Uang Komite Jadi Masalah di Nagakeo dan Manggarai Timur; Orang Tua Aniaya Kepala Sekolah dan Siswa dikeluarkan dari Ruang Ujian

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Salah satu orang tua siswa berinisial DD, warga Nagemi, Desa Ulupupu 1, Kecamatan Nagaroro, Kabupaten Nagekeo melakukan tindakan penganiayaan terhadap Kepala Sekolah Dasar Inpres (SDI) Ndora hingga tewas.

Korban Delfina Azi dinyatakan tewas setelah dirinya ditikam dengan sebilah pisau oleh DD. Sempat dirawat secara intensif selama kurang lebih 10 jam di Puskesmas Nangaroro, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende untuk mendapatkan pertolongan.

Tetapi usaha ini tak berhasil, hingga akhirnya beliau dinyatakan meninggal dunia pada Pukul 03.00 WITA di RSUD Ende. Salah seorang guru di SDI Ndora, Stefania, membenarkan perihal informasi meninggalnya kepala sekolah tersebut.

“Iya, rujuk ke Ende sekitar jam tujuh malam. Informasi dari Ibu Hesty (Guru SDI Ndora) bilang mama kepala (Kepsek) sudah meninggal dunia jam tiga pagi. Kami sangat terpukul dengan kondisi ini,” tuturnya.

Baca Juga : Apa Yang Bisa Membuat Penyaluran Dana BOS Tahap I Gelombang 3 Sebuah Sekolah Dapat Ditunda?

Adapun motif penganiayaan ini dikarenakan rasa kesal dan marah dari orang tua siswa tersebut karena anaknya dilarang atau tidak diperkenankan mengikuti ujian karena  belum melunasi uang komite sekolah sebesar Rp 1.700.000.

Kasus Uang Komite di Mangarai Timur

Sedangkan kasus uang komite juga terjadi di Manggarai Timur. Yohana Aurel Ririn, seorang siswi di SDK Jawang, Kabupaten Borong, Manggarai Timur mendapatkan pengalaman menyedihkan pada Senin (07/6/2021).

Niatnya yang tinggi untuk mengikuti ujian kenaikan kelas pada hari itu, seketika berubah ketika dirinya terpaksa harus dikeluarkan dari ruangan ujian karena belum melunasi uang komite sekolah sebesar Rp 300.000.

Menurut orang tua Aurel, dirinya belum membayar uang sekolah anaknya itu, dikarenakan suaminya sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan di tengah pandemi covid-19.

“Bukan tak membayar, Pak. Saat ini kami sedang kesulitan, tak adakah kelunakan bagi kami? Karena anak saya tadi pulang sambil menangis,” tutur Daria.

Daria sendiri mengaku kesal dengan kebijakan sekolah yang melarang anaknya ikut ujian. Bahkan ini sangat berdampak pada psikologis anaknya.

“Uang sekolah itu tugas kami orang tua, tapi jangan korbankan anak-anak kami, kasian dia, semangat belajarnya bisa kendor jika diberlakukan seperti ini,” ungkapnya.

Baca Juga : Pancasila: Tegas Dan Tepat Dalam Perbuatan

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto, mengaku geram dengan tindakan pihak sekolah.

“Tidak benar itu, dana komite itu tidak dipaksakan, kenapa sampai siswa dikorbankan seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kadis Teto berencana akan memanggil Kepala Sekola SDK Jawang dalam waktu dekat.

“Saya akan panggil kepala sekolahnya, tidak boleh seperti itu. Anak jangan jadi korban karena uang komite,” tutupnya.

Harusnya keberadaan dana BOS, membuat sekolah lebih fleksibel dalam menangani tunggakan uang komite. Oleh karena itu Dinas Pendidikan diharapkan mengawasi praktek pengelolaan dana BOS di satu pihak dan praktek pemungutan uang komite di pihak lain.

Kita berharap kasus-kasus ini menjadi pembelajaran bagi berbagai pihak untuk melakukan pengawasan dan antisipasi sehingga proses Pendidikan di dua daerah ini, dan proses Pendidikan di NTT, pada masa yang akan datang berjalan lebih baik.

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments