Obsesi-obsesi Elon Musk dan Pendidikan Kita (Bagian II)

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Apakah Faktor Sekolah Dominan?

Depoedu.com – Bagi Elon Musk, sekolah pun bukan lembaga yang dominan membentuknya secara langsung. Semasa sekolah, teman-teman tidak menggolongkannya ke dalam murid yang berprestasi. “Waktu itu ada empat atau lima anak yang dianggap cemerlang. Elon bukan salah satu di antara mereka”, kata Deon Prinslo. Anak lain dari kelas Elon Musk mengingatnya sebagai seorang yang menyenangkan, tapi pendiam. Gideon Fourie, teman sekelas yang lain mengatakan, waktu itu ia tidak melihat tanda Elon bakal menjadi inovator, yang dapat mengubah arah sejarah umat manusia.

Namun beberapa teman yang lebih dekat dengannya menyatakan telah melihat ketertarikan Elon Musk pada roket. “Waktu istirahat Elon suka meledakkan tiruan roket yang ia bawa ke sekolah. Di samping itu di kelas debat, ia menarik perhatian guru karena ia menentang energi fosil dan mendukung pemanfaatan energi surya. Ia memiliki pandangan yang teguh terhadap pemanfaatan energi terbarukan”, jelas Ten Wood.

Secara keseluruhan prestasi akademik Elon Musk tidak menonjol, meskipun ia unggul di bidang Matematika, Komputer dan Fisika. Peringkatnya tidak sangat baik karena ia kurang tertarik dengan tugas sekolah. “Untuk beberapa bidang yang tidak terkait langsung dengan visi saya seperti Bahasa Afrika, saya tidak melihat kepentingan untuk mempelajarinya. Maka cukup memperoleh nilai minimal, dan itu baik-baik saja. Namun beberapa bidang seperti Fisika, Matematika, dan Komputer, perolehan nilai saya tinggi karena saya mempunyai alasan. Bagi saya, harus ada alasan untuk mencapai suatu misi”, jelas Elon Musk.

Bagi Elon Musk, masa sekolah, baik di SD hingga SMA, bukan masa yang menyenangkan karena ia pun menjadi sasaran bully teman-temannya. Namun ia memiliki daya tahan untuk menyelesaikannya hingga lulus perguruan tinggi. Ini berbeda dengan inovator yang lain seperti Bill Gates pendiri Microsoft, Mark Suckenberg, pendiri Facebook dan Steve Jobbs, pendiri Apple. Mereka memilih meninggalkan bangku sekolah sebelum lulus.

Membaca, Faktor yang Paling Dominan Membentuk

Hal yang dominan membentuk visinya, aktivitas yang paling membantu memupuk, memperkaya imajinasinya dan menginspirasinya untuk terus menekuni inovasi yang bermanfaat bagi umat manusia adalah membaca. Karena Elon tidak mempunyai banyak teman maka waktunya ia habiskan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan lingkungan. Ia menyukai trilogi The Lord of The Rings, serial Ishak Ashimov Foundation dan buku karangan Robert Heinlein : The Moon, di samping salah satu buku favoritnya, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy.

Ia begitu rajin mengunjungi perpustakaan sekolah dan perpustakaan lingkungan hingga semua buku penting dibacanya, termasuk Encyclopedia Britanica. Sepulang sekolah, aktivitas membaca ia teruskan di toko buku. Biasanya ia ke toko buku sekitar pukul dua siang dan tetap di sana hingga pukul enam sore, saat orang tuanya pulang kerja.

Tentang membaca, Kimbal Musk, saudaranya menyatakan, “Sejak masih kecil, ia selalu membaca buku di tangannya setiap waktu. Bahkan hal yang biasa baginya untuk membaca sepuluh jam per hari. Di akhir pekan, ia membaca dua buku dalam satu hari”. Keluarga Musk sering berwisata sambil berbelanja pada akhir pekan. Di tengah perjalanan, mereka tersadar bahwa Elon Musk telah menghilang. Maye atau Kimbal Musk tahu tempat mencarinya. Mereka mendatangi toko buku dan selalu menemukan Elon Musk duduk di lantai, membaca dalam keadaan sangat bersemangat.

Elon Musk sendiri menyebut Douglas Adam sebagai penulis yang sangat berpengaruh baginya. Bukunya berjudul The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, berhasil menjelaskan tentang galaksi dan antariksa dengan pendekatan ilmiah. Buku ini menarik bagi Elon Musk karena membahas galaksi secara cerdas, lucu, namun ilmiah. Buku ini adalah salah satu buku yang berpengaruh dalam pembentukan visi riset Elon Musk. Kita ketahui bahwa Elon Musk telah mendirikan SpaceX untuk membangun pesawat ruang angkasa untuk memperluas jangkauan spesies manusia membangun koloni baru hingga ke Planet Mars. Riset ini telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa.

Pendidikan Kita 

Uraian pada tiga bagian sebelumnya mengantar kita pada tiga hal. Pertama, pemahaman bahwa asupan gizi pada masa pranatal memungkinkan gen cerdas warisan Ibu Musk membentuk otak cerdas pada Elon Musk pada masa pranatal dan balita. Kedua, Musk diterima Ibunya dan saudaranya meskipun ia memiliki perilaku yang berbeda dari anak pada umumnya. Ketiga, minat baca dan akses ke bacaan dari Elon Musk yang terus menghidupkan imajinasi, mengembangkan kreativitas dan menambah terus akumulasi ilmu pengetahuan.

Pendidikan kita masih jauh dari hal-hal ini. Upaya mendorong ketahanan keluarga masih wacana yang jauh dari praktik. Ibu hamil, terutama dari keluarga muda, masih kesulitan mengakses makanan bergizi untuk menjamin otak terbentuk dan bertumbuh secara maksimal. Kecerdasan anak-anak kita adalah asupan gizi pada usia pranatal dan balita. Bagi Ibu hamil dari keluarga muda yang belum mapan ekonominya, apalagi keluarga pra sejahtera, pemerintah perlu melakukan intervensi. Instrumennya adalah subsidi.

Hal berikut yang perlu dikerjakan adalah, pemerintah perlu memikirkan bagaimana pasangan muda yang hendak memasuki jenjang pernikahan dibekali dengan pengetahuan tentang psikologi anak, pendidikan anak, kesehatan balita, komunikasi dengan anak, mendampingi anak bermasalah, psikologi anak berkebutuhan khusus. Persiapan ini diharapkan menjadikan orang tua memiliki visi menjadi orang tua. Mengerti pertumbuhan anak, lebih tahu apa yang perlu dilakukan ketika anak bermasalah, lebih dapat memberi dukungan bagi kebutuhan pertumbuhan anak.

Hal lain yang perlu dikerjakan adalah mendorong minat baca anak-anak kita, baik melalui keluarga maupun sekolah-sekolah kita. Tanpa minat baca, imajinasi anak sulit berkembang, kreativitas ikut mandeg dan susah mendorong proses belajar mengajar tingkat tinggi di sekolah-sekolah. Tanpa proses belajar tingkat tinggi, kita akan sulit melahirkan inovator baru. Dan selamanya kita akan menjadi konsumen. Di samping itu, iklim inovasi dan dukungan enterpreuneur bisnis perlu terus diperbaiki agar lahir Elon Musk baru dari Indonesia. (Oleh: Sipri Peren / Foto: The inguirer.net)

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments