Depoedu.com-Yayasan Karya Sang Timur menggelar webinar “Penyegaran Spiritualitas dan Semangat Beata Clara Fey “, Sabtu (26/2/2022). Acara yang diadakan secara virtual tersebut merupakan bentuk upaya Yayasan Sang Timur memberikan penyegaran pada seluruh karyawan Sang Timur menyikapi dinamika kehidupan yang terus berubah.
“Penting untuk seluruh karyawan hidup menurut semangat pendiri yaitu Beata Clara Fey yang telah mendedikasikan hidup untuk melayani mereka yang miskin dan menderita. Mari kita menjadi karyawan yang baik dan berhati mulia,” ujar Sr. Yosefina PIJ selaku pemimpin Yayasan Karya Sang Timur di awal acara webinar.
Sr. Veronika PIJ sebagai narasumber utama dalam webinar sehari ini. Dalam paparannya, Sr Veronika menjelaskan dengan sangat baik terkait hidup Beata Clara Fey.
Beata Clara Fey (11 April 1815–8 Mei 1894) adalah pendiri Konggregasi PIJ (Pauperis Infantis Jesu, “Kanak-kanak Yesus yang Miskin”. Di Indonesia, suster-suster PIJ dikenal dengan Suster Sang Timur. Hidupnya didedikasikan untuk menolong kaum miskin, terutama menyediakan pendidikan yang layak. Para suster PIJ memulai karyanya di Aachen dan kemudian menyebar di Belanda.
Clara Fey merumuskan misi konggregasi, yaitu menghantar anak-anak kepada Yesus. Bagi Clara Fey, visi “bersatu dengan Allah Tuhan kita” menunjukkan tujuan hidupnya. Dan ia menghendaki para penerusnya mengarahkan hidup pada tujuan yang sama.
Baca Juga : Mengenal Unsur Perubahan Pada Kurikulum Merdeka Di Semua Jenjang Pendidikan
Hal ini tidak hanya menjadi tujuan akhir hidup persatuan dengan Allah, namun juga berupaya untuk menghayatinya dalam hidup sehari-hari, melalui doa pribadi maupun bersama, ekaristi, hidup persekutuan, maupun melaksanakan kerasulan, melalui kesaksian hidup dengan menjadi pembawa Kabar Sukacita, damai, dan berkat bagi sesama.
Jejak pertama karya para suster pada tanggal 4 Mei 1932, enam suster Sang Timur pertama yaitu ; Moeder Andrea Ludwiga PIJ, Sr. Stanislaus Maria PIJ, Sr. Fransisca Josepha PIJ, Sr. Catharina Maria PIJ, Sr. Anna Reineria PIJ, Sr. Reiniera Maria PIJ berangkat dengan kapal “Christian Huygens” dan mendarat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada tanggal 29 Mei 1932.
Para misionaris ini dengan tekad bulat meninggalkan tanah airnya dan bekerja di ladang Tuhan yang masih asing, baik dalam hal cuaca, adat istiadat, makanan dan hal-hal lain yang baru bagi mereka.
Semua itu diterima dengan berani, penuh pengorbanan demi keselamatan jiwa-jiwa dan cinta kepada Tuhan. Di Pasuruan, para suster mulai membuka Sekolah Dasar berbahasa Belanda untuk anak-anak Cina; Holandse Chinese School (HSC) dengan nama “Clara Fey”.
Pada saat itu jaman feodal, tidak semua anak dapat masuk sekolah. Di Pasuruan dimulai Sekolah Dasar “Ongko Loro” (Inlandsche School) khusus untuk anak-anak pribumi dengan nama Santa Maria. Sejak ini karya para suster mulai berkembang.
Baca Juga : Esensi Kurikulum Merdeka Menuju Kebebasan Belajar
Fokus utama misi ini menghantar anak-anak dan kaum muda yang miskin dan terlantar kepada Yesus. Misi tersebut dikembangkan para suster di Indonesia dalam bidang kerasulan yang masih aktual di zaman ini, yaitu bidang pendidikan, di bawah Yayasan Karya Sang Timur.
Bidang sosial meliputi asrama, LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak), dan daycare (penitipan anak) di bawah Yayasan Clara Fey; bidang kesehatan, yaitu Klinik Pratama di bawah Yayasan Servita Sejati; dan karya pastoral, yakni pembinaan bagi anak-anak dan kaum muda.
Ada tiga kekhasan yang menjadi budaya hidup Clara yang menjadi inspirasi seluruh karyawan dan guru yaitu kegembiraan, kasih persaudaraan, dan kesederhanaan yang mengalir dari Kanak-kanak Yesus yang Miskin.
Sr. Veronika mengajak guru, karyawan untuk sungguh-sungguh hidup menurut keutamaan pendiri Sang Timur. Selalu percaya pada kemurahan Tuhan, memiliki hati yang peduli, terbuka dan melayani dengan cinta.

Sukses selalu buat Yayasan Karya Sang Timur