Ferdi Sambo vs Bohong, Sebuah Tinjauan Psikologis

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kasus Ferdy Sambo menarik perhatian publik setelah sedikit demi sedikit terungkap kebohongannya pada pemeriksaaan demi pemeriksaan untuk mengungkap peristiwa terbunuhnya Brigadir Josua.

Akibat perbuatannya, empat orang terseret, diperiksa sebagai orang yang diduga terlibat pada peristiwa tewasnya Brigadir Josua.

Ferdy Sambo ingin melindungi dirinya dari kasus terbunuhnya Brigadir Josua, namun malah menyeret 30 polisi dalam kasus tersebut. Kebohongan yang dilakukan Ferdy Sambo harus dipertanggung jawabkannya di pengadilan Jakarta Selatan.

Mengapa Ferdi Sambo berbohong?

Ada beberapa alasan yang berbeda-beda, mengapa seseorang berbohong. Berbohong dapat dijadikan alasan sebagai bentuk ingin menghindari perasaan tidak enak, ingin merasa lebih dihargai, atau membuat orang lain merasa kagum, untuk melindungi teman,  ingin menutupi kesalahannya, ingin melindungi diri.

Pada dasarnya setiap orang memiliki kemapuan, daya kreatif untuk memecahkan masalah. Berbohong sering digunakan untuk memecahkan masalah yang sifatnya sementara.

Ada kemungkinan seseorang yang berbohong menganggap tidak ada masalah dengan aktivitas berbohongannya. Lama-kelamaan menjadi suatu pembiasaan, tanpa memikirkan akibatnya.

Jika berbohong menjadi suatu kebiasaan, seseorang dapat mengesampingkan dampaknya yaitu, hilangnya kepercayaan, kehilangan teman dan saudara bahkan karir yang menjadi buruk.

Baca juga : Kurikulum Merdeka Dan Pendidikan Pemerdekaan

Erikson sebagai tokoh psikologi sosial menekankan pentingnya interaksi individu. Pola hubungan sosial bisa positif menjadi ritualisasi, bisa juga negatif menjadi ritualism. Orang yang berbohong akan mengalami gangguan dalam interaksi sosial karena kehilangan kepercayaan teman.

Akibat berbohong dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Hal ini sangat merugikan diri sendiri serta orang lain. Hal lain yang muncul sebagai dampak dari berbohong yaitu dapat mendatangkan penghinaan dan rasa bersalah. Selain itu dapat menghancurkan hubungan dan jaringan sosial yang sebelumnya telah dimiliki.

Orang yang berbohong merasa tidak tenang, merasa takut seperti dihantui perasaan akan diketahui kebohongannya oleh orang lain. Akibat yang muncul dari rasa tidak tenang yang cukup berat, seorang pembohong menjadi gelisah dan dapat menimbulkan masalah baru.

Terlalu sering berbohong dapat menimbulkan seseorang kehilangan jati diri bahkan tertekan dan tidak tenang. Disamping itu, si pembohong akan sulit menemukan teman yang tulus.

Orang yang sering berbohong dapat menimbulkan penyakit dalam dirinya sendiri karena selalu menaruh rasa curiga pada orang lain, bahkan dapat menimbulkan halusinasi yang berkepanjangan.

Kondisi fisik seseorang yang berbohong dapat terganggu karena menimbulkan daya emosi meningkat terutama kecemasan. Akibat lain yang ditimbulkan dan merugikan diri sendiri yaitu munculnya ketidaktenangan di malam hari yang menyebabkan insomnia (gangguan tidur, sulit tidur).

Hal ini akan berpengaruh pada pencernaan dan perilaku agresif yang dapat merusak benda di sekitar bahkan meyakiti diri sendiri dengan tindakan yang mencelakakan.

Beberapa kasus berbohong menyebabkan si pelaku menjadi sulit makan dan sulit tidur sehingga sistem metabolisme tubuh menjadi terganggu. Badan menjadi lemah, kurang tenaga dan semangat karena perasaan cemas dan timbul keinginan untuk menghindari kelompoknya.

Baca juga : Dorong Anak Untuk Bermain Di Alam Terbuka, Baik Untuk Kesehatan Fisik Maupun Mental

Agar tidak terjadi kebohongan, sedini mungkin ajarkan anak untuk berani bersikap terbuka yaitu mengatakan perasaannya secara jujur, berterus terang terhadap masalah yang dihadapi.

Pembentukan perilaku dalam diri anak membutuhkan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua. Tujuannya adalah agar anak tidak bingung, mana yang harus dan boleh dilakukan mana yang tidak boleh dan dilarang.

Jika ayah dan ibu sering berbeda dalam penerapan peraturan dalam keluarga, akan menimbulkan peluang bagi anak untuk berbohong dan memanfaatkan situasi yang berbeda di hadapan ayah dan ibu.

Berikan anak contoh dan keteladanan untuk bersikap jujur. Anak perlu diajari percaya diri sehingga tidak perlu berbohong dengan menutupi kekurangan dirinya. Bantu anak melihat sisi positif dirinya agar dapat berkembang dengan baik secara sosial maupun norma dan etika persahabatan.

Ketakan pada anak dampak negatif jika mereka berbohong sehingga mereka  tidak perlu melakukan aksi kebohongan karena berakibat buruk pada dirinya sendiri. Orang tua harus menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan berbohong pada anak dapat dicegah dengan kedekatan yang terjalin antara anak dengan orang tua, siswa dan guru di sekolah. Kedekatan tersebut dapat menjadikan seorang anak lebih terbuka, berani menceritakan peristiwa yang sebenarnya dan meminta perlindungan.

Anak yang sering mendapat kecaman, sering merasa terancam akan memiliki kepribadian yang kurang menyenangkan, sulit dalam menyesuaikan diri dan berinteraksi, salah satunya adalah berbohong.

Foto:Joglosemar News

5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Ferdi Sambo Vs Bohong, Sebuah Tinjauan Psikologis […]

trackback

[…] Baca juga : Ferdi Sambo Vs Bohong, Sebuah Tinjauan Psikologis […]

trackback

[…] Baca juga : Ferdi Sambo Vs Bohong, Sebuah Tinjauan Psikologis […]