Depoedu.com-Tahun 2022 beberapa sekolah di Indonesia telah membuka pintu bagi kegiatan belajar mengajar. Prosedurnya telah melalui berbagai tahap dengan selalu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah setempat.
Syarat utama adalah tetap melaksanan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah dengan sarana pendukung yang harus disiapkan oleh sekolah berupa tempat cuci tangan di berbagai tempat, tersedia hand sanitizer di dalam ruangan maupun masker yang wajib dipakai juga tersedia di sekolah.
Perangkat pemerintah dan sekolah harus selalu mengontrol kondisi siswa, guru dan staf yang datang ke agar tetap aman dan nyaman berada di sekolah dengan berbagai keterbatasan dan pembatasan lingkungan sosial.
Tidak mudah mengajak siswa untuk kembali belajar di sekolah dengan kondisi yang sebelumnya selama lebih dari setahun belajar di rumah. Siswa telah terbisa di rumah sehingga butuh penyesuaian diri agar di sekolah dapat belajar dan bergaul dengan baik.
Situasi belajar pada masa pendemi berbeda dari sebelumnya dengan saat sekarang yang mengijinkan siswa kembali ke sekolah. Guru harus berkolaborasi dengan guru lain dalam mengatasi permasalahan siswa dan mengkondisikan siswa agar dapat belajar dengan baik di sekolah pasca pandemi.
Berdasarkan pengamatan, permasalahan siswa yang muncul di antaranya: penguasaan emosi, etika dan sopan santun, cemas dan khawatir berlebihan akan situasi, kurangnya motivasi belajar, menurunnya prestasi akademik, penyesuaian belajar.
Permasalahan lainnya adalah perilaku seksual yang salah, kecanduan game, malas belajar, bingung tentang kelanjutan setelah tamat, takut berdekatan dengan teman dan guru, menjaga jarak secara berlebihan. Guru BK menghadapi siswa yang bermasalah dengan berbagai situasi kondisi yang mengiringi berbagai keadaan timbulnya masalah tersebut.
Baca Juga : Mengenal Lebih Jauh Kurikulum Prototipe
Selain permasalahan yang dialami siswa, sekolah juga mengalami beberapa persoalan. Banyak sekolah yang memiliki guru BK tetapi belum seimbang dengan jumlah siswa. Bahkan ada sekolah di jenjang SMP, SMA maupun SMK dan SLB belum memiliki guru BK yang berlatar belakang pendidikan BK.
Ada sekolah yang tidak ada guru BK. Guru BK yang ada di sekolah dengan jumlah yang terbatas, merasa kerepotan menghadapi permasalahan siswa. Permasalahan siswa semakin lama semakin berat. Penanganan permasalahan siswa yang kompleks membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Sebelum tahun 2020 permasalahan gadget belum seberat seperti sekarang yang telah mengkondisikan siswa belajar menggunakan gadget. Masa sebelum pandemi siswa dilarang membawa dan menggunakan gadget untuk sekolah atau belajar. Tetapi saat ini siswa memerlukan gadget untuk belajar, sumber informasi dari guru dan mengerjakan tugas-tugas.
Keseringan menggunakan gadget menyeret siswa pada pola kebiasaan positif dan negatif. Positifnya siswa banyak tahu dan belajar berbagai hal yang tidak atau belum diajarkan di sekolah.
Negatifnya siswa menjadi kecanduan sehingga menyeretnya dari lingkungan sosial, etika dan sosial. Siswa menjadi malas ngobrol dengan orang sekitar, egois demi kepemilikan ilmu dan informasi untuk diri sendiri.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru BK untuk mengetahui kondisi siswa adalah melakukan asesmen. Asesmen yang dapat dilakukan yaitu asesmen lingkungan meliputi identifikasi harapan sekolah dan orang tua, sarana dan prasarana sekolah, kondisi kualifikasi guru BK yang memenuhi standar kualifikasi akademik.
Juga kebijakan pimpinan sekolah yang mendukung terwujudnya suasana belajar yang menyenangkan. Asesmen kebutuhan yang dapat dilakukan guru BK meliputi asesmen untuk mengungkap aspek fisik, aspek kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan, minat belajar, masalah dan kepribadian serta tugas perkembangan.
Baca Juga : Muncul Gejala Phubbing Pada Anak Anda, Gejala Apa Ini?
Asesmen siswa secara khusus dihubungkan dengan fungsi guru BK di sekolah. Tidak cukup untuk merencanakan dan melihat guru BK mengimplementasikannya. Guru BK juga harus mengevaluasi keefektifan aktivitas asesmen sehingga evaluasi tersebut memenuhi data.
Asesmen yang dapat dilakukan oleh guru BK berupa teknik tes dan non tes. Teknik tes berupa tes intelegensi tes bakat tes minat tes kepribadian dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan dengan meminta pihak yang berkompeten di bidangnya.
Sedangkan teknik non tes yang dapat dilakukan oleh guru BK dalam mengumpulkan data berupa: observasi partisipan non partisipan dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan layanan bimbingan dan konseling, wawancara terpimpin bebas sebagai data primer data pelengkap data kurikulum, dokumentasi berupa raport.
Data lainnya berasal dari catatan harian riwayat pendidikan riwayat keluarga, sosiometri untuk melihat struktur hubungan sosial, skala/ kuesioner seperti Alat Ungkap Masalah (AUM), Daftar Cek Masalah (DCM), Inventori Tugas Perkembangan (ITP), angket/ kuesioner untuk melihat permasalahan terkait dengan aspek kehidupan siswa.
Asesmen berfungsi sebagai salah satu sarana yang digunakan dalam membuat diagnosis psikologis. Setelah diperoleh data, hasilnya digunakan sebagai implementasi kondisi siswa. Hasil analisis menunjukkan kondisi, potensi siswa yang perlu ditindak lanjuti secara positif.
Asesmen yang dilakukan guru BK sangat bermanfaat sebagai bentuk pemetaan permasalahan, sehingga dapat dirancang tindakan untuk membantu siswa meningkatkan potensi dirinya. Laporan hasil asesmen dapat digunakan oleh guru BK dalam pembuatan rekomendasi bagi siswa yang memerlukannya.
Berdasarkan hasil asesmen guru BK dapat merancang berbagai kegiatan layanan bimbingan. Bentuknya berupa layanan bimbingan klasikal maupun kelompok, meliputi bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan pribadi dan karir khususnya bagi siswa kelas XII dalam menentukan pilihan setelah tamat sekolah.
Baca Juga : Menggambar Salah Satu Cara Mengatasi Kecemasan Siswa Menghadapi Ujian
Siswa yang mengalami permasalahan khusus dapat segera ditindak lanjuti sesuai kebutuhannya agar masalah segera terentaskan. Umumnya siswa mengalami stress belajar akibat pembelajaran di masa pandemi yang mengharuskan siswa mengerjakan tugas belajar di rumah.
Asesmen terhadap siswa merupakan tanggung jawab konselor yaitu memahami testing terstandar secara fundamental dan menganjurkan agar menggunakan skor tes yang tepat sesuai kebutuhan. Tugas tersebut merupakan bagian dari kegiatan konseling, fokus konselor sekolah untuk menghasilkan data agar menjawab pertanyaan kunci, yaitu “Apakah yang sedang saya lakukan ini efektif?”.
Kemungkinan sekali konselor merasa perlu menindaklanjuti dengan pertanyaan berikut: “Jika program saya tidak efektif, maka saya perlu memperbaikinya”.
Harus disadari bahwa menjadi konselor profesional adalah ingin melakukan sesuatu yang lebih baik dan ini berarti membuka umpan balik yaitu kritis terhadap asesmen.
Mengumpulkan dan menginterpretasi data merupakan tanggung jawab profesional. Konselor harus dapat dapat melihat data secara objektif. Konselor perlu upaya membuat beberapa perubahan.
Interviu merupakan alat asesmen yang pokok dalam konseling pengambilan keputusan. Interviu ini menyajikan sumber data yang sebenarnya atas kehadiran dan ketidakhadiran, prasyarat untuk membuat pilihan yang adaptif, setidaknya dalam praktek pengambilan keputusan. Dengan demikian asesmen sangat dibutuhkan siswa dalam pembelajaran di era pandemi.
Foto:siedoo.com

[…] Baca Juga : Asesmen Bagi Siswa Di Masa Pembelajaran Era Baru […]
[…] Baca Juga: Asesmen Bagi Siswa Di Masa Pembelajaran Era Baru […]