Pemikiran dan Tindakan Tan Malaka Tentang Pendidikan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Tan Malaka adalah seorang tokoh, pemikir sekaligus pejuang dan pendidik terkemuka dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia berpendapat pendidikan bukan sekedar proses mewariskan ilmu pengetahuan, melainkan sarana utama untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, kemiskinan dan kebodohan. 

Pemikiran dan tindakan nyata Tan Malaka di bidang pendidikan, menjadi landasan penting bagi perkembangan sistem pendidikan yang berkarakter dan berpihak pada kepentingan rakyat. Selain menulis, dan bicara tentang pendidikan di berbagai forum, ia juga terjun menjadi pelaku pendidikan. Ia mendirikan sekolah dan mengajar. 

Tulisan singkat ini mencoba merumuskan pemikiran Tan Malaka tentang pendidikan dan menelusuri apa saja tindakan nyata yang Tan Malaka lakukan untuk  menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan, untuk mewujudkan  kemerdekaan Indonesia. Berikut uraiannya.

Pemikiran Tan Malaka tentang Pendidikan

Bagi Tan Malaka, pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara dan kunci menuju kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Berikut ini beberapa gagasan pokoknya tentang pendidikan. 

  • Pendidikan sebagai alat pembebasan

Tan Malaka meyakini bahwa selama rakyat dibiarkan bodoh, penjajahan  akan terus berlangsung. Oleh karena itu, rakyat harus dididik dan pendidikan harus membangun kesadaran kritis agar rakyat menyadari realitas ketidakadilan di sekitar mereka, memahami haknya dan berani memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraannya sendiri. 

  • Pendidikan untuk semua lapisan masyarakat

Tan Malaka, dalam tulisannya dan dalam berbagai diskusi, menentang sistem pendidikan kolonial yang hanya dapat diakses oleh kalangan bangsawan dan orang kaya. Ia menginginkan pendidikan yang terbuka bagi semua warga negara. Bagi Tan Malaka pendidikan harus terjangkau bagi semua, tanpa memandang status sosial dan jenis kelamin. 

  • Pendidikan harus terkait dengan kehidupan nyata

Tan Malaka mengkritik pendidikan kolonial yang hanya menghafal teori dan terpisah dari kehidupan nyata. Bagi Tan Malaka, pendidikan yang baik harus mengajarkan keterampilan praktis; pertanian, kerajinan dan nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan persatuan, agar lulusannya mampu membangun kehidupan dan lingkungannya sendiri. 

Baca juga : Gandeng Pemkot Surabaya, SD Santo Carolus Gelar Kegiatan DASH untuk Cegah Perundungan dan Kenakalan Remaja

  • Pendidikan yang menanamkan nasionalisme Indonesia

Tan Malaka menekankan peran pendidikan dalam menanamkan rasa cinta tanah air, persatuan antar suku dan semangat perjuangan untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Ia menginginkan pendidikan yang melahirkan generasi baru yang memiliki jati diri Indonesia dan bukan sekedar pengikut budaya dan kepentingan penjajah. 

Tindakan Nyata Tan Malaka di Bidang Pendidikan

Sebagai pejuang kemerdekaan, pemikiran Tan Malaka tentang pendidikan tidak hanya berhenti pada tulisan, pidato di mimbar dan diskusi dengan para pejuang, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata di bidang pendidikan sebagai berikut:

  • Mendirikan sekolah rakyat

Pada tahun 1921 Tan Malaka dalam pelariannya  terpanggil untuk mendirikan sekolah rakyat di Semarang. Sekolah ini terbuka bagi semua kalangan, termasuk bagi laki-laki dan perempuan dan bebas biaya. 

Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah ini bukan bahasa belanda melainkan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Materi yang diajarkan adalah materi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. 

Selain  sekolah rakyat juga aktif mendorong tumbuhnya nasionalisme, membagun kesadaran sebagai bangsa,  mendorong kemandirian serta keberanian rakyat kecil dalam menghadapi dan menyuarakan ketidakadilan, dengan menumbuhkan sikap kritis dan kesadaran sosial. 

  • Menjadi guru dan penggerak pendidikan 

Sebagai guru, Tan Malaka mengajar dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, ia juga aktif mendorong murid-muridnya untuk menyadari masalah-masalah di sekitar mereka dan mendorong kemampuan untuk memecahkan masalah tersebut dan mendorong tumbuhnya pemikiran mandiri. 

Ketika menjadi guru ia tidak hanya hadir di ruang kelas, melainkan sering mengunjungi rumah murid-muridnya dan berinteraksi langsung dengan keluarga mereka untuk memahami kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Tan Malaka memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. 

Baca juga : Pameran Karya, Bukti Nyata Pembelajaran Bermakna : Momen Istimewa Penerimaan Rapor 2025–2026 SD Santo Carolus Surabaya

Sebagai pejuang yang melihat posisi strategis sekolah sebagai alat perjuangan, ia terus menjadi penggerak pendidikan. Melalui pengajaran, ia terus menyebarkan gagasan tentang kesetaraan, gagasan tentang kemajuan, gagasan tentang kemerdekaan Indonesia, yang membuat pengajarannya dan kehadirannya di forum diskusi dilarang oleh penguasa kolonial. 

  • Mendidik rakyat melalui tulisan

Melalui tulisan-tulisannya Tan Malaka mendorong tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam rangka mewujudkan Indonesia merdeka. Dalam karya besarnya seperti Madilog dan Naar de Republiek Indonesia, Tan Malaka menjelaskan peran pendidikan dalam membangun akal sehat, logika dan tumbuhnya kesadaran akan persatuan Indonesia. 

Tulisan-tulisannya kemudian menjadi panduan bagi para pejuang dan angkatan muda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tulisan-tulisannya inilah yang menyebabkan ia diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda. Dari Belanda Ia kemudian melarikan diri ke Rusia, kemudian ke Tiongkok, lalu ke Filipina dan ke Singapura, hampir selama 20 tahun.

Dalam pelarian panjangnya, ia tetap mengamati sistem pendidikan di tempat-tempat tersebut dan terus merumuskan dalam catatanya. Kelak dalam pertemuan dengan sesama pejuang kemerdekaan ia mengusulkan sistem pendidikan setelah Indonesia merdeka, yang menurut Tan Malaka harus melayani rakyat dan bukan hanya melayani kepentingan elit.  

Itulah sekelumit uraian tentang pemikiran dan tindakan Tan Malaka tentang pendidikan. Ia menjadikan pendidikan sebagai fondasi untuk memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa yang cerdas, sadar hak, bersatu dan mandiri. 

Warisan pemikirannya masih relevan hingga saat ini. Baginya pendidikan harus tetap menjadi sarana pemerataan kesempatan, pembentukan karakter, penggerak kemajuan yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak, untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. 

Foto: RRI

4.5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments