tertentu, di mana seseorang hanya mengungkapkan informasi yang sangat umum. Tahap ini bermanfaat bagi pelaku hubungan, mereka akan bergerak ke arah selanjutnya. Tahap kedua, pertukaran yang afektif eksploratif, yaitu  gerakan yang menuju sebuah tingkat yang lebih dalam dari pengungkapan informasi. Tahap ketiga, pertukaran afektif terpusat pada perasaan mengkritik dan mengevaluasi pada tingkat yang lebih dalam. Tahap yang satu ini tidak akan dimasuki kecuali mereka menerima manfaat yang besar, yang sesuai dengan biaya pada tahap sebelumnya. Tahap keempat yaitu pertukaran yang seimbang adalah kedekatan yang tinggi dan memungkinkan mereka untuk saling memperkirakan tindakan dan respon yang baik. Contohnya pada orang yang mempunyai pasangan, kencan awal akan menggambarkan pertukaran eksploratif, pertukaran afektif yang penuh akan terjadi saat pasangan memulai rencana jangka panjang ke depan bersama, serta pernikahan ataupun kebersamaan di masa akan datang mewakili tahap pertukaran seimbang (Littlejohn & Foss, 2009).

Teori penetrasi sosial sangat penting, bila kita fokus pada  perhatian mengembangkan hubungan sebagai sebuah proses komunikasi. Namun hal tersebut dapat dimasukkan dalam  sebuah pengalaman hubungan individu sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin mengenal pribadi seseorang dari yang sifatnya umum ke arah yang lebih khusus lagi, dalam sebuah garis lurus.  Demikian juga dalam kepanitiaan event olahraga, hubungan antar individu berlanjut kepada penetrasi sosial, maka kurang komunikasi terhindari dan  kepanitiaan event–event  keolahragaan dapat dilaksanakan dengan baik. (Foto: inibaru.id)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of