9 (sembilan) Wawasan tentang Energi dalam Novel Manuskrip Celestin

Hobby
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Wawasan dari “Manuskrip Celestine” yang ada dalam novel The Celestine Prophecy karya James Redfield:

(1) Wawasan Pertama, atau “Massa yang Kritis”

Segala momen kebetulan yang terjadi memiliki tujuan yang lebih besar dalam hidup ini. Kita memiliki pilihan bebas untuk memaknai momen kebetulan sebagai sebuah isyarat untuk menentukan langkah selanjutnya, atau mengabaikan hal itu sepenuhnya. Yang paling penting adalah bahwa kita harus memeriksa setiap momen kecil yang terjadi dalam hidup harian, bahwa hal itu terjadi karena suatu tujuan, bahwa hal itu bisa saja merupakan isyarat atau semacam panduan untuk melangkah ke depan. Kita juga harus bisa menyadari momen kebetulan dalam kehidupan seseorang. Ada semacam kesadaran spiritual baru yang perlahan bangkit dan terjadi di sekitar kita. Ini adalah pengalaman personal sekaligus kolektif dan sebuah perjalanan yang dirangsang oleh momen kebetulan misterius.

(2) Wawasan Kedua, atau “Kekinian yang Lebih Panjang”

Kita harus sadar bahwa manusia telah berevolusi secara kontinuitas dari bentuknya yang paling sederhana di masa lalu. Perubahan terus-menerus terjadi dalam kehidupan manusia. Kita berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa dan sadar secara spiritual. Kita saat ini berada dalam era teknologi yang menawarkan kenyamanan dan keamanan material dalam bentuk maya. Keadaan ini berkembang karena kita terus-menerus mengajukan pertanyaan tentang kebenarannya kepada diri sendiri. Kita, pada satu titik, mengalami kegelisahan eksistensial tentang tujuan hidup ini. Dengan pemikiran semacam ini, dan keinginan untuk tetap mempertanyakan segalanya serta memelihara hasrat untuk terus mencari makna hidup, kita akan berkembang menuju kesadaran spiritual yang lebih baik. Kita bakal mengalami peningkatan pemahaman tentang sejarah dunia dan evolusi manusia. Sementara kemajuan teknologi merupakan langkah penting dalam evolusi manusia dan bisa dikatakan telah memberikan banyak “manfaat”.  Kesadaran kita terhadap berbagai macam momen kebetulan yang terjadi dalam hidup harian akan menuntun kita menuju tujuan kehidupan yang sebenarnya di planet ini dan memahami sistem “kekacauan alamiah” semesta. Kita harus hidup dengan pikiran yang tetap terbuka dan terus berotasi (berjalan-bergerak) dengan  hati yang sekuat batu karang untuk siap menghadapi apa pun dan ikhlas menerima segala konsekuensinya.

(3) Wawasan Ketiga, atau “Masalah Energi”

Kita harus menyadari bahwa semua makhluk hidup memiliki medan energi. Tanaman, manusia, hewan, atau makhluk hidup apa pun, memiliki energi tertentu dan kita bisa melatih diri untuk merasakan atau bahkan melihat pancarannya. Kita bisa memfokuskan energi kita pada hal-hal yang kita inginkan, dan vice versa (diposisikan sebaliknya). Dengan setiap upaya untuk memfokuskan energi kita ke arah atau keberadaan tertentu, kita bukan hanya menciptakan lingkungan hidup yang kondusif untuk aksi semacam itu, melainkan juga memengaruhi sistem energi lain untuk mewujudkannya. Kita harus sadar bahwa kita tidak hidup di dunia material dan semesta materialistis belaka, namun juga pada dimensi energi yang dinamis dan sakral.

(4) Wawasan Keempat, atau “Saling Berebut Kekuasaan”

Manusia dan semua makhluk hidup adalah energi. Segala hal yang kita berikan kepada orang lain dan apa-apa yang kita terima dari orang lain merupakan energi. Kita hanya sedikit memahami fakta bahwa kita adalah sumber energi yang cukup hebat bagi Bumi. Kita gagal mengenali potensi tersembunyi untuk menyalurkan energi atau menerima energi dari sumber lain. Kita harus sadar bahwa kita menghidupkan energi orang lain dengan jumlah yang sama dengan yang kita berikan pada mereka. Kita terkadang terputus dari energi kita sendiri dan akhirnya merasa hina serta depresi. Terkadang kita mencoba untuk mendapatkan energi secara agresif, dengan menyerang atau menghina orang lain, dan hal ini mengganggu keseimbangan energi orang lain. Saat kita mendominasi orang lain dengan cara berbicara kasar atau melakukan aksi menindas seenaknya, kita sebenarnya sedang berusaha merebut-paksa energi orang lain dan menciptakan ketidak-seimbangan. Kita terbiasa bersaing untuk memperebutkan energi lebih banyak untuk kepentingan diri kita sendiri dengan mengorbankan dan menindas orang lain, dan inilah yang asal-muasal terciptanya konflik.

(5) Wawasan Kelima, atau “Pesan Para Penganut Mistik”

Kita harus sadar bahwa manusia punya kecenderungan/keranjingan untuk mengontrol orang lain atau apa pun. Kita harus menyadari bahwa penyebab sebenarnya dari ketegangan, keresahan, kekerasan, kegelisahan, kecemasan, masalah dan konflik mental adalah karena “drama pengendalian mental” yang kita berikan (atau terima) kepada (atau dari) orang lain. Kita harus sepenuhnya menyadari bahwa energi negatif yang dihasilkan oleh “drama pengendalian mental” ini tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita atau orang lain di sekitar kita. Saat kita bisa terhubung dengan kejernihan batin kita, maka ketegangan, keresahan, kekerasan, kegelisahan, ketidak-amanan, dan emosi-emosi negatif lainnya akan lenyap. Selanjutnya kita bisa merasakan keringanan dan kecerahan hati, yang bentuk tertingginya digambarkan sebagai kemurnian cinta dan kasih sayang.

(6) Wawasan Keenam, atau “Menjernihkan Masa Lalu”

Kita harus mulai membentuk kesadaran bahwa hidup ini memiliki tujuan dan makna. Kita punya impian untuk dipenuhi dan lembaran takdir yang harus ditulis sendiri. Tidak ada satu pun yang hidup tanpa tujuan, entah itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dan hidup adalah tentang menemukan makna dan memenuhi tujuannya — menghidupi hidup: amor fati! Kita semua memiliki “misi spiritual” serta terus-menerus melakukan pencarian tujuan dan makna di dalamnya. Kita harus tetap terhubung, untuk menyelaraskan pikiran dan batin, setiap saat. Kita harus sebisa mungkin menjernihkan masa lalu dan tetap memiliki koneksi dengan diri kita sendiri. Kita harus bisa menyadari bahwa saat kita berada dalam tekanan yang tidak mengenakkan, kita cenderung kehilangan hubungan dengan pikiran dan batin kita sendiri, dan hal ini membuat energi kita bagai getah dibawa ke semak. Kita menjadi rentan untuk dikontrol oleh “drama pengendalian mental” orang lain atau energi kita sepenuhnya diserap dan direbut-paksa oleh orang lain.

(7) Wawasan Ketujuh, atau “Melibatkan Arus”

Beberapa tindakan dan pemikiran kita dalam hidup ini dirangsang dan dipandu oleh faktor eksternal. Ada begitu banyak pertanda, pesan, indikasi, momen kebetulan, dan semacamnya yang harus selalu kita perhatikan dengan cermat. Jika kita tahu dan paham tentang “misi” kita dalam hidup personal, maka kita akan dituntun menuju pemenuhan takdir dengan pemikiran, pesan, mimpi, intuisi, dan lain-lain. Semua ini mengarah pada situasi saat intuisi kita diselaraskan dengan orang lain dan kebijaksanaan bakal mengekor di belakangnya. Pikiran dan hati kita akansegera mengetahuinya jika kita terbuka untuk menerima arus pesan semacam itu.

(8) Wawasan Kedelapan, atau “Etika Antarpribadi”

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Kita harus menyadari bahwa orang-orang tertentu yang kita jumpai dalam hidup ini memiliki jawaban untuk beberapa pertanyaan kita, dan vice versa — serta perjumpaan semacam ini bisa terjadi karena kita terus menjaga api hasrat pencarian tetap menyala. Kita harus sadar bahwa orang lain bisa memberikan jawaban yang selama ini kita cari. Oleh sebab itu, kita harus terbuka kepada orang lain yang pada gilirannya akan bisa membantu kita — semacam timbal-balik atau aksi-reaksi yang saling menguntungkan dari simbiosis mutualisme. Kita bisa meningkatkan frekuensi perjumpaan semacam ini di dalam hidup harian kita dan menyuburkannya dengan kekayaan pengetahuan. Kita harus berhati-hati untuk tidak kehilangan hubungan dengan pikiran dan batin kita sendiri saat terseret ke dalam persoalan yang serius atau ketika terlibat dengan / kecanduan terhadap orang lain. Anak-anak harus diperlakukan sebagai individu yang utuh dan harus dihormati apa adanya. Pengetahuan sejati harus diberikan kepada anak-anak dengan metode pembelajaran yang tulus, jujur, dan sesuai dengan pengertian mereka.

(9) Wawasan Kesembilan, atau “Kebudayaan [Baru] yang Muncul”

Kita bergerak menuju tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan mulia secara spiritual. Hal ini terjadi di mana-mana. Kita harus memahami bahwa makhluk hidup [khususnya umat manusia] sedang berada dalam perjalanan menuju kehidupan yang lebih ideal, yang selaras secara sempurna antara satu sama lain, dan dunia ini pada akhirnya akanberkembang menjadi Taman Eden. Evolusi dan pertumbuhan teknologi akan mendorong manusia mencapai keadaan mandiri utopis di mana tidak ada kekhawatiran mengenai kenyamanan dan keamanan dalam hidup. Kemajuan teknologi semacam ini akan membawa umat manusia ke kondisi energi yang lebih tinggi dan menjadikannya makhluk yang lebih spiritual. Hal ini akan mengarah pada suatu utopia di mana siklus kelahiran dan kematian bakal berakhir sepenuhnya dan tubuh fisik akan menyatu dengan dimensi spiritual: mengabadi.

Catatan:

Mohon kita mengingat bahwa The Celestine Prophecy adalah sebuah novel, sebuah karya sastra fiksi. Ada banyak orang mengapresiasi sebuah karya sastra berbeda-beda tergantung dari pengetahuan awal yang dimiliki pembaca dan juga pengalaman yang dimilikinya. Redfield berani mengungkapkan gagasannya tentang kesadaran spiritualitas dalam sebuah novel yang menarik untuk dibaca. Secara keseluruhan, novel ini berhasil menginspirasi — sekaligus juga membingungkan (atau mengecewakan bagi orang tertentu). Sesungguhnya hidup memang bersinggungan dengan suatu perkembangan spiritual yang personal dan memesona.  Sebuah perkembangan yang sampai saat ini belum mampu dijelaskan sepenuhnya oleh sains, filsafat, atau agama.

Hal yang paling menawan dalam novel ini adalah sisipan pesan-pesan sederhana namun konkret demi kehidupan hari ini yang lebih baik dan lebih membahagiakan: berbagi kasih sayang dan cinta, menumbuhkan simpati dan empati, melestarikan alam, melakukan meditasi, mengurangi hasrat konsumtif, menjadi vegetarian, dan merespons ketidak-adilan dengan perlawanan tanpa henti.

Pada bagian menjelang akhir cerita, salah satu karakter menjelaskan hilangnya peradaban suku Maya beserta seluruh kebudayaannya dari Bumi karena mereka berhasil memperluas dunia fisik dan menyeberang ke dunia spiritual dengan meningkatkan vibrasi energi. Namun, ini tidak berarti menjelaskan lenyapnya suku Maya tanpa jejak dari planet ini karena gagasan eksodus massal yang transenden dan indah seperti itu. Hilangya suku Maya masih belum ada bukti atau indikasi konkret dan ilmiah. Atau mungkin saya belum menemukan penjelasan yang masuk akal (menurut saya) yang tak mudah menerima hal yang tidak logis.  (Foto :bukubukubekas.wordpress.com)

  • disarikan dari novel The Celestine Prophecy karya James Redfield 
Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of