Bermain Tik Tok Menuai Perundungan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Selamat pagi para pendidik se- Indonesia. Semangat pagi! Jagat maya tanah air sedang dihebohkan dengan sosok seorang anak SMP kelas 8 yang bernama Prabowo Mondardo atau dikenal dengan Bowo Alpenliebe. Kita melihat beritanya bahwa anak ini menjadi korban perundungan (bully). Dan yang kita ketahui lagi bahwa yang melakukan perundungan itu termasuk orang dewasa.

Kita sebagai pendidik merasa risih, miris, dan prihatin melihat anak kita tumbuh dalam dunia yang kita tak mengenalnya lebih jauh. Kita hanya mengenal secara sekilas dan melihatnya kok tak ada faedahnya. Karena itu saya jadi ingin menuangkan perasaan dan gagasan saya lewat tulisan ini tentang kejadian ini.

Saya guru SMP. Saya mengenl persis bocah seusia Bowo ini. Pecicilan, moody, tak tahu aturan, seenaknya sendiri, cenderung egois, pengen eksis, merasa sok gede, ngeyel, dll. Bagi para pengajar SMP pasti sangat apal dengan karakter anak-anak kita, terutama pada usia ini. Pokoknya, generasi kita mengelus dada dengan kelakuan mereka.

Namun, dibalik kelakuan mereka yang menjengkelkan, saya juga merasakan cinta mereka. Saya merasakan kepolosan, keluguan, dan kemurnian mereka. Mereka ini jujur, blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Kalau mereka sudah sayang dengan gurunya, minta ampun sayangnya lengket. Apalagi generasi anak sekarang yang emosinya langsung diekspresikan.

Datang ke kelas, tiba-tiba brudul maju ke depan: ada yang bilang mau ke belakang, mau minjem barang, ada yang memeluk, ada yang mengeluh, ada yang rebutan mau pasang infocus, ada yang ngadu, dll. Ketemu di jalan nyelonong lngsung nemplok minta dipeluk.

Saya melihat berbagai cuitan, berita, komentar, berbagai analisis tentang Bowo ini kok ya jadi ikut merasakan seolah Bowo adalah murid saya. Bowo yang ingin eksis dengan aplikasi Tik Tok ini menjadi kontroversi. Bowo pun anak yang punya keluarga yang pasti menyanginya.

Pasti mereka ikut bangga sekaligus terluka dengan yang dialami Bowo. Bangga karena anaknya terkenal dan juga bisa mendapatkan honor dari aksinya. Namun, pasti keluarga dan orang yang menyayanginya juga terluka dengan cyber bully yang diterima Bowo.

Tik Tok diketahui berasal dari China. Platform video musik dan jejaring sosial ini pertama kali diluncurkan pada September 2016 oleh sosok bernama Zhang Yiming. Zhang adalah pendiri Toutiao, perusahaan platform konten yang berbasis di Beijing. Toutiao sendiri bernaung di induk perusahaan Baytedance. Popularitasnya melesat kala pada Juni 2018, penggunanya telah meroket di angka 150 juta.

Saat ini, Tik Tok adalah platform video terkemuka di Asia dengan pertumbuhan pesat dan juga menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di iPhone. Dalam rangka ekspansi ke mancanegara, pengelola Tik Tok memutuskan masuk ke pasar Indonesia pada September 2017, yang langsung disambut hangat khususnya di kalangan kawula muda. Pro kontra pun mengiringi kedatangannya hingga akhirnya diblokir oleh Kominfo per 3 Juli 2018.

Mengapa Bowo ini bisa begitu terkenal di Tik Tok? Bowo Alpenliebe terkenal berkat video Tik Tok unik unggahannya. Keluwesan berakspresi di depan kamera membuatnya diidolakan banyak orang, terutama anak-anak dan remaja tanggung. Apalagi dia dinilai memiliki paras rupawan.

Dia juga pernah menggelar jumpa penggemar dengan menarik tiket seharga Rp80.000. Namun, dia membantah bahwa acara itu dia yang menggelar. Bahkan dia mengatakan bahwa dia tak mendapatkan uang speserpun dari acara tersebut. Ada pihak lain yang memanfaatkannya?

Sayangnya lagi Meet and greet Bowo ramai dibahas sejak video acaranya di Kota Tua beredar luas. Ada juga unggahan Instagram Story soal meet and greet yang katanya berbayar Rp 80 ribu hingga keluhan tentang sosok Bowo yang tidak sama dengan sosok di aplikasi Tik Tok. Sosok dipalikasi jauh lebih tampan dari aslinya.

Sebagai pendidik kita cerdas melihat mengapa Tik Tok ini bisa menghebohkan jagat persilatan maya. Seperti yang sudah diungkap di atas bahwa aplikasi ini memberikan special effects unik dan menarik yang dapat digunakan oleh penggunanya dengan mudah sehingga dapat membuat video pendek dengan hasil yang keren serta dapat dibagikan kepada teman-teman atau pengguna sosial media seperti instagram.

Karna kelebihan aplikasi Tik Tok inilah yang membuat banyak remaja yang gemar memainkan aplikasi ini. Namun dibalik asyiknya memainkan aplikasi ini, juga terdapat dampak negatif untuk remaja terutama untuk pelajar yang gemar memainkan aplikasi Tik Tok.

Dan berikut beberapa dampak negatif Tik Tok:

Penyebab generasi untuk suka bergoyang ria yang kurang pas untuk usia mereka karena dengan gerakan seronok dan memperlihatkan aurat. Kalau isi video itu hanya untuk kepentingan pribadi tidak jadi masalah. Namun, video ini dibagi di dunia maya yang ditonton oleh orang-orang.

Kita tahu bahwa orang itu tidak sama menanggapi suatu hal. Mending kalau itu ditonton oleh saya emak-emak, usia 54 tahun, seorang guru, perempuan. Namun, kalau yang menonton ini para predator anak kecil di luar sana? Mau apa lho! Sasaran empuk untuk dilecehkan dan dicari serta dimangsa.

Membuang-buang waktu anak-anak. Seharusnya mereka bisa mengerjakan PR, menyiapkan ulangan, menyiapkan tugas, eksplorasi, bersosialisasi, melakukan pengajian, kegiatan gereja, les ini itu, main sepeda, main di halaman, berlari-larian atau bermain game yang membuat ‘smart’. Lha ini, bocah malah gual-geol dan ngangkang-ngangkang depan kamera. Apa itu sehat? Apa itu berfaedah?

Betul-betul tidak ada positifnya ketika saya simak. Mungkin ada yang protes: Adalah manfaatnya Bu Nung! Kan bikin anak mengekspresikan diri. Lantas saya balik tanya: memang tak ada cara mengekspresikan diri yang lebih positif dan beradab daripada ngangkang depan kamera. Maaf saya agak sarkas! Tuhan…, saya benar-benar geram!

Anak tidak menghargai tubuhnya – dirinya. Anak kita didik di rumah dan di sekolah untuk menghargai tubuhnya sebagai ‘rumah’ tempat yang ‘Ilahi’ bersemayam. Tubuh adalah tempat roh berada. Roh itu kehidupan. Manusia diciptakan utuh: tubuh, jiwa, dan roh. Itu satu kesatuan.

Sementara aplikasi ini menantang anak untuk berekspresi yang tidak pantas bagi anak yang masih harus diberi prlindungan. Bila dia kelak anak memutuskan untuk memilih profesi sebagai penari (penari telanjang sekali pun), itu lain perkara karena dipilih dalam keadaan sadar oleh orang dewasa.

Ketidakberfaedahan yang terakhir adalah aplikasi yang memakan banyak memori smartphone dan juga menghabiskan kuota. Kalau ini sih lebih ke sifat yang material. Namun, bila dibiarkan juga bisa membentuk karakter anak untuk boros. Belajar menghargai uang szebagai jerih lelah orang tua. Itu juga belajar untuk menghargai orang tua!

Apakah tulisan saya nyinyir? Biar saja saya disebut nyinyir. Ini unek-unek saya sebagai seorang perempuan, ibu, dan pendidik. Mari kita bersama-sama berusaha melindungi dan mendampingi anak-anak kita agar merak tumbuh sehat secara fisik, jiwa, dan juga rohnya.

Zaman ini tidak mudah bagi kita orang tua. Namun, Tuhan sudah menempatkan kita sebagai orang tua di zaman ini. Kini dan di sini. ( Foto: beritakoe.com)

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
4 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
senuken
senuken
5 years ago

Saya melihatnya bukan semata soal aplikasi.
Mungkin yang langka saat ini adalah APRESIASI.

Anak-anak seusia Bowo atau anak sekolah pada umumnya sepertinya belum terapresiasi dengan baik.

Ukuran standar masyarakat adalah nilai Akademik. Ini bisa salah kapra. Bagaimana dengan yg nilainya pas pasan? Kebanggaan peserti apa yang mereka miliki?

Anak harus di APRESIASI sekecil apapun usaha mereka untuk maju dan berkembang. Bukan semata soal hasil. Lebih pada bagaimana mereka berproses.

Tulisan Bu Nung hari ini sungguh luar biasa.

Sipri Peren
5 years ago
Reply to  senuken

Mereka kehilangan area u ekpresi diri. Di sekolah dan dimasarakat. Aplikasi Tik tok menghadirkan area ekspresi itu kembali, tinggal kita mendampingi mereka u berekpresi secara sehat.

trackback

[…] Baca Juga: Bermain Tik Tok Menuai Perundungan […]

trackback

[…] Baca Juga : Bermain Tik Tok Menuai Perundungan […]