Mari Bersiap untuk Kembali ke Sekolah, Ketika Pandemi Mulai Mereda

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Surutnya gelombang covid-19 di negara kita kian terasa. Area bisnis dan perkantoran beroperasi Kembali. Demikian pula pasar, pusat-pusat perbelanjaan, dan pertokoan.

Satu persatu destinasi wisata terbuka, bahkan untuk turis mancanegara. Tempat-tempat ibadat membuka pintu bagi kehadiran umat. Padatnya arus kendaraan, hingga kemacetan, semakin kerap tampak di jalan-jalan.

Ini menjadi fakta mengembirakan bagi dunia pendidikan. Hampir semua sekolah kemudian menetapkan bahwa pada tahun pelajaran 2022-2023 yang segera menjelang, kegiatan belajar mengajar akan diselenggarakan secara tatap muka sepenuhnya, di sekolah.

Keputusan ini bahkan dinyatakan oleh sekolah yang hingga tahun pelajaran lalu berakhir, masih menerapkan pembelajaran jarak jauh, atau pembelajaran tatap muka terbatas dengan pendekatan hybrid.

Berita kehadiran varian baru covid-19 beberapa waktu lalu memang membuka kemungkinan perubahan terhadap rencana tersebut. Namun sejauh ini, belum ada ketentuan baru dari pemerintah yang dapat menjadi acuan bagi penyelenggara pendidikan.

Mari berasumsi bahwa dengan modal kedisiplinan menjaga protokol kesehatan, rencana kembali ke sekolah ini akan tetap berjalan.

Sepintas terasa bahwa penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka menjadi tanda berakhirnya aneka problem pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring, yang sempat ‘diderita’ banyak pihak.

Tuntutan penyelenggaraan kelas virtual yang memaksa guru meng-upgrade diri, berjibaku menguasai berbagai piranti teknologi, tidak menjadi sedemikian mendesak lagi.

Akan reda juga beban hati para guru yang menyiapkan kegiatan pembelajaran daring sedemikian rupa, namun hanya diikuti sekedarnya, karena pada saat sama, para siswa dapat membuka channel youtube atau game online dari device mereka.

Baca juga : 30 Sekolah Khilafatul Muslimin Mengajarkan Ideologi Khilafah, Ke Mana Birokrasi Pendidikan Kita?

Di sisi lain, penderitaan para siswa yang dalam kejenuhan dan kebosanan harus bergumul sendiri pun tak diperpanjang lagi. Ada guru yang bisa ditemui saat kesulitan memahami materi.

Ada teman yang bisa membantu dan meringankan. Para orang tua yang di rumah berjuang mendampingi belajar putera-puterinya, pun boleh kembali bernafas lega.

Akan tetapi, sungguh tak bisa diingkari bahwa dua tahun bukanlah waktu yang pendek bagi terbangunnya suatu pola, melalui pembiasaan sekian lama.

Menyadari hal ini, akan baik kiranya bila sukacita kembalinya pembelajaran tatap muka diimbangi dengan persiapan semestinya. Dengan demikian, kebaikan yang hendak diupayakan bisa terjadi sesuai harapan.

Dari antara banyak aspek perubahan kembali, setidaknya tiga hal berikut layak diantisipasi baik oleh siswa maupun guru.

Kembali ke sekolah berarti ada jarak dan waktu tempuh dari rumah.

Sudah menjadi fakta yang mau tak mau diterima bahwa sejumlah siswa memasuki ruang kelas daring tanpa persiapan sepenuhnya.

Hadir dalam kelas bisa dilakukan semudah menggeser tubuh dari tempat tidur ke meja belajar di sebelahnya. Tanpa mandi dan sikat gigi pun tak akan sungguh teramati.

Selama pembelajaran jarak jauh, kehadiran tepat waktu di ruang kelas bisa diupayakan siswa dalam hitungan menit bahkan detik. Sejauh kualitas koneksi internet memadai, hanya melalui klik pada link, seketika mereka telah berada di dalamnya.

Tak heran, dimungkinkan bagi mereka untuk hingga saat terakhir menunda join, saat tengah asyik melakukan aktivitas lain.

Baca juga : Ilmuwan Di Tiga Negara Ini Sedang Menciptakan Teknologi Untuk Menghidupkan Orang Mati

Setelah fenomena ini menjadi biasa, dibutuhkan effort extra untuk hadir di sekolah pada waktunya, dalam pembelajaran tatap muka. Selain waktu untuk berkemas dan bersiap diri tampil rapi.

Perlu pula diperhitungkan pula waktu tempuh perjalanan ke sekolah dalam kondisi lalu lintas yang telah normal kembali. Akan baik bila jeda libur pergantian tahun ajaran ini menjadi waktu berlatih untuk bangun tidur lebih pagi.

Keterampilan mengelola kelas perlu diasah kembali

Sudah cukup lama para guru tidak lagi mengalami suasana kelas yang gaduh. Pembelajaran virtual memanfaatkan sarana teknologi, membatasi suara yang bisa diakses pada satu kesempatan.

Fitur raise hand akan mengatur giliran siswa yang hendak bicara, sehingga dengan sendirinya kelas berjalan ‘tertib’.

Pada saat yang sama, di layar laptop para guru, tampil kumpulan wajah dalam petak-petak kamera dengan pandangan terarah pada sang guru sepenuhnya.

Lepas dari aktivitas siswa sesungguhnya di seberang sana, perhatian guru bisa terfokus pada proses pembelajaran yang disiapkan, tanpa gangguan dari ulah siswa peserta kelasnya.

Betapapun jarak waktu telah membuat kegaduhan kelas dan ulah siswa di kelas menjadi kenangan yang dirindukan para guru, namun ketika itu hadir kembali di hadapan mata, tetap perlu disiapkan kemampuan untuk menyikapinya.

Pembelajaran tatap muka, ajang pertemuan pribadi yang beraneka

Betapapun kecanggihan teknologi telah memungkinkan sebuah pertemuan dihadiri oleh sekian banyak peserta dari tempat yang berbeda-beda, namun “kehadiran” peserta dalam forum virtual seperti ini pun dibatasi oleh keterbatasan teknologi.

Tampilnya wajah siswa, terdengarnya suara, terungkapnya pendapat, tertangkapnya respon, tersajinya hasil karya mereka sebagaimana diperlihatkan melalui fasilitas share screen, merupakan bukti kecanggihan teknologi.

Akan tetapi, semua itu masih jauh dari mewakili sosok masing-masing siswa sebagai pribadi.

Baca juga : Interaksi Di Media Sosial Juga Memerlukan Etika. Ini Lima Etika Bermedia Sosial

Pembelajaran tatap muka menghadapkan siswa maupun guru pada perjumpaan antar pribadi dalam arti sesungguhnya. Berbagai kondisi siswa, dengan kecenderungan yang beraneka, memungkinkan sebuah proses pembelajaran yang sama, dialami secara sangat berbeda satu dengan lainnya.

Siswa yang penuh ambisi berprestasi, aktif mengambil setiap peluang dengan percaya diri, mungkin selama ini sudah bisa dikenali. Selanjutnya, pembelajaran tatap muka membuka ruang luas bagi kelompok siswa ini untuk semakin menampilkan diri.

Sementara, kelompok siswa dengan kecenderungan berkecil hati, sangsi akan kemampuan yang dimiliki, atau kurang percaya diri untuk membangun relasi mungkin justru menghadapi pembelajaran tatap muka dengan kecemasan tersendiri.

Pembelajaran jarak jauh yang terpaksa diadakan dalam kondisi pandemi, mungkin justru lebih dipilih oleh kelompok siswa ini, karena merasa bisa aman bersembunyi. Pulihnya situasi yang di satu sisi sangat kita syukuri, justru mereka alami sebagai hilangnya opsi untuk tetap terlindungi.

Gambaran ekstrim kecenderungan dua kelompok siswa, dengan aneka kecenderungan lain di antara keduanya, akan hadir secara bersama-sama dalam kelas-kelas pembelajaran tatap muka.

Fakta ini sangat mungkin berpengaruh pada pola relasi antar mereka, serta dinamika kelas secara keseluruhan.

Sebagaimana dulu pernah dialami, namun sekarang mungkin harus semakin disadari, menghadapi tantangan ini, perlu kepekaan guru mengenali siswanya, dan kreativitas guru menemukan cara menghidupkan kelas yang aman dan nyaman bagi semua.

Bagaimanapun juga, pembelajaran tatap muka adalah sarana agar peristiwa pendidikan yang sejatinya menumbuhkan, dapat terlaksana sesuai hakikatnya.

Maka mari melengkapinya dengan kesiapan paripurna agar sarana yang pada akhirnya tersedia ini dapat berbuah sebesar-besarnya.

Foto:antaranews

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Mari Bersiap Untuk Kembali Ke Sekolah, Ketika Pandemi Mulai Mereda […]