Mengerikan! Setiap Jam ada Lima Perempuan Terbunuh Oleh Orang Terdekatnya

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kantor Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dan UN Women lewat laporannya pada 23/11/2022 mengungkapkan bahwa ada 45.000 perempuan dan anak perempuan terbunuh oleh keluarganya selama tahun 2021.

Laporan ini, seperti yang dikutip oleh detik.com (24/11/2022), juga mengungkapkan bahwa jika di rata-rata maka setiap jam lebih kurang ada lima perempuan dan anak perempuan yang dibunuh oleh orang dekatnya.

Namun laporan ini kembali menekankan bahwa “bisa jadi” angka ini sebenarnya jauh lebih tinggi.  PBB memperkirakan bahwa ada 81.100 perempuan dan anak perempuan sengaja dibunuh sepanjang tahun 2021.

Seperti dikutip oleh detik laporan ini menulis “Dari semua perempuan dan anak perempuan yang sengaja dibunuh tahun lalu, sekitar 56% dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga yang lain.”

Hal ini “menunjukan bahwa rumah bukanlah tempat yang aman bagi banyak perempuan dan anak perempuan,” tulis laporan itu selanjutnya.

Bukan hanya itu, laporan inipun mengakui bahwa ternyata bukan hanya perempuan, ada 81% peluang terbunuhnya seorang laki-laki atau anak anak laki-laki.

Namun demikian, perempuan dan anak perempuan adalah kelompok orang yang sangat terdampak oleh setiap kekerasan dalam komunitas mereka.  Apalagi laporan ini meyebutkan bahwa terbunuhnya perempuan dan anak perempuan adalah karena alasan gender.

Baca juga : Gempa Cianjur Dan Masa Depan Pendidikan Sadar Bencana Kita

Femisida dalam laporan PBB ini mengungkapkan juga bahwa Benua Asia menjadi yang tertinggi dalam femisida atau sebanyak 17.800 kasus. Sementara Afrika menjadi benua yang paling mematikan bagi perempaun dan anak perempuan nomor dua di dunia dengan 17.200 kasus.

Femisida diperkenalkan pertama oleh Nicole van Den Ven pada tahun 1976 sebagai pembunuhan yang menargetkan perempuan karena kebencian, perilaku merendahkan, kesenangan, rasa kepemilikan, dan sikap-sikap misoginis.

Definisi ini kemudian pada momen Simposium PBB tentang Femisida tahun 2012. berkembang lagi menjadi “pembunuhan yang menargetkan satu atau lebih perempuan hanya karena jenis kelamin/gender mereka.

Di Indonesia, saat ini Komnas Perempuan kemudian merumuskan femisida sebagai pembunuhan yang dikakukan secara sengaja  terhadap perempuan karena gender/kelamin yang didorong oleh adanya perasaan superior, dominasi maupun misiogini terhadap perempuan, rasa memiliki terhadap perempuan, ketimpanan kuasa dan kepuasan sadistic (antaranews.com, 27/11/2022)

Komnas Perempuan kemudian membagi kategori Femisida sesuai dengan konteks Indonesia menjadi sembilan (9) kategori: antara lain Femisida intim untuk mengkategorikan pembunuhan terhadap perempuan oleh suami, pacar, mantan suami, mantan pacar atau pihak lainnya.

Kategori berikut nya adalah femisida budaya, femisida dalam konteks konflik bersenjata, femisida dalam konteks industry sex komersial, femisida pada perempuan disabillitas, femisida karena orientasi seksual dan identitas gender, femisida di penjara.

Kemudian, femisida non intim dan kesembilan femisida pada penggiat HAM / penggiat kemanusiaan.

Data hasil pengamatan Komnas Perempuan selama tahun 2018 – 2020, mengungkapkan bahwa Femisida intim mendominasi dengan 263 kasus. Disusul kemudian oleh femisida non intim sebanyak 131 kasus.

Baca juga : Apa Pesan Presiden Jokowi Pada HUT Ke-77 Persatuan Guru Republlik Indonesia?

Ada juga femisida yang belum teridentifikasi 13 kasus, femisida dalam konteks industry sex komersial sebanyak 8 kasus, femisida pada perempuan disabilitas 3 kasus, kemudian femisida budaya 2 kasus dan femisida karena orientasi sexsual sebanyak 1 kasus.

Alasan femisida pun sangat beragam. Antara lain karena cemburu, dendam/sakit hati, menolak berhubungan sex, masalah uang/hutang, perselingkuhan, cinta ditolak, permasalahan rumah tangga, pekerjaan, perceraian, motif ekonomi, pertengkaran / cekcok.

Kemudian: ketersinggungan maskulinitas, ritual, pencurian, pemerkosaan, kehamilan tidak diinginkan, menolak untuk rujuk dan didesak untuk menikah.

Femisida patut menjadi perhatian yang serius bagi kita bersama. Sebab bagiamanapun seperti dicatat Komnas Perempuan bahwa pembunuhan terjadi dalam pola tertentu dan menargetkan korban karena identitas gender mereka; karena mereka adalah perempuan.

Tidak hanya itu, keseriusian menghapus femisida juga harus dimulai dari upaya penegakan hukum yang lebih berat kepada pelaku.

Regulasi untuk itu harus segera dipikirkan sebagai upaya perlindungan terhadap perempuan dengan pencegahan, pemulihan terhadap korban dan/atau pendampingan pasca kejadian terhadap keluarga korban.

Foto:Fajar

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Mengerikan! Setiap Jam Ada Lima Perempuan Terbunuh Oleh Orang Terdekatnya […]