Taliban Berkuasa, Tapi Tidak Bertindak Ketika Rakyat Afganistan Kelaparan

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Saat ini adalah musim dingin kedua sejak Taliban mengambil alih kekuasaan dari penguasa sebelumnya yang didukung oleh Amerika Serikat. Proses pengambilalihan kekuasaan tersebut dilakukan oleh pemerintahan de facto yang baru, tanpa pengakuan internasional.

Kondisi tanpa pengakuan internasional ini menyebabkan dana bantuan internasional yang sebelumnya diperuntukkan bagi Afghanistan dibekukan. Juga pembekuan aset Afganistan. Situasi ini menyebabkan kelumpuhan ekonomi.

Para pria di luar Provinsi Herat yang tadinya bekerja sebagai buruh harian, sekarang tidak lagi bekerja. Kalaupun kadang-kadang ada pekerjaan, mereka mendapatkan bayaran hanya sekitar 100 Afghanis atau setara Rp 17.000, bayaran yang sangat kecil.

Laporan Bank Dunia seperti dilansir BBC pekan lalu memperingatkan, lebih dari sepertiga rakyat Afghanistan tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. PBB bahkan mengatakan, malapetaka kemanusiaan kini tengah terjadi di Afghanistan.

Menghadapi situasi itu, masyarakat seperti dipaksa untuk mengambil keputusan ekstrim untuk menyelamatkan keluarga mereka tanpa kehadiran pemerintah Taliban sama sekali.

BBC dalam laporannya menggambarkan berbagai cara bertahan hidup yang terpaksa diambil masyarakat. BBC mengutip Abdul Wahab, seorang warga dari banyak warga yang memberikan obat penenang pada anaknya yang kelaparan, agar tertidur.

“Anak kami terus menangis karena menahan rasa lapar, dan tidak dapat tidur. Padahal kami sama sekali tidak memiliki makanan,” ujar Abdul Wahab.

“Jadi saya ke apotek, membeli obat penenang dan memberikannya kepada anak-anak agar mereka tertidur.”

Baca juga: Menyusul, Taliban Melarang Perempuan Afghanistan Kuliah Di Universitas

Cara ini tidak hanya digunakan oleh Abdul Wahab, tetapi juga oleh Gulham dan banyak pria lain. Obat penenang yang mereka berikan adalah Alprazolam, escilatopram, dan sertaline. Di apotek, harga obat-obat penenang itu 10 Afghanis atau setara Rp 1.700 per lima butir.

Padahal sejumlah dokter mengatakan, ketika diberikan kepada anak-anak yang tidak memiliki nutrisi cukup, obat-obat tersebut dapat merusak ginjal, menyebabkan kelelahan kronis, gangguan tidur dan perilaku.

Pria lain, sebut saja Amar, melakukan langkah yang lebih ekstrim untuk mengatasi kelaparan keluarganya. Ia mengatakan telah menjual salah satu ginjalnya, tiga bulan yang lalu, sambil menunjukkan bekas lukanya pada wartawan BBC.

Dari penjualan ginjal itu Amar memperoleh 270.000 Afghanis atau sekitar Rp 48 juta. Sebagian besar hasil penjualannya digunakan untuk membayar utang yang ia pinjam untuk membeli makanan.

Seorang Ibu muda, bahkan sudah menjual ginjalnya lebih dahulu tujuh bulan yang lalu untuk melunasi  pinjamannya beberapa tahun lalu ketika membeli sekawanan domba, meskipun hewan itu telah mati karena bencana banjir.

Kini Ibu tersebut, karena kematian ternaknya, kehilangan mata pencaharian. Uang Rp 42 juta hasil penjualan ginjalnya telah habis untuk bayar utang. Dan sekarang ia terpaksa menjual anak perempuannya yang berusia dua tahun.

Ia terpaksa melakukannya karena tidak tahan dilecehkan setiap hari oleh para pemberi utang dengan mengatakan, “Berikan putrimu kepada kami jika tidak dapat membayar.”

Baca juga : Tokoh Taliban; Tidak Ada Pembatasan Pendidikan Bagi Kaum Perempuan Dalam Islam

Kisah seperti itu juga dialami oleh Nizamudin dan Hazratullah. Hazratullah bahkan mengumumkan di mesjid hendak menjual anaknya bernama Nazia.

Setelah diumumkan di mesjid, Nazia memang akhirnya dijual untuk menikah dengan seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga dari Selatan Afghanistan. Kini Nazia masih tinggal bersama ayahnya hingga ia berusia 14 tahun, hingga ia menikah dengan anak dari keluarga yang membelinya.

Kini Hazratullah, ayah dari Nazia telah menerima dua kali pembayaran. Uangnya akan digunakan untuk membeli makanan sehari-hari dan biaya pengobatan adik laki-laki Nazia yang menderita malnutrisi. Kini kasus malnutrisi meningkat hingga 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Nampaknya situasi ini masih akan berlangsung lama. Karena hingga kini Taliban belum memiliki langkah untuk menghadapi situasi darurat ini. Upaya penciptaan lapangan kerja,  misalnya melalui dua proyek besar yang akan menyerap tenaga kerja yakni tambang biji besi dan proyek pipa gas belum akan jalan dalam waktu dekat.

Seperti dijelaskan oleh Hameedullah Matowakil, juru bicara pemerintah Taliban, pemerintah  masih terkendala oleh sanksi internasional dan pembekuan aset-aset Afghanistan.

Dan nampaknya belum ada tanda melunak karena tiga tuntutan komunitas internasional terkait akses bagi anak gadis untuk mengenyam pendidikan menegah hingga universitas, akses bagi perempuan untuk terlibat dalam pelayanan publik dan akses bagi keterbukaan informasi, belum  dikabulkan oleh pemerintah Taliban.

Terkait keterbukaan informasi, pemerintah Taliban bahkan baru mencabut siaran Radio Liberty layanan Afghanistan pada hari kamis (1/12/2022) karena pemerintah Taliban menilai radio ini tidak patuh pada prinsip-prinsip jurnalis dan liputan sepihak.

Situasi ini membuat rakyat Afganistan merasa diterlantarkan oleh pemerintah Taliban dan komunitas internasional.  Penderitaan akan menjadi cerita sehari-hari bahkan kelaparan akan pelan-pelan membunuh mereka.

Foto:hidayatullah.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Taliban Berkuasa, Tapi Tidak Bertindak Ketika Rakyat Afganistan Kelaparan […]