Ketika Pedagogi Kasih Sayang Diabaikan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kasih sayang sebagai basis pendidikan, semakin dipertanyakan dalam dunia pendidikan moderen. Kalau kita meninjau dari aspek perkembangan sejarah pendidikan, yang berkaitan dengan pendidikan yang berkembang dalam masyarakat manusia, maka sangat jelas tema utama yang muncul adalah kasih sayang. Para pemikir Yunani klasik telah menyatakan hal tersebut. Contohnya, Froebel, Montesori, Henderson, Langeveld. Mereka telah meletakkan dasar pemikiran tentang kasih sayang dalam pendidikan. Dalam konstelasi perubahan yang timbul akibat pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi, muncul berbagai alternatif baru sebagai strategi yang turut berpengaruh pada praksis pendidikan dan pembelajaran.

Perubahan kurikulum misalnya, berdampak pada perubahan strategi pembelajaran yang juga akan berpengaruh secara langsung terhadap perilaku belajar yang dituntut pada peserta didik. Sebuah contoh konkrit yang saat ini sedang lagi gandrung adalah pembelajaran berbasis E-learning yang menuntut para peserta didik untuk melakukan secara mandiri dengan berbagai pendekatan yang sesuai agar mampu mengarahkan, memotivasi, dan mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran E-learning memang berdampak pada kemandirian belajar, namun demikian kondisi ini nampak tidak berperannya guru secara implisit. Guru bertindak sebagai fasilitator, dan pengarah. Ada jarak yang sangat jelas antara guru dan peserta didik. Dapat dipastikan bahwa sentuhan kasih sayang, cinta yang tulus, atau perhatian tidak terjadi antara guru dan peserta didik. Proses mendidik menjadi sangat “kering”, karena “ kegeniusan” komputer tidak mampu mengungkapkan perasaan dan hati nurani dalam menyampaikan pesan pendidikan.

Memaknai pedagogi kasih sayang dalam pembahasan ini adalah bahwa ketika guru sudah kehilangan kasih sayang kepada peserta didiknya, maka pada saat itulah pendidikan mulai kehilangan jati diri. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa, kasih sayang menjadi basis pendidikan. Basis pendidikan yang dilandaskan pada kasih sayang, dimaksudkan adalah bahwa relasi mendidik dan mengajar yang melekat pada guru harus bersentuhan langsung dengan pikiran dan perasaan para peserta didik. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang ada pada guru adalah merupakan bagian dari apa dan bagaimana seharusnya yang dilakukan guru agar dengan penuh kesadaran dibekali kepada para peserta didik. Para peserta didik tidak boleh lepas dari perhatian dan perasaannya. Peserta didik adalah bagian dari hati nurani dan perasaan para pendidik.

Pedagogi dipahami sebagai seni mengajar, terutama yang dikaitkan dengan penggunaan secara sadar metode-metode pengajaran tertentu. Istilah pedagogi berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata paeda yang artinya anak, dan gogi yang artinya pendidikan. Dengan demikian untuk memahami pedagogi, selalu dikaitkan dengan seni mengajar anak, terutama yang berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan metode pengajaran tertentu. Artinya strategi atau seni pedagogi yang diterapkan oleh pendidik yang satu tentu berbeda dengan pendidik yang lainnya. Selanjutnya pedagogi kasih sayang, tentu saja yang merupakan seni mendidik anak dengan tetap memberikan sentuhan kasih sayang, dan cinta yang tulus. Dengan demikian pendidikan dapat kehilangan jati dirinya ketika para peserta didik tidak merasakan sentuhan kasih sayang dan cinta yang tulus dari para pendidiknya.

Fenomena yang muncul dalam pendidikan moderen sebagaimana telah diuraikan di atas, memerlukan suatu kesadaran di kalangan pendidik, untuk memberikan perimbangan antara sistem pendidikan moderen yang identik dengan “kegeniusan “ komputer, dengan kesadaran penuh untuk memberi sentuhan kasih sayang langsung sebagai seni dalam mendidik anak selaku peserta didik. Kesadaran untuk memberikan perimbangan antara teknologi pembelajaran moderen (komputer) dan sentuhan kasih sayang yang memadahi, akan memberikan peruntungan ganda bagi para peserta didik. Upaya yang diperlukan adalah mencari keseimbangan antara upaya mencerdaskan anak dengan menggunakan pendekatan-pendekatan mutakhir, namun tetap mendasarkan proses pendidikan pada kasih sayang.

Martin Cetron (1996), seorang penasehat presiden Amerika Serikat John F.Kennedy, menulis sebuah dokumen yang mengemukakan bahwa, pedagogi baru akan mengakibatkan terjadinya revolusi dalam pendidikan – di masa depan, individu akan belajar lebih mengandalkan prakarsanya sendiri – tempat-tempat belajar akan lebih tersebar dan proses belajar akan lebih tergantung pada kemampuan seseorang bukan lagi sekedar tradisi. (Martin Cetron dalam Dedy Supriadi, 1998:8). Ramalan Cetron, menjadi kenyataan dan fenomena dalam pendidikan moderen yang sedang berlangsung. Terjadinya revolusi bidang pendidikan akibat munculnya pedagogi baru. Pedagogi baru ada pada genggaman para pendidik. Namun demikian, prediksi Cetron sekalipun, kasih sayang yang dimiliki manusia, tidak dapat digantikan oleh teknologi komputer, sebagai simbol revolusi dan moderenisasi saat ini.

Atas kesadaran penuh untuk melakukan proses mendidik yang lebih bijaksana dan juga selalu mengikuti perubahan zaman, guru sebaiknya tidak mengabaikan pedagogi kasih sayang. Perubahan zaman tetap menjadi bagian dari dinamika dengan terus berupaya menyesuaikan diri untuk mencerdaskan anak sesuai dengan tuntutan zaman. Sisi penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah keterlibatan pendidik secara langsung untuk tetap bersama para peserta didik. Peserta didik sangat membutuhkan sentuhan kasih sayang yang hingga saat ini masih dipertanyakan. Eksistensinya perlu dimunculkan karena merupakan bagian dari upaya pendidikan untuk mencerdaskan mereka dan semua itu adalah otoritas pendidik. Jika kita sepakat untuk peduli akan pendidikan anak dengan upaya mencerdaskan mereka maka tetaplah pada posisi perubahan zaman dengan berbagai tuntutan namun tidak mengabaikan pedagogi kasih sayang sebagai basis pendidikan.

Kita melihat fakta bahwa, gejala sosial yang muncul dan marak terjadi dalam masyarakat moderen dewasa ini misalnya, perkelahian antar pelajar, geng pelajar, builing antar pelajar, perselisihan antara pelajar/ mahasiswa dengan guru/dosen, atau aksi demo yang dilakukan pelajar/mahasiswa, menjadi keprihatinan kita bersama. Moralitas yang kurang terpuji sedang melanda dalam diri para pelajar/mahasiswa. Jika kita renungkan maka kita boleh bertanya mengapa gejala sosial tersebut bisa terjadi? Dengan tidak mengabaikan peran pendidikan yang tengah membentuk moralitas para pelajar/ mahasiswa (peserta didik), tidak berlebihan kalau kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa, secara psikologis ruang hati dan perasaan para peserta didik sedang mengalami krisis kasih sayang. Kasih sayang sebagai basis pendidikan sedang tidak mengalir dan meresapi relung hati mereka. Mereka sedang mengekspresikan diri sebagai generasi yang kurang kasih sayang.

Tentu tidak menafikkan semua usaha yang sudah, sedang, maupun yang akan kita lakukan untuk membentuk moralitas para peserta didik. Mari kita coba untuk jedah dan bercermin pada komitmen kita bersama. Sudahkah saya (pendidik) menjadi bagian dari hati dan perasaan para anak didikku? Sudahkah saya mengalirkan kasih sayang dan cinta yang tulus sebagai seni dalam mendidik dan mengajar bagi mereka? Pertanyaan tetap mengalir bagai samudra luas, ketika kita sengaja untuk mengabaikan pedagogi kasih sayang pada anak didik kita. Ketika mereka mengalami kekeringan embun kasih sayang yang mengalir dalam nurani, maka akan menyulut mereka untuk tetap beraksi anarkis. Coba kita renungkan bersama. Semoga bermanfaat.

Foto: sayidaty.net

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Stephanie Pangestu Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Stephanie Pangestu
Guest
Stephanie Pangestu

Kasih sayang dan nurani guru tercermin pada kepeduliannya bahwa anak didiknya mendapatkan apa yang memang menjadi hak mereka. Beberapa waktu yang lalu kita disuguhi beberapa berita tentang siswa yang bunuh diri dengan berbagai alasan. Yang saya tangkap dari beberapa kasus bunuh diri itu (apapun alasan yang tampak di permukaan), pada dasarnya bermula dari perasaan tidak di sayang dan dipedulikan, baik itu oleh ortu di rumah maupun guru di sekolah. Pemberian kasih sayang dan perhatian merupakan tanggung jawab utama ortu di rumah. Tapi, walau ortu abai, jika anak masih bisa bertemu guru yg peduli di sekolah, maka dia masih bisa memperoleh… Read more »