Depoedu.com-Presiden Prabowo Subianto akhirnya memutuskan untuk melakukan reshuffle yang pertama (19/2/2025) setelah kabinet Merah Putih dilantik pertama kali pada tanggal 21 Oktober 2024. Menteri yang terkena reshuffle tersebut adalah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek) Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, M.Sc., Ph.D.
Reshuffle ini terjadi setelah Prof. Satryo menjadi sorotan publik karena sejumlah kebijakan dan pernyataannya memicu kontroversi. Misalnya ketika ia menyatakan alumni LPDP tidak wajib pulang kembali ke Indonesia setelah lulus, yang bertentangan dengan kebijakan selama ini.
Kebijakan lain yang menuai kontroversi adalah surat edaran dari Kemendikti Saintek yang menyatakan bahwa pemerintah tidak akan membayar tunggakan Tunjangan Kinerja Dosen ASN sejak tahun 2020. Kebijakan ini memicu dosen ASN untuk turun ke jalan pada 3 Februari 2025.
Selain dosen, Pegawai ASN Kemendikti Saintek juga menggelar aksi untuk menolak tindakan pemecatan oleh Prof. Satryo terhadap salah seorang ASN, secara tidak prosedural, sepihak dan tidak adil. Prof. Satryo membantah tudingan tersebut. Ini merupakan aksi protes ASN pertama kali yang terjadi di kantor Kementerian di Indonesia.
Pernyataan Prof. Satryo lain yang menimbulkan kontroversi adalah pernyataan di Komisi X DPR RI tentang kemungkinan adanya kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) akibat tindakan pemotongan anggaran pendidikan karena efisiensi, yang dilakukan oleh pemerintah. Pernyataan ini kemudian ramai dipersoalkan oleh gerakan mahasiswa di berbagai daerah.
Pernyataan ini berbeda dengan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Gedung DPR. Kata Sri Mulyani, pemotongan hanya diterapkan pada anggaran meeting, incentives, conventions and exhibitions. Oleh karena itu, tidak boleh mempengaruhi keputusan perguruan tinggi mengenai UKT.
Baca juga : Membangun Budaya Konseling di Sekolah: Refleksi dari Forum Regional IC3 2025
Situasi ini menimbulkan spekulasi tentang akan terjadi reshuffle Kabinet Merah Putih. Kabar ini telah beredar sejak Senin, 17 Februari 2025 di kalangan wartawan, dengan beberapa nama menteri yang akan kena reshuffle tersebut. Pada, Selasa, 18 Februari 2025 malam, Prof. Satryo mengajukan surat pengunduran diri.
Sejak pagi hari, kabar tentang adanya reshuffle ini semakin kuat beredar, dan pada sore hari, 19 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Prof. Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi di istana negara Jakarta, untuk masa jabatan 2024-2029.
Siapa Prof. Brian Yuliarto?
Nama dan gelar lengkapnya adalah Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng. Ph.D. Ia lahir di Jakarta pada 27 Juli 1975. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1999. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di University of Tokyo dan lulus tahun 2002.
Setelah memperoleh Master dalam Quantum Engineering dan System Science ia melanjutkan pendidikan S3 di universitas yang sama, pada bidang yang sama dan lulus tahun 2005. Ia kembali ke Indonesia dan mulai menekuni karier sebagai dosen di ITB pada tahun yang sama.
Dalam kariernya sebagai dosen di ITB, ia pernah menduduki berbagai jabatan. Di antaranya pernah menjadi kepala lembaga Kemahasiswaan ITB dari tahun 2010-2016. Dua tahun kemudian, Brian menduduki jabatan sebagai Ketua Program Studi Teknik Fisika ITB sejak tahun 2016-2020.
Pada tahun 2018 ia memperoleh gelar Profesor dari Fakultas Teknologi Industri ITB. Selanjutnya Brian kemudian diangkat menjadi Dekan pada Fakultas Teknologi Industri ITB periode 2020-2024. Selanjutnya pada tahun 2025 Brian diangkat menjadi Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi.
Baca juga : Seminar Parenting & Trial Class: Membangun Komunikasi antar Orang Tua dan Anak
Fokus dalam risetnya
Selain mengajar, Prof Brian aktif melakukan penelitian. Fokus penelitiannya pada upaya pengembangan sensor untuk mendeteksi berbagai molekul target secara cepat dan akurat. Ia telah berhasil mengembangkan sensor untuk mendeteksi gas berbahaya, polutan untuk mendiagnosis penyakit seperti demam berdarah, hepatitis, kanker, dan bakteri patogen.
Bidang lain yang menjadi fokus risetnya adalah upaya menciptakan kemandirian teknologi di bidang biosensor untuk kebutuhan medis. Untuk itu, ia menjalin kerja sama dengan industri untuk mengembangkan alat diagnostik penyakit.
Dalam riset, Prof Brian juga aktif melakukan kolaborasi riset dengan para peneliti internasional. Ia telah menerbitkan 329 artikel ilmiah yang tercatat dalam indeks scopus dan telah divisitasi sebanyak 5.618 kali.
Prestasi Sebagai Dosen dan Peneliti
Sebagai dosen Prof. Brian Yuliarto pernah tercatat sebagai dosen berprestasi di bidang Saintek ITB pada tahun 2017. Sedangkan sebagai peneliti, ia dikenal sebagai pakar nanoteknologi dan kuantum. Ia memiliki pengalaman luas dalam riset dan inovasi, terutama dalam pengembangan nanomaterial untuk aplikasi sensor dan energi.
Sebagai peneliti ada beberapa prestasi yang ia raih seperti menjadi peneliti terbaik ITB tahun 2021. Pada tahun 2023 menjadi Top 1 Indonesia Researcher Nanoscience & Nanotechnology 2023, penerima Habibie Prize tahun 2024, dan pada tahun yang sama menjadi World’s Top 2% Scientist.
Dengan reputasi ini nampaknya Presiden Prabowo Subianto mengharapkan Prof. Brian membawa terobosan baru dalam pengembangan Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi di Indonesia melalui kolaborasi global untuk meningkatkan daya saing Indonesia menuju Indonesia Maju di 2045.
