Pembelajaran Sejarah Membentuk Profil Pelajar Pancasila

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pada satuan pendidikan menengah atas, pembelajaran sejarah dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, pembelajaran Sejarah Indonesia Wajib dan kedua adalah Sejarah Peminatan.

Mata pelajaran Sejarah Indonesia adalah mata pelajaran yang wajib dipelajari oleh peserta didik baik dari kelas IPA maupun IPS dengan alokasi dua jam pelajaran. Sedangkan mata pelajaran Sejarah Peminatan hanya diajarkan kepada peserta didik dari kelas IPS dengan alokasi tiga jam pelajaran.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 tahun 2013, mata pelajaran Sejarah Indonesia menjadi mata pelajaran wajib yang harus ditempuh oleh semua peserta didik di jenjang pendidikan menengah, tanpa memandang penjurusan atau peminatan yang diambilnya termasuk di jenjang sekolah vokasional (Pratama et al., 2019).

Oleh karena itu, kedudukan dan peran dari mata pelajaran Sejarah sangat efektif dan efisien dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Utamanya, karena adanya relevansi serta ruang untuk mempelajari, baik dari aspek sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila melalui proses pembelajaran sejarah itu sendiri.

Aman (2011) mengatakan bahwa materi sejarah merupakan bahan pendidikan yang mendasar bagi proses pembentukan dan penciptaan peradaban bangsa Indonesia di masa depan, menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa.

Materi sejarah sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, dan berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup (Fimansyah & Kumalasari2015).

Apakah enam indikator Profil Pelajar Pancasila yang diuraikan oleh Mendikbud saat ini bertentangan atau malah memperkuat tujuan pendidikan nasional? Apakah Pelajar Pancasila relevan atau tidak dengan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang juga memiliki tujuan untuk membentuk karakter peserta didik.

Gambar 1.Penumbuhan Nilai Utama Karakter (Pusat Penguatan Karakter, 2018)

Tujuan pendidikan nasional yang telah peneliti ungkapkan di bagian pendahuluan menjelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional juga soal pendidikan karakter. Jika peneliti perhatikan ada sepuluh karakter yang idealnya dicapai oleh peserta didik.

Pertanyaannya apakah tujuan pendidikan nasional dan PPK yang sebelumnya telah dirumuskan pemerintah, saling bertentangan atau malah saling mendukung terhadap Profil Pelajar Pancasila.

Jika memperhatikan Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024 yang kemudian diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020, maka PPK dan tujuan pendidikan nasional maupun Profil Pelajar Pancasila tidak bertentangan atau kontradiktif, melainkan berkelanjutan dan saling mendukung.

Selain melalui pembelajaran khususnya pembelajaran sejarah, pengembangan Profil Pelajar Pancasila bisa diwujudkan dalam empat hal-yakni, melalui pembiasaan, melalui pembinaan kesiswaan dan melalui manajemen sekolah (Suhardiman, 2020).

Artinya, seluruh elemen yang ada pada satuan pendidikan harus bekerjasama untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila. Perihal pengamalan dan pengamanan Pancasila tidak bisa dipahami tanpa pemahaman sejarah.

Ironisnya masih terjadi distorsi pemahaman tentang sejarah Pancasila (Riyanto & Baliyanto, 2017). Distorsi tentang sejarah Pancasila dapat diselesaikan melalui pembelajaran sejarah yang kritis dan objektif.

Peserta didik diajak berpikir kritis serta berdiskusi bagaimana Pancasila lahir dan menjadi ideologi bangsa saat ini. Bahkan, perdebatan-perdebatan, kesepakatan, titik temu, musyawarah untuk mufakat hingga peristiwa-peristiwa yang mengancam Pancasila sebagai ideologi Negara dapat guru jadikan sebagai materi pembelajaran sejarah.

Baca juga : Sembilan Kriteria Guru ASN Dapat Tunjangan Sertifikasi 2022

Dan hal tersebut telah termuat dalam silabus mata pelajaran sejarah baik wajib maupun wajib (Indonesia). Dengan demikian, peserta didik akan terhindar dari karakter seperti intoleran, rasis dan tidak Pancasilais.

Profil Pelajar Pancasila, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia dan gotong royong merupakan jati diri bangsa Indonesia yang tidak saja diajarkan di sekolah tetapi, juga di luar sekolah.

Oleh karena itu, menurut peneliti, pembelajaran sejarah hanya perlu mengingatkan kembali serta memastikan peserta didik tetap menjalankan tradisi dan kebiasan dua profil tersebut. Profil kebhinekaan global untuk banyak orang adalah hal baru.

Tetapi, jika melihat kembali pemikiran Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno (dalam Hasanah & Aan Budianto, 2020) menjelaskan dalam paparannya saat mengusulkan sila-sila dasar negara, terdapat pemikiran mengenai internasionalisme.

Menurut Soekarno (dalam Djojonegoro, 2021) bahwa internasionalisme sama sekali bukan kosmopolitanisme, yang merupakan penyangkalan terhadap nasionalisme.

Internasionalisme yang sejati adalah pernyataan dari nasionalisme yang sejati, yaitu setiap bangsa menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik yang besar maupun yang kecil, yang lama maupun yang baru.

Internasionalisme yang sejati adalah tanda, bahwa suatu bangsa telah menjadi dewasa dan bertanggung jawab, telah meninggalkan sifat kekanak-kanakan mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial. Internasionalisme yang sejati telah meninggalkan penyakit kekanak-kanakan tentang chauvinisme dan kosmopolitanisme (Siswoyo, 2013).

Lalu ada pemikiran politik luar negeri dari Bung Hatta yakni, bebas dan aktif sebagai landasan operasional politik luar negeri Indonesia. Menurut Hatta, politik “Bebas” berarti Indonesia tidak berada dalam kedua blok dan memilih jalan sendiri untuk mengatasi persoalan internasional.

Baca juga : Mempraktekan Lima Kebiasaan Ringan Ini, Dapat Membantu Menurunkan Obesitas Anda

Istilah “Aktif” berarti upaya untuk bekerja lebih giat guna menjaga perdamaian dan meredakan ketegangan kedua blok (Windiani, 2010). Dunia dewasa ini yang cenderung semakin terintegrasi secara global pada kenyataannnya telah menimbulkan kaburnya batas-batas negara.

Bahkan, telah ada pemikiran yang mulai meragukan eksistensi negara-bangsa. Guna mempertahankan eksistensi dan jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam pergaulan internasional serta adanya proyeksi penelitian yang menyebutkan bahwa pada tahun 2050 Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor empat di dunia setelah, Tiongkok, India, dan Amerika Serikat (Hasudungan & Kurniawan, 2018).

Maka, karakter kebhinekaan global menjadi keharusan yang dimiliki peserta didik ke depannya.

Profil kreatif dan mandiri, tentu juga pembelajaran sejarah dapat berperan mewujudkannya dengan merujuk fungsi dan kegunaan sejarah yakni, edukatif, inspiratif, rekreatif, instruktif dan masa depan.

Fungsi dan kegunaan inspiratif dan rekreatif berarti sejarah berguna sebagai sumber inspirasi dan hiburan karena kaya akan kisah pengalaman manusia dan peradabannya di masa lalu. Dari sana peserta didik dapat menjadi kreatif.

Instruktif dan masa depan artinya sejarah dapat sebagai dasar untuk melakukan sebuah instruksi/keputusan dan menciptakan masa depan yang lebih baik dengan mengadaptasi peristiwa/kemajuan dan tidak mengulangi kesalahan dari masa lalu.

Dengan demikian, peserta didik saat belajar sejarah dapat terbentuk karakter mandiri karena mampu mengambil keputusan untuk menciptakan masa depannya.

Menurut Kuntowijoyo (1995) terdapat guna ekstrinsik sejarah meliputi fungsi-fungsi pendidikan, yaitu pendidikan (1) moral, (2) penalaran, (3) politik, (4) kebijakan, (5) perubahan, (6) masa depan, (7) keindahan, dan (8) ilmu bantu. Selain itu, sejarah juga berfungsi sebagai (9) latar belakang, (10) rujukan, dan (11) bukti.

Baca juga : Gempa Di Afghanistan Mengubah Cara Pandang Taliban Tentang Pendidikan Perempuan?

Sedangkan Weststrate & Glück (2017) menyatakan, bahwa sejarah sebagai pengalaman-pengalaman masa lampau menjadikan manusia dapat ‘berguru’ dan ‘belajar’ untuk menjadi lebih bijak. Manusia harus dapat menarik nilai-nilai pelajaran sebagai pedoman hidup dan inspirasi untuk masa-masa yang akan datang (Cakranegara, 2020).

Menarik, bahwa saat seseorang belajar sejarah secara sungguh-sungguh maka akan mendapatkan banyak manfaat yang tidak hanya memperkaya ilmu dan pengetahuan sejarah tetapi juga kreativitas dan mandiri.

Pembelajaran sejarah dewasa ini tidak dapat diajarkan secara kronologi dan tekstual, tetapi harus diubah dengan cara guru agar pada peserta didik tumbuh awareness (kesadaran) dan berpikir kritis atau berpikir historis (Joebagio, 2017). Untuk itu, satu ciri Profil Pelajar Pancasila yang hendak dicapai adalah bernalar kritis.

Korelasi ini menjadi pertanda bahwa berpikir kritis menjadi tujuan yang sama sehingga pembelajaran sejarah dan Profil Pelajar Pancasila sama-sama menghendaki peserta didik berpikir kritis. Tentunya, tujuan ini menjadi tanggung jawab Kemendikbud dan tentunya guru sejarah. Khusus guru sejarah berperan besar untuk dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila pada diri pelajar.

Tidak lupa, selain dari isi/konten sejarah, Profil Pelajar Pancasila juga dapat terbentuk dengan proses pembelajaran yang diciptakan guru. Metode, model dan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru juga berdampak pada proses pembentukan Profil Pelajar Pancasila.

Karena, di sana ada pembiasaan, keteladanan (pembinaan) dan manajemen. Hasilnya, bahwa tidak diragukan lagi melalui pembelajaran sejarah dapat membentuk Profil Pelajar Pancasila baik melalui isi/konten maupun proses pembelajarannya.

Patut dinantikan, bagaimana implementasi program Profil Pelajar Pancasila dapat terlaksana di tengah pandemi Covid-19 yang masih menjadi ancaman termasuk bagi dunia pendidikan.

Penulis adalah Guru Sejarah SMAN 1 Rupat, Provinsi Riau

Catatan : Daftar pustaka ada pada dokumentasi redaksi

Foto:faridah

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Pembelajaran Sejarah Membentuk Profil Pelajar Pancasila […]