Pendidikan di Masa Pandemi: Kerja Kolaboratif, Inovatif, dan Kreatif

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pandemi covid-19 mengubah seluruh tatanan dan pola perilaku manusia dari yang lama menjadi baru. Segalanya berubah, tak terkecuali. Perilaku manusia, mulai dari gaya berkomunikasi, berinteraksi, pola konsumsi, perilaku belajar dan mengajar, berwisata hingga beribadah pun serentak berubah.

Perjumpaan antara satu dengan yang lain banyak terjadi di ruang virtual. Konsekuensinya, banyak fitur-fitur baru lahir bersamaan dengan hadirnya pandemi covid-19, seperti zoom, GCR, Microsoft Teams, Google Meet, dan lain sebagainya. Fitur-fitur ini menjadi platform yang nyaris tak pernah absen dari perilaku manusia di masa pandemi seperti ini.

Tulisan ini mencoba untuk melihat fakta empiris proses pendidikan di masa pandemi. Selanjutnya, penulis menawarkan beberapa gagasan pokok yang terangkum dalam tiga kata kunci yaitu kolaboratif, kreatif dan inovatif. Ketiga kata kunci ini dipakai untuk merespon dan beradaptasi dengan pola pendidikan di masa pandemi.

Fakta Empiris Pendidikan di Masa Pandemi

Pemerintah memandang pentingnya meningkatkan dan mengoptimalisasikan pendidikan meskipun tengah digempur pandemi covid-19. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi learning loss (hilangnya pembelajaran).

Untuk mewujudkan misi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan meluncurkan 8 program kemendikbud saat pandemi. Kedelapan kebijakan tersebut antara lain: belajar dari rumah, pelatihan guru, merawat kebudayaan, bantuan mahasiswa, penguatan sekolah, pencegahan covid-19, dan membuat prioritas dan kebiasaan baru. Delapan paket kebijakan ini menghabiskan anggaran kurang lebih 4,9 triliun (Kemendikbud, Agustus 2020).

Baca Juga : Belajar Lewat Proyek

Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga memfasilitasi belajar dalam jaringan (daring) dengan menjajak dan menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta seperti kelas pintar, quiper, ruang guru, google, sekolahmu, microsoft, dan zenius.

Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan quota internet gratis kepada siswa dan juga guru yang mengalami kesulitan untuk mengakses dan melaksanakan proses pembelajaran secara daring. Tingginya atensi pemerintah pada dunia pendidikan menunjukan komitmen dan keseriusan negara untuk terciptanya pendidikan yang humanis dan berkelanjutan.

Fakta empiris lain tentang pendidikan di masa pandemi adalah perihal siswa yang sudah tidak nyaman lagi menjalankan rutinitas belajar dari rumah. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni 2020.

UNICEF melalui kanal U-Report yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Messenger menerima lebih dari 4.000 tanggapan dari para siswa di 34 Provinsi di Indonesia. Hasil survei mereka melaporkan sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa di Indonesia mengaku tidak nyaman belajar di rumah.

Selain itu, terdapat 38 persen siswa yang mengatakan kekurangan bimbingan dari guru. Ada 35 persen yang menyebutkan akses internet yang buruk. Selain para siswa, kesulitan juga dialami oleh para guru terutama dalam beradaptasi dengan fitur-fitur pembelajaran.

Kerja Kolaboratif, Inovatif, dan Kreatif

Untuk mengantisipasi terjadinya learning loss di masa pandemi, maka dibutuhkan sinergisitas dan kerja kolaboratif yang terjalin dengan mesra antara pemerintah selaku pembuat kebijakan, guru, orang tua dan para siswa. Kerja kolaboratif yang dimaksudkan adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan tetap memperhatikan aspek keuntungan bagi semua pihak.

Baca Juga : Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Belajar Tak Terbatas

Kebijakan dalam pendidikan di masa pandemi, tidak boleh hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lain. Contoh kerja kolaboratif lainnya, seperti orang tua yang tidak membiarkan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab para guru. Di masa pandemi seperti ini, guru, orang tua dan siswa harus sama-sama aktif. Aktif untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara online supaya memastikan proses pendidikan tetap berlangsung secara wajar dan membaik.

Sementara itu, pemerintah dengan giat terus meluncurkan paket kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan dalam bidang pendidikan, baik bagi para peserta didik maupun para guru. Proses pendampingan yang matang dan intensitas komunikasi menjadi hal penting yang harus menjiwai diri para guru, orang tua, pemerintah dan para siswa itu sendiri.

Selain kerja kolaboratif, unsur lain yang tak kalah penting adalah perihal inovatif dan kreatif. Para stakeholders yang mengambil peran penting dalam dunia pendidikan (pemerintah, guru, orang tua dan siswa) harus meningkatkan asah dan kemampuan kreatif dan inovatif dalam mendesain dan menyesuaikan diri dengan model pembelajaran di masa pandemi.

Pembelajaran yang dimediasi oleh teknologi (zoom, google meet, GCR, Microsoft Teams, dll.) harus didukung oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengoperasikan perangkat-perangkat tersebut.

Hal ini sangat penting sekali, agar tujuan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik kepada para siswa. Begitu juga dengan orang tua, bisa memantau perkembangan anaknya melalui platform-platform yang sudah disediakan oleh pemerintah.

 Baca Juga : Ekosistem Sekolah Penggerak

Kreatif dan inovatif ini juga sangat diperlukan agar tidak terjadi gaptek atau gagap teknologi ketika berhadapan dengan perubahan yang berlangsung secara cepat. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi (pendidikan) menjadi suatu keharusan di masa pandemi, khususnya bagi para guru dan siswa.

Hal-hal penting lainnya adalah kerja inovatif dan kreatif dalam mendesain dan memodifikasi materi yang disampaikan kepada para siswa. Materi harus disampaikan semenarik mungkin, tentunya dengan meningkatkan audio-visual sehingga memberikan daya tarik tersendiri bagi para siswa dalam belajar.

Selain itu, juga memperhatikan aspek pendidikan karakter sebagai bagian penting dalam meningkatkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Caranya adalah dengan intens membangun komunikasi dan dialog, bukan hanya untuk memastikan tugas sudah dikerjakan atau belum, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan mental dan psikis para siswa dalam belajar.

Akhirnya, pendidikan di masa pandemi ini, membutuhkan sentuhan tangan-tangan berkompeten mulai dari pemerintah, guru, orang tua dan siswa. Tujuannya hanya satu agar pendidikan tetap berjalan pada koridor yang tepat dan sampai pada tujuannya, yaitu memanusiakan manusia.

Penulis adalah alumnus Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Foto:news.detik.com

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Pendidikan di Masa Pandemi: Kerja Kolaboratif, Inovatif, dan Kreatif […]

trackback

[…] Baca Juga: Pendidikan Di Masa Pandemi: Kerja Kolaboratif, Inovatif, Dan Kreatif […]