Depoedu.com-Kasus penculikan anak, yang sempat viral di mana-mana itu, kini hilang dari obrolan di jagat maya. Tak satupun berita-berita yang viral itu, terbukti benar.
Tentu kita mengecualikan, kasus Malika oleh seorang pemulung dan juga berita miris pembunuhan anak di Sulawesi. Tentang kedua kasus ini, kita tidak membahasnya kali ini.
Dalam tulisan ini, fokus kita adalah melihat lebih dalam, kenapa hoax tentang penculikan anak, disebar sedemikian cepat. Padahal yang namanya hoax, tentu saja tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Tulisan kali lalu tentang hoax penculikan anak, mendapat begitu banyak tanggapan. Salah satu penanggap tulisan itu, ketika dibagikan di halaman facebook, menjadi inspirasi utama tulisan ini.
Adalah Robert B. Baowollo, dalam tanggapannya mengungkapkan bahwa isu seputaran penculikan anak bukanlah ‘barang baru’.
Robert B Baowollo menulis:
Hoax hanyalah sebuah nama modern untuk fenomena lama bahkan nyaris purba. Dari Eropa Barat yang ‘rasional’ hingga Eropa Timur, Amerika Selatan, Afrika dan tentu saja Asia dan Nusa Tadon Adonara, kisah yang menjadi contoh hoax di atas selalu hidup rukun bersama narasi-narasi rasional modern, bahkan narasi religius.
Hoax sebagai fabricated narratives direkayasa oleh invisible hands (bisa berupa bagian dari operasi intelijen).
Baca juga : 70 Ribu Siswa Kelas XII Berprestasi, Gagal Mengkuti Seleksi Masuk PTN Melalui Jalur SNBP, Mengapa?
Tetapi masyarakat sendiri memiliki kemampuan dan kelenturan untuk mempercayai dan ikut menghidup-suburkan narasi-narasi hoax sejalan dengan pergantian musim.
Jelang musim jagung muda ada isu tukang potong kepala alias ‘temeri’ yang diasosiasikan dengan perlunya korban kepala manusia untuk tumbal pembangunan jembatan, dlk
Isu itu kemudian berlalu begitu saja dan akan muncul lagi pada musim berikut.
Tanggapan di atas benar adanya, hoax penculikan anak kini mereda hilang, tak berbekas. Yang tersisa adalah fakta bahwa invisible hands itu masih bisa saja bermain atas isu yang lain.
Menurutnya, selama masyarakat kita belum memiliki cukup kemampuan berpikir kritis rasional, hoax masih akan terus kita jumpai, bahkan menurut Robert orang-orang berpendidikan tinggi pun tidak luput menjadi korban atau bahkan turut menjadi agen penyebar hoax.
Sistem pendidikan kita sudah terlalu lama membuat kita tidak membutuhkan bagaimana berpikir kritis. Asal hafal sejumlah bahan ajar dan bisa menyelesaikan soal-soal ujian, kita telah sukses menyelesaikan sekolah.
Bahkan menurut saya ‘hafalan’ telah menjadi bagian dari ekspresi gen setiap orang dalam masyarakat. Saya berani menulis ini, lebih sebagai gugatan kepada diri sendiri, bahwa jangan sampai kita menghafal berita hoax sebagai kebenaran sahih, ketika mayoritas masyarakat kita menerima hoax itu sebagai kebenaran bersama.
Karena semua orang harus menghafal apapun informasinya, maka ketika mempertanyakan hoax secara kritis, kita merasa menjadi masyarakat kelas dua, sebab mayoritas masyarakat kita mengamini hoax sebagai kebenaran.
Robert B. Baowollo kemudian memberikan gambaran, bahwa tangan-tangan tak terlihat ini, masih akan mereproduksi bentuk-bentuk hoax lain, tidak harus penculikan anak, selama kondisi masyarakat kita memungkinkan untuk itu.
Baca juga : Hoax Tentang Penculikan Anak, Fenomena Apa Ini?
“Media sosial dan masyarakat rentan prasangka = pabrik hoax untuk berbagai tujuan kerusuhan. Baru saja minggu lalu ada hoax pembakaran masjid di Kei dan masyarakat sudah siap bertikai berhadap-hadapan. Pendidikan kita gagal mengasah critical thinking. Menelan fakta mentah memang kita paling jago,” tulis Robert Baowollo
Dalam komentar lanjutannya, Robert Baowollo menulis:
“psikologi tentang prasangka (prejudice) cukup jelas membagi tiga tipe komunikan: tipe pertama manusia deskriptif, orang yang menyampaikan sebuah informasi berdasarkan fakta objektif yang ia ketahui atau alami sendiri;
tipe kedua manusia interpretatif, orang itu menarasikan sesuatu berdasarkan interpretasi atas apa kata orang lain;
tipe ketiga, prasangka, ia sudah punya penilaian sendiri tentang sesuatu atau seseorang (terutama penilaian negatif). Orang ini tidak kompeten secara (komunikasi) sosial, trouble maker, provokator.
Ke depan, tantangan yang kita hadapi terutama terkait dengan informasi hoax tentu lebih beragam persoalan dan kompleks.
Kita masih menghadapi persoalan serius mengenai mengasah critical thinking, kemampuan berpikir kritis dalam dunia pendidikan kita, sekaligus masing-masing kita memilih dengan mantap untuk bergerak ke arah menjadi manusia deskriptif.
Tanpa kedua hal tersebut; critical thinking dan menjadi komunikan deskriptif, para pemilik invisible hands menggunakan kelemahan kita sebagai komunikan yang interpretatif hingga mengeksploitasi kelemahan kita dan mendogmakan prasangka dan menjadikannya karakter masyarakat kita.
Foto: pixabay.com
Tulisan ini telah terbit di Eposdigi.com. Diterbitkan kembali di Depoedu.com atas izin penulis

[…] Baca juga : Penculik Anak, Hoax Dan Generasi Hafalan […]