Mengenal Ignatius Joseph Kasimo, Tokoh Yang Teguh Memegang Prinsip

Tokoh
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Tanggal 7 November 2011, tepat 10 tahun yang lalu, pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011 menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada I.J. Kasimo. Penghargaan nasional ini diberikan hampir 15 tahun setelah wafatnya sang tokoh. Siapakah gerangan sosok ini?

Butuh waktu cukup lama bagi bangsa kita untuk mengenali dan mengakui kiprahnya. Padahal faktanya, I.J.Kasimo adalah salah satu tokoh yang berperan menghadirkan Indonesia dari sebuah cita-cita menjadi berwujud nyata.

Tak heran bila Anhar Gonggong, Doktor Ilmu Sejarah dari Universitas Indonesia ini pernah secara khusus memberikan catatan pada kalangan Gereja Katolik yang dinilainya tidak cukup memperjuangkan I.J.Kasimo untuk memperoleh gelar pahlawan nasional.

Sejarawan kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan yang aktif dalam kegiatan pendidikan dan penelitian ini, secara khusus dihadirkan dalam event Seminar Keteladanan SMA Santa Ursula Bumi Serpong Damai, untuk mengenalkan tokoh I.J.Kasimo kepada para siswanya.

Ditegaskan bahwa sebagai sosok berlatar budaya Jawa dan beriman Katolik, I.J. Kasimo senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyat dalam segala situasi. Ini merupakan satu dari sekian banyak kontribusi IJ Kasimo pada bangsa ini.

Baca Juga : Kunjungan Kelas Sebagai Upaya Mendorong Iklim Belajar Bersama Untuk Pemerataan Penguasaan Kompetensi Guru

Sebagaimana dikisahkan dalam web unika atmajaya jakarta, institusi di mana Anhar Gonggong mengajar, kepekaan I.J.Kasimo terasah oleh pengalaman ketidakadilan semasa hidup sebagai putra seorang abdi (prajurit) kraton yang tidak bergaji. Bersyukur, status putra abdi kraton menjadikannya bisa bersekolah.

Kegemaran membaca, ditambah kemahiran berbahasa Belanda, menjadi modal untuk membekali diri. Aktivitas literasi, terlebih di area ekonomi dan sosiologi, serta menjadi anggota sejumlah kelompok diskusi, membangun konsepnya untuk menjawab keprihatinan di depan mata.

Berlanjut ke Muntilan, menjadi murid sekolah keguruan yang didirikan oleh pastor van Lith, Kasimo belajar tentang cinta kasih yang terwujud dalam sikap berani membela keadilan, berpihak pada mereka yang tertindas.

Sifat-sifat perikemanusiaan, kerakyatan, kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian serta toleransi yang dimiliki oleh IJ Kasimo sedikit banyak adalah cerminan dari ajaran Pastor van Lith.

Maka ketika lulus dari sekolah pertanian menengah (Middelbare Landbouw School/MLS) di Bogor, menjadi pegawai perkebunan milik pemerintah di Kendal Jawa Tengah, Kasimo menunjukkan keberpihakan pada para buruh, bahkan rela dipecat demi membela mereka.

Meninggalkan jabatan sebagai mandor di Kendal, Kasimo kemudian dipekerjakan sebagai guru Sekolah Pertanian di Klaten. Periode ini ditandai dengan perjuangannya mengupayakan hak rakyat atas tebu mereka, bukan sekedar buruh kasar dengan upah rendah.

Baca Juga : Learning To Stop: Refleksi Keputusan Dan Panggilan Sebagai Orang Tua

Bersama dengan semangatnya membela hak kaum pribumi, Kasimo merintis upaya mengakhiri kolonialisme. Karena lewat proses literasi, Kasimo meyakini bahwa setiap bangsa mempunyai hak atas kemerdekaan, dan pemerintah terbaik berasal dari masyarakat sendiri.

Dalam rangka ini, di Bogor ia bergabung dengan Jong Java, menjadi Ketua Perkumpulan siswa MLS, hingga aktif berpolitik pada masa pergerakan nasional.

Tahun 1923, Kasimo ikut mendirikan partai yang menjadi cikal bakal Partai Katolik. Tahun 1931 s.d. 1942, Kasimo menjadi anggota Volksraad, serta ikut menandatangani petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia Belanda pada tahun 1936.

Setelah Indonesia merdeka, Kasimo menjadi anggota KNIP, dan merintis penggabungan partai-partai Katolik menjadi satu partai untuk menegaskan integrasi Katolik dengan Indonesia, menghapus kesan keterkaitan Katolik dengan kolonialisme.

Tidak hanya itu, perjuangan Kasimo berlanjut di kancah internasional dengan terlibat dalam sejumlah perundingan untuk mengupayakan pengakuan dunia atas kemerdekaan Indonesia.

Sementara di lingkup nasional, Kasimo memberikan perhatian pada pertanian dan perkebunan demi mengembangkan perekonomian nasional yang menguntungkan rakyat banyak.

Baca Juga : Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Di laman berita tirto.id dan tribunnews.com ditegaskan bahwa sepak terjangnya membuat Kasimo kemudian berperan dalam berbagai era pemerintahan. Menteri Muda Kemakmuran, Menteri Persediaan Makanan Rakyat, dan menteri Perekonomian.

Dari Kasimo lahir ide memperbanyak kebun bibit unggul, pencegahan hewan pertanian untuk disembelih, penanaman kembali lahan kosong, dan perpindahan penduduk ke Sumatera. Selanjutnya, sebagai anggota DPR, Kasimo ikut memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Tanpa merisaukan keberadaannya sebagai orang Katolik yang cenderung dianggap minoritas, Kasimo secara konsisten bersuara dan bersikap untuk kepentingan segenap bangsa dan kesejahteraan bersama.

Dalam berpolitik, Kasimo teguh memegang prinsip, tidak menyerah pada kepentingan, meskipun ini kerap membuatnya mendapat banyak pertentangan.

Di kalangan Gereja Katolik, sebagai bentuk apresiasi atas perjuangannya, pada tahun 1980 Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan Kasimo penghargaan Bintang Ordo Gregorius Agung serta diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung.

Setelah berkarya untuk Indonesia hampir tanpa jeda, masih jadi anggota DPA di pemerintahan Orde Baru, IJ Kasimo wafat pada 1 Agustus 1986 di RS Saint Carolus, Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Foto: tirto.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of