75 Tahun Kosayu: Dari Ruang Kelas Sederhana, hingga Mengelola Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Langit Malang pada Sabtu, 8 Agustus 2026, seolah merangkum perjalanan tiga perempat abad yang penuh rahmat. Kompleks Kolese Santo Yusup yang akrab dikenal sebagai Hua Ind atau Kosayu terasa lebih hidup dari biasanya. Hari itu, ribuan langkah dari lintas generasi dan purnabakti berirama dalam satu tujuan: Pulang ke “Rumah” Kosayu.

Puncak perayaan 75 tahun berdirinya sekolah ini bukan sekadar seremoni angka, melainkan sebuah simfoni syukur yang agung. Gema sukacita kian khidmat tatkala perayaan ini berpadu indah dengan Misa Syukur 50 Tahun Imamat R.P. Hilarius Sutiono, CDD, salah satu alumni kebanggaan Hua Ind yang telah mendedikasikan separuh abad hidupnya dalam ladang penggembalaan suci.

Di tengah semaraknya perayaan, para alumni Kosayu yang tergabung dalam wadah Persaudaraan Eks Siswa-Siswi Kolese Santo Yusup (PEKSY) bersama panitia telah merancang temu kangen akbar untuk mempertemukan para alumni dari era kepemimpinan tempo dulu hingga wajah-wajah muda hari ini. Ada satu benang merah yang merajut seluruh ingatan: semangat persaudaraan yang tak pernah padam.

Lebih dari sekadar temu kangen antar alumni, kehadiran bapak-ibu purnabakti di tengah-tengah acara menjelma menjadi magnet kerinduan yang paling kuat bagi para alumni. 

Menatap wajah mereka seolah memutar kembali memori masa lalu, menghadirkan rasa hormat dan kerinduan mendalam kepada sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi orang tua di ruang-ruang kelas dahulu. 

Di sisi lain, meskipun dengan segala keterbatasan fisik, bapak-ibu purnabakti tetap bersemangat menyalakan tekad kuat untuk datang. Mereka begitu antusias menyapa para alumni sekaligus saling mengenal guru dan karyawan muda sebagai penerus yang siap melanjutkan estafet pengabdian dan merawat api persaudaraan di Kosayu.

Tema besar “Kosayu Tetap Bersemangat” bukan sekadar slogan perayaan, melainkan warisan api pengabdian yang terus menyala. Semangat inilah yang mengantar almamater tercinta bertransformasi dari ruang-ruang kelas sederhana di masa lampau, menembus zaman, hingga kini berdiri tegak di tengah gelombang disrupsi modern.

Salah satu puncak acara ini akan ditandai dengan peluncuran tiga buku karya bersama di bawah koordinator Bapak Stanislaus Tri Cahyono: buku refleksi 75 tahun “Kosayu Tetap Bersemangat”, buku kenangan 75 tahun, dan buku 50 tahun Imamat Pater Hilarius “Menghadirkan Kasih Allah-Berjalan Bersama Gembala”.

Lebih dari sekadar mengenang memori masa remaja di bawah naungan atap sekolah, perayaan 75 tahun ini mengajak kita menatap ke depan dengan mata batin yang jernih, menyongsong tantangan zaman di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Lahir dari Keprihatinan

Keprihatinan mendalam pada tahun 1951, ketika Pastor Joseph Wang, CDD, atas penugasan Mgr. AEJ Albers, O.Carm, mendirikan “Hua-Ind Chung Hsueh” (Sekolah Menengah Katolik Tionghoa Indonesia) demi mengakomodasi anak-anak keturunan Tionghoa di Malang yang saat itu kesulitan mendapat akses pendidikan.

Inilah awal mula benih pengabdian itu mulai ditanam. Keprihatinan untuk melayani sesama lewat dunia pendidikan ini terus terjawab melalui deretan tonggak sejarah yang mengagumkan.

Baca juga : Murid Kelas 6 SD Santo Carolus Tarakanita Surabaya, Belajar Lebih Hidup Lewat Proyek STEM

Tahun 1954, sebuah langkah besar diambil dengan dibukanya satu kelas baru untuk jenjang SMA dengan 27 murid pertama. Tak berhenti di situ, pada tahun 1959, kompleks ini resmi membuka asrama putra untuk tingkat SMA dan SMP yang menampung 36 anak didik dari berbagai daerah. 

Sejak momentum itulah nama sekolah bertransformasi menjadi Kolese Santo Yusup (Kosayu), membawa teladan kebapakan, ketekunan, dan kerendahan hati Santo Yusup sebagai pelindung utama sekolah.

Dari ruang-ruang kelas sederhana bekas gedung terbakar dan fasilitas seadanya di masa-masa awal, para pendiri merintis jalan dengan semangat ketulusan yang luar biasa. 

Tantangan ekonomi, keterbatasan sarana, hingga dinamika sosial politik pada dekade-dekade awal tidak menyurutkan langkah, justru menempa “Bumi Kosayu” yang terus memperluas jangkauan pelayanannya menjadi persaudaraan yang hangat dan kokoh bagi para siswanya lewat ikatan kekeluargaan yang erat.

Perjuangan para konfrater Congregatio Discipulorum Domini (CDD) atau Kongregasi Murid-Murid Tuhan bersama para pendidik perintis membuktikan bahwa pendidikan katolik bukanlah sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebuah karya keselamatan (misericordia). 

Estafet pelayanan suci ini pun terus dirawat dengan setia oleh para penerus Pastor Joseph Wang, CDD, di antaranya melalui kepemimpinan R.P. Willy Malim Batuah, CDD, hingga kepemimpinan Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup saat ini oleh R.P. Agustinus Lie, CDD. 

Dari bibit keprihatinan itulah, lahir pohon rindang yang kini menaungi puluhan ribu alumni yang tersebar di seluruh penjuru dunia, membawa terang di manapun mereka berada.

Menjawab Tantangan Zaman Era AI

Estafet pelayanan yang dirintis dari kesederhanaan masa lalu kini diuji dalam gelanggang zaman yang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Hari ini, Kosayu berdiri di tengah dunia pendidikan modern yang berubah sangat cepat, mulai dari ujian masa pandemi COVID-19 hingga gelombang masif kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Namun, jiwa “Tetap Bersemangat” yang menopang perjuangan “Bumi Kosayu” tidak pernah luntur; transformasi zaman selalu dijawab dengan ketangguhan dan keterbukaan untuk terus relevan. 

Dinamika lintas generasi ini dirasakan secara nyata di dalam ruang-ruang kelas, seperti yang tampak dalam pengalaman mendidik sehari-hari. Awal saya mengajar di tahun 1995, bahan ajar matematika harus dipersiapkan secara manual dengan waktu yang panjang dan media yang terbatas. 

Kini, sentuhan teknologi dan AI menghadirkan cara-cara baru yang sangat memudahkan para guru dalam merancang materi yang kreatif, interaktif, dan berpihak sepenuhnya pada kebutuhan murid (student-centered learning).

Demikian juga dari sisi murid, banyak cara untuk memahami dan memberikan gagasan. Guru harus mendengarkan dan memahami perbedaan cara ini agar dapat memberikan peneguhan atau memberikan arahan yang benar. 

Dalam hal inilah kreativitas akan tumbuh, karena ada berbagai cara dan pola pikir, bukan satu-satunya yang harus sama persis dengan cara gurunya. Jadi guru harus memahami banyak cara dan mampu meluruskan yang salah.

Keberhasilan transformasi ini tentu tidak berjalan sendiri. Di “Bumi Kosayu”, iklim pendidikan yang adaptif selalu ditopang oleh kolaborasi yang erat dan harmonis dengan pengurus yayasan, para alumni, bapak ibu purnabakti, para orang tua murid, yang bersama pihak sekolah bahu-membahu mengawal tumbuh kembang karakter anak. 

Sinergi ini semakin diperluas melalui kemitraan strategis dengan berbagai Perguruan Tinggi, membuka ruang-ruang pengembangan sumber daya manusia yang luas, mulai dari penanaman karakter, wawasan dunia usaha, pendampingan akademik tingkat lanjut, pembinaan riset, hingga persiapan matang bagi para siswa untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi.

Kendati demikian, di tengah kecanggihan algoritma yang mampu merumuskan jawaban dalam hitungan detik dan luasnya jaringan kolaborasi eksternal, esensi pendidikan di Kosayu tidak pernah bergeser. 

Murid tetap merindukan kehadiran dan sentuhan nurani seorang pendidik, antara lain guru menjemput murid yang tidak hadir di sekolah ke tempat kos, atau wali kelas mengatur jadwal menjaga murid yang sedang dirawat di rumah sakit saat orang tuanya berada di luar kota.

Melalui matematika, saya tidak sekadar mengajarkan angka atau rumus, melainkan membentuk cara berpikir yang kritis, analitis, dan bernalar logis.

Dengan tetap mengakomodasi pengembangan inisiatif diri murid, serta karakter yang adaptif serta kolaboratif, keluarga besar Kosayu siap merengkuh masa depan, menjaga akar tradisi dalam disiplin yang humanis, sekaligus merentangkan sayap menyongsong tantangan zaman.

Jembatan Emas Panggilan Hidup

Hingga saat ini, sudah ada lima alumni Kosayu yang terpanggil menjadi seorang imam, yaitu R.P. Hilarius Sutiono, CDD, R.P. Joanes Yandhie Buntoro, CDD, R.P. Stefanus Ardi Watuseke, MSC, R.P. Antonius Hermanto, CDD, dan RD. Mikael Peter Hermawan.

Secara khusus, perayaan syukur 75 tahun Hua Ind ini kami lengkapi dengan limpah syukur atas 50 tahun imamat R.P. Hilarius Sutiono, CDD. Beliau adalah salah satu murid didikan langsung dari sang pendiri, Pastor Joseph Wang, CDD, yang lulus dari asrama dan SMA Hua Ind pada tahun 1969.

Keistimewaan lainnya yang kami tangkap adalah beliau merupakan alumni Hua Ind pertama yang menjadi seorang imam. Rasanya tidak berlebihan kalau kami menyebut beliau sebagai seorang perintis. R.P.  Hilarius Sutiono adalah imam CDD pertama Provinsi Indonesia yang mendapatkan tahbisan imamat di Taiwan.

Baca juga : SMP Tarakanita 1 Gelar Character Building untuk Siswa Kelas 7

Beliau juga alumni SMAK Kolese Santo Yusup pertama dan satu-satunya hingga saat ini yang menjabat sebagai kepala sekolah di almamaternya. Dari catatan yang ada, R.P. Hilarius Sutiono dan Pastor Joseph Wang, CDD, adalah kepala sekolah dengan masa jabatan paling lama, yakni 20 tahun. Terlebih bagi CDD Indonesia, R.P. Hilarius Sutiono adalah imam pertama yang merayakan 50 tahun imamatnya.

Hingga kemarin, saat beliau mengunjungi kami bapak-ibu guru di SMA, kami masih melihat bahwa beliau selalu berpenampilan rapi dan bersih. Meskipun pakaian yang dikenakan bukanlah pakaian bermerek dengan harga mahal, beliau selalu tampil formal. 

Kenangan ini membawa ingatan kami kembali ke masa ketika R.P. Hilarius masih menjabat sebagai kepala sekolah. Selama jam dinas sekolah, beliau selalu mengenakan jubah putih yang bersih dan disetrika dengan halus. 

Jubah inilah sebagai simbol kesetiaan atas panggilan imamat dan tugas yang dipercayakan oleh pimpinan, sekaligus wujud kesaksian hidup sebagai pemimpin dan seorang imam. Dan merawat diri dengan tampilan yang rapi adalah keteladanan sebagai wujud ungkapan syukur atas segala anugerah Tuhan kepada kita.

Semoga semua karya, keteladanan, dan penyerahan diri kepada Tuhan dalam keheningan yang kami tangkap dari R.P. Hilarius selama ini, mampu menumbuhkan keyakinan bagi kami semua dalam mengemban tugas pelayanan di Kosayu. Beliau meyakini bahwa ketika Tuhan mengutus kita, pada saat itu pula Tuhan tahu akan kemampuan kita. 

Tinggal bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan situasi, dan berdamai dengan orang lain untuk menjalankan kehendak-Nya. Biarkan Tuhan yang mengubah dan membentuk hati kita melalui setiap peristiwa yang melibatkan kita.

Menatap Masa Depan dengan Semangat Kosayu

Komitmen Kosayu untuk mencetak generasi yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas tidak akan pernah luntur. Dengan semangat yang terus berkobar, kami mantap mengawal pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) 2026–2036 dengan visi baru: “Menjadi komunitas belajar terdepan dan berorientasi global.”

Semua pencapaian ini bukanlah hasil kerja sepihak, melainkan buah manis dari kolaborasi berkelanjutan antara pengurus yayasan, para alumni, bapak-ibu purnabakti, bapak ibu guru dan karyawan saat ini, serta kepercayaan tulus dari orang tua murid, kepala sekolah mitra, kolega perguruan tinggi, hingga dunia industri.

Perjalanan 75 tahun membuktikan bahwa “Bumi Kosayu” bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan sebuah rumah bersama. Ke mana pun para alumni melangkah dan mengukir prestasi di berbagai penjuru dunia, di sinilah akar persaudaraan itu bersemi, dan di sinilah mereka selalu bisa pulang untuk bernostalgia merajut asa kembali dan mengantar anak cucu mereka menempuh pendidikan di sekolah yang sama yaitu KOSAYU. 

Estafet pengabdian kini terus berlanjut, melewati gelombang zaman dan tantangan kecerdasan buatan, dengan tetap memegang teguh disiplin yang humanis dan keteladanan nurani.

Dengan penuh rasa syukur, kami menyampaikan “Selamat dan sukses selalu untuk perayaan syukur 75 tahun Kolese Santo Yusup (Hua Ind) tercinta dan terima kasih yang tulus untuk semua pihak yang telah mengambil peran dalam perayaan syukur ini.” Teruslah menjadi terang, mendidik dengan hati, dan tetap bersemangat

Penulis adalah guru matematika SMAK Kolese Santo Yusup Malang

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments