Depoedu.com-Setelah pekerja migran Singapura diwisuda menjadi sarjana, kini giliran 28 pekerja migran Hogkong diwisuda menjadi sarjana oleh Rektor Universitas Terbuka (UT) pada 17 Juli 2022, yang dilakukan secara daring.
Mereka adalah bagian dari 207 mahasiswa UT yang saat ini sedang bekerja di Hongkong. Saat ini, jumlah pekerja migran di berbagai negara yang sedang belajar di UT sebanyak 2.245.
28 pekerja migran yang diwisuda kali ini terdiri dari 3 orang belajar di Prodi Ilmu Hukum, 3 orang mahasiswa yang belajar Ilmu Administrasi Bisnis, 9 orang belajar Manajemen, 4 orang belajar Ilmu Komunikasi, 1 orang belajar Akuntansi, dan 8 orang dari Sastra Inggris, peminatan penerjemahan.
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan lulusan dengan Raihan IPK terbaik. Dari seluruh wisudawan terbaik tersebut, tiga orang lulusan terbaik adalah berasal dari pekerja migran Hongkong.
Baca juga : Pembelajaran Sejarah Membentuk Profil Pelajar Pancasila
Mereka adalah Ainul Hidayah dari Prodi Sastra Inggris dengan IPK 3,45; Nur Hidayah dari Prodi Administrasi Bisnis dengan IPK 3,50; dan Nunik Choiru Nikmah dari Prodi Ilmu Komunikasi, dengan IPK 3.72.
Rektor UT Ojat Darojat dalam sambutannya memberi apresiasi sangat baik pada pekerja migran yang dapat merampungkan studinya sesuai dengan waktu yang tersedia.
“Anda para pekerja migran adalah wisudawan yang hebat, karena tidak semua mahasiswa, apalagi mahasiswa UT, dapat merampungkan studi, karena Anda semua tidak hanya studi, tetapi juga bekerja,” ujar Rektor UT.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UT juga mengharapkan agar kesuksesan para wisudawan tidak hanya berhenti sampai di sini. Ia berharap para wisudawan dapat melihat peluang ke depan, dan memanfaatkan kesuksesan ini untuk meraih kesuksesan berikutnya.
Di akhir sambutannya, ia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kesuksesan mereka bukan karena prestasi mereka semata, tetapi juga karena dukungan orang-orang terdekat, termasuk majikan mereka.
Baca juga : Mempraktikkan Lima Kebiasaan Ringan Ini, Dapat Membantu Menurunkan Obesitas Anda
Tentang dukungan majikan, para pekerja migran mengakui bahwa memang ada dukungan tersebut. Namun bukan satu-satunya. Menurut Ida Supartini, salah satu wisudawan, pada akhirnya kemampuan mereka mengatur waktu dan melawan rasa malaslah yang menjadi penentu sukses mereka.
“Sebagai pekerja rumah tangga, meskipun majikan memberi kelonggaran, namun saya tetap harus membagi waktu. Semasa kuliah pagi hingga sore, saya menyelesaikan pekerjaan. Malam saya gunakan waktunya untuk belajar,” jelas Ida Supartini.
Kini Ida sudah lulus. Ia ingin menunjukkan bahwa pekerja migran sebagai asisten rumah tangga bisa sekolah tinggi. Ia menyatakan, banyak ilmu baru yang ia peroleh. Bahkan Ida merasa seperti ketagihan belajar.
Ida juga merasa, memiliki ilmu itu bisa meningkatkan derajat. Buktinya, setelah ia menyelesaikan studinya, ia menerima banyak tawaran kerja baru. Selain itu, ia juga merasa mendapat perlakuan yang lebih baik dari lingkungan sekitarnya.
Foto:kompas.com

[…] Baca juga : Universitas Terbuka Mewisuda Puluhan Pekerja Migran Di Hongkong Menjadi Sarjana […]