Giat John Paul Green Berkunjung ke Pondok Buah, Belajar Bertani dan Berbisnis ala Anak Muda

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pada Jumat, 18 November 2021 pagi yang lalu, gerimis tipis baru saja usai menyapu, ketika saya bergabung dengan rombongan peserta didik SMAS Katolik St. John Paul II Maumere. Mereka adalah peserta didik yang bergabung dalam program ekstrakurikuler yang diberi nama John Paul Green (JPG). Kami bersama-sama berangkat menuju Pondok Buah, Kewapante, Maumere, tepat pukul 08.30 WITA.

Pondok Buah merupakan kebun pertanian yang dikelola oleh dua orang muda asal Sikka, Ferdy dan Hando. Hari itu, anak-anak JPG diajak berkunjung dan diberikan kesempatan untuk belajar langsung tentang bertani dan bisnis pertanian yang mereka kelola. Kurang lebih sekitar 30 peserta didik hari itu sempat ikut bergabung dalam rombongan.

Setelah tiba di sana, anak-anak diberi kesempatan untuk berkeliling dan mengamati sebentar, sebelum guru pendampingnya kemudian mengumpulkan mereka di sebuah pondokan sederhana dalam kebun itu. Rombongan pun disapa dan disambut Kak Ferdy, pemilik dan pengelola kebun Pondok Buah. Meski begitu, Kak Ferdy lebih senang disapa Kak Tani.

Setelah perkenalan singkat, Kak Ferdy kemudian membagikan banyak sekali informasi. Antara lain tentang awal perjalanan ia dan rekannya memutuskan untuk menjadi petani, juga suka duka perjalanan merintis usaha itu hingga tips dan trik memulai dan menjalankan usaha berbasis agrobisnis. Bahkan, Kak Ferdy juga sempat berbagi mimpi mereka untuk bisa mengembangkan prospek agrowisata di lahan milik mereka seluas kurang lebih 1,7 ha tersebut.

Baca Juga : Tingkat Drop Out Mahasiswa Tinggi Pada Lima Program Studi Ini. Apa Upaya Untuk Mencegahnya?

“Saya sudah pernah bekerja di beberapa bidang lain sebelumnya, yakni di bidang media, menjadi peneliti, dan juga bidang videography. Latar belakang pendidikan saya pun sama sekali jauh dari bidang pertanian. Namun sejak kecil memang sudah gemar menanam dan bertani dan selalu merasa ingin bertani suatu saat nanti,” ungkap Kak Ferdy dalam sesi berbaginya dengan adik-adik JPG.

Bersama rekannya, Kak Hando, Kak Ferdy mulai mengelola kebun itu sejak Februari 2021 setelah sebelumnya mereka sempat mengelola kebun di kawasan lain dengan sistem kontrak. Kini, di atas lahan seluas 1,7 ha milik orangtuanya, mereka baru mengelola kurang lebih area seluas 4500 m2 dengan menanam cabai rawit, kelapa, terong, dan juga pepaya. Sistem perkebunan yang mereka lakukan juga terbilang unik. Terdapat 12 bedeng dengan ukuran 95 m x 1,20 m. Kesepuluh di antaranya ditanami cabai rawit, dan dua bedeng lainnya ditanami terong. Bedeng-bedeng tersebut dibuat di antara pohon-pohon kelapa yang juga produktif. Lalu di sela-sela bedeng mereka tanami juga pohon pepaya jenis California.

“Prospek bisnis di bidang pertanian ini panjang umurnya, adik-adik. Dan dengan perkembangan teknologi masa kini yang semakin hari semakin pesat, kita bisa jadi petani tanpa perlu punya badan kekar dan otot baja. Sekarang semua bisa lebih canggih, asal ditekuni,” jelas Kak Ferdy, ketika salah satu anggota JPG bertanya tentang motivasi mereka bertahan di bisnis bidang pertanian ini.

Sistem pengairan di kebun ini, contohnya, telah menggunakan sistem irigasi tetes dengan konsep yang sederhana, yaitu memanfaatkan gravitasi bumi.

“Tanaman cabai rawit ini saja, cukup kami sirami dengan sistem irigasi tetes ini selama 30 menit di pagi dan sore hari. Lazimnya sistem pengairan dengan irigasi tetes membutuhkan instalasi yang lebih kompleks, terutama untuk memastikan aliran air cukup kencang untuk mengairi bedeng seluas ini. Namun di sini, kami cukup memanfaatkan gravitasi. Tidak butuh pompa untuk mendapatkan tekanan air yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan demikian biayanya jauh lebih terjangkau,” pungkas Kak Ferdy menjelaskan.

Adik-adik John Paul Green nampak antusias dan bersemangat mengikuti sesi informasi dari Kak Ferdy. Apalagi ketika mereka tahu bahwa omset yang diperoleh dari 5000 tanaman cabai rawit di kebun itu saja bisa mencapai sekitar 12 juta rupiah per bulan, dengan target panenan sebanyak 2500 kg selama 6 bulan. Mereka akhirnya tahu bahwa ternyata menjadi petani bukanlah pilihan terakhir. Justru bisa menjadi pilihan pertama orang-orang muda seperti Kak Ferdy dan Kak Hando sebab prospeknya memang sedemikian menjanjikan.

Ketika berbagi tips dan triknya memulai usaha di bidang pertanian, Kak Ferdy mengingatkan bahwa masih banyak lahan yang dibiarkan tidur di kota Maumere dan sekitarnya ini. Orang masih cenderung untuk menyewakan lahan untuk usaha bagi orang lain, bahkan pendatang, atau juga menjualnya untuk dijadikan lahan hunian. Padahal sebenarnya bisa dimanfaatkan, salah satunya dengan bercocoktanam.

“Dalam menjalankan usaha seperti ini, pastikan kita tahu karakter tanahnya, apa yang mau kita tanam, bagaimana kebutuhan pasarnya, dan apakah kita punya modal untuk mulai mengelolanya. Dan untuk menemukan passion menanam, mulailah dulu dengan sungguh-sungguh menanam. Setelah itu kalian pasti akan bisa merasakan buah baiknya,” tambah Kak Ferdy memberikan gambaran.

Usai sesi berbagi informasi tersebut, adik-adik John Paul Green kemudian diajak untuk mempelajari dan mempraktikkan cara menanam benih terung di sebagian area salah satu bedeng yang telah siap ditanami. Mereka juga diberi kesempatan untuk ikut memanen cabai rawit di bedeng lain setelahnya. Selama sesi tersebut, tiap-tiap mereka sering bertanya dan aktif mengamati setiap prosesnya.

Baca Juga : Sikkapedia; Giat Tiga Bulan Untuk Seratus Tahun

John Paul Green sendiri merupakan salah satu program ekstrakurikuler yang ada di SMAS Katolik St. John Paul II Maumere. Dengan slogan Selamatkan bumi mulai dari sini! anak-anak yang tergabung di dalamnya diagendakan untuk mengikuti dan melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dan pertanian. Salah satunya, di seminggu sebelumnya, John Paul Green sudah mulai menyiapkan media tanam dalam kurang lebih 640 polybag untuk ditanami berbagai bibit pohon di lingkungan sekolah mereka.

“Targetnya, kami bisa menanam dalam 5000 polybag per tahun. Anak-anak kami ajak untuk mulai mengumpulkan bibit-bibit pohon tabebuya, jeruk citrum, juga kembang telang, serta berbagai jenis bibit lainnya yang bisa mereka temui di lingkungan sekitar. Nanti bibit-bibit itu akan sama-sama kami tanam dan rawat di lingkungan sekolah,” jelas Pak Dion Paskalis, salah satu guru pembimbing John Paul Green.

Selain kegiatan menyiapkan media tanam tersebut, masih banyak kegiatan yang telah direncanakan dalam program John Paul Green ini ke depannya.

“Kegiatan seperti hari ini merupakan salah satu upaya mengajak anak-anak melihat dari dekat giat bertani dan belajar langsung dengan mempraktekkannya. Semoga dengan pengalaman belajar seperti ini, selain belajar dari alam, mereka juga termotivasi untuk menghargai dan mencintai alam dan lingkungan bahkan melihat bidang pertanian sebagai prospek masa depan yang juga menjanjikan,” imbuh Pak Dion.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of