Depoedu.com-Secara global, dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan yang sangat serius. Hal tersebut misalnya terpantau dari hasil tes PISA yang baru diumumkan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan (OECD) belum lama ini. Dari tiga aspek yang diukur; kemampuan sains, matematika dan membaca, terpantau kemampuan membaca anak usia 15 tahun secara global, mengalami penurunan tajam.
Hal ini mengkhawatirkan karena membaca adalah modalitas utama dan sangat penting bagi terjadinya proses belajar baik di sekolah maupun di rumah. Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher misalnya mengatakan kondisi ini sudah terpantau sejak tes PISA tahun 2018 hingga tahun 2025 sekarang ini.
Ia menyebutkan sejak 2018 sudah terpantau jumlah siswa yang terburu-buru dalam membaca teks dan memberi jawaban singkat yang salah, cenderung meningkat dan berlipat ganda. Ini menunjukkan siswa yang hidup semakin dibanjiri informasi namun cenderung semakin kurang mampu memisahkan informasi penting dengan informasi yang tidak relevan.
Baca juga : Membaca dan Memahami Hasil Tes PISA Siswa Indonesia dengan Bantuan Taksonomi Bloom
Padahal, di era kecerdasan buatan dan era informasi, keterampilan-keterampilan mengevaluasi informasi, keterampilan berpikir kritis, menghubungkan berbagai sumber, membuat keputusan terkait apa yang dibaca, menjadi proses yang sangat menentukan proses belajar lebih lanjut. Pada tes PISA sejak 2018-2025 terjadi penurunan yang sangat mengkhawatirkan.
Kondisi kemampuan membaca siswa Indonesia bahkan lebih memprihatinkan dari daripada kondisi kemampuan membaca global sebesar 69 persen, meskipun menurun tetapi berada pada level 5. Artinya masih mampu memahami teks panjang, masih mampu memahami konsep abstrak, dapat membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk implisit atau sumber informasi.
Sedangkan siswa Indonesia hanya 27 persen, baru mencapai level 2. Itu artinya belum mampu mengidentifikasi ide utama dari teks panjang, belum mampu menemukan informasi berdasarkan kriteria eksplisit dan belum dapat merefleksikan tujuan. Ini pun sudah menunjukkan peningkatan di tes PISA 2025.
Faktor penyebab penurunan kemampuan membaca
Sebuah studi tentang literasi remaja yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada menyimpulkan bahwa penurunan kemampuan membaca anak usia 15 tahun tersebut disebabkan oleh paparan konten instan dan video pendek media sosial yang merusak kebiasaan deep reading, mengikis rentang fokus, serta menggantikan modalitas belajar dari membaca dengan hiburan digital yang pasif.
Baca juga : SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya Bersama RKZ Surabaya Gelar Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut
Hal tersebut menyebabkan siswa terbiasa membaca teks pendek, lebih mencari bacaan dengan judul sensasional. Ini menyebabkan hilangnya konsentrasi. Otak remaja kesulitan memproses teks panjang atau bacaan kompleks yang butuh analisis kritis.
Sebab lainnya adalah distraksi yang disebabkan oleh notifikasi media sosial yang memecah fokus belajar remaja dan mengganggu kerja memori otak remaja. Sebab lainnya adalah penggunaan bahasa nonformal dalam komunikasi daring yang memperlemah perbendaharaan kata. Ini menjadi hambatan tersendiri dalam proses membaca teks panjang dan serius.
Inilah tantangan pendidikan kita. Para pengelola pendidikan harus memecahkan masalah ini, terutama bagaimana menghadapi media sosial, karena saat ini kebiasaan bermedia sosial sudah menjadi habit remaja terkait bagaimana mereka belajar. Atau akankah ada pola belajar baru, tanpa harus membaca teks?
Foto: Biz Kompas
